Posted by : Alamin Rayyiis Kamis, 16 Februari 2012


Kali ini kita akan membuka beberapa lembaran buku tafsir, khususnya Tafsir al-Jami' li Ahkamil Quran – Imam Qurthubi dan Tafsir al-Quranil 'Adhim – Ibnu Katsir, sebenarnya ada koleksi buku tafsir lain yang saya miliki, Ahkamul Quran – Abu Bakr Ibnul Araby, bukan Muhyiyuddin Ibn Araby, -untuk membedakan keduanya biasanya para ulama dan penulis sebelumnya menggunakan alif lam di Araby untuk yang pertama dan menghilangkannya untuk yang kedua-. Akan tetapi karena tafsir Ahkamul Quran – Ibnul Araby merupakan tafsir dengan corak fikih, khususnya Fikih Hanafy, maka beberapa pembahasan yang tidak berkaitan dengan fikih tidak beliau bahas dalam tafsir tersebut, oleh karena itu beberapa surat yang berkenaan dengan keimanan (kiamat, ba'ts, maut dll.) tidak ditemukan dalam buku beliau, termasuk surat al-Hâqqah.

Sekalipun kita nanti langsung loncat di ayat ke 13-37 ada baiknya bila kita sedikit berkenalan dengan alasan dan sebab kenapa rentetan ayat di surat tersebut dinamakan dengan al-Haqqah. Secara umum arti dan maksud dari nama tersebut adalah Hari Kiamat, dengan kata lain al-Haqqah adalah salah satu dari beberapa penamaan hari kiamat, karena selain di atas masih banyak lagi nama-nama lain untuk hari kiamat; yaumudin, alwaqi'ah, yaumul furqan Dll.


Sedangkan alasan kenapa dikatakan demikian –al-Haqqah- adalah karena segala perkara di dunia bakal dibenarkan/dibuktikan ketika hari itu. Atau, dikatakan al-Haqqah karena sama sekali tidak ada keraguan tentang terjadiniya hari tersebut/kiamat, ada juga yang mengatakan karena di hari itu adalah hari dimana ditetapkannya manusia tentang siapa saja yang menghuni surga dan neraka. Qaul lain yaitu, hari dimana seluruh amal perbuatan manusia akan ditetapkan imbalannya, baik ataupun buruk. Di dalam Shohhâh disebutkan bahwa Haqqah berarti Khashimah/perseteruan dan persengketaan, karena hari itu adalah hari dimana masing-masing golongan bersengketa tentang kebenaran-kebenaran yang ia yakini ketika dihadapkan di pengadilan akbar di hadapan Allah, pendapat terakhir ini menurut saya ada benarnya mengingat beberapa ayat ke depan akan kita temui 2  golongan penerima buku catatan amal, diterangkan pula bahwa ketika itu golongan yang menerima catatan amal di tangan kiri merasa kalah dengan alasan-alasan yang mereka ajukan; halaka 'anni sulthoniyah.

Ayat 13= Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup.
--- fa idza nufikho fis shuri nafkhatun wahidah. Di ayat ini kita akan fokus di kalimat nafkhah yang berarti sangkakala. Seperti yang kita ketahui di hari kiamat nanti, seluruh makhluk hidup akan dimatikan, untuk kemudian dihidupkan kembali. Para mufasir berselisih pendapat tentang berapa tiupan sangkakala di ayat tersebut. Ada yang mengatakan ayat tersebut adalah sangkakala pertama atau tiupan dimana seluruh makhlu khidup akan dimatikan, ada juga yang berpendapat sebaliknya yaitu ketika seluruh makhluk hidup dihidupkan kembali untuk memasuki alam akhirat. Ada juga yang mengatakan bahwa sangkakala hanya akan ditiup sekali untuk rentetan kejadian di atas, dihidupkan dan dimatikannya makhluk Allah. Di tafsir Ibnu Katsir akan kita temukan bahwa beliau lebih condong dengan pendapat terakhir, atau yang mengatakan tiupan sangkakala hanya sekali saja, pendapat tersebut didasarkan dengan nafkhatun wahidah.
Ayat 14= Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.

---wa khumilatil ardhu wal jibâlu fa dukkatâ dakkatan wâhidah. Imam Qurthubi di ayat ini lebih banyak membicarakan dari segi grammatical/nahwu-shorf. Fokus kita di ayat ini adalah humilat, para qari' pada umumnya membaca tanpa tasydid huruf mim حُمِلَت (khuMilat), berbeda dengan bacaan Abdul Hamid dari Ibnu Amr yang mentasydidkannya (khuMMilat).

Ayat 15-16= 15. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, 16. Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.

---Setelah beberapa chaos dan kejadian mematikan seperti di atas, terjadilah hari kiamat. Kemudian langit terbelah, terbelahnya langit bisa disebabkan karena langit pada waktu itu menjadi lemah, bisa juga karena tatkala itu para malaikat turun menembus langit, seperti yang disinggung di ayat setelahnya.

Ayat 17= Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.

---Menurut Ibnu Abbas, para malaikat ketika itu tersebar di penjuru/tepian langit, karena langit bagian tengah yang merupakan tempat mereka terbelah. Berbeda dengan sebelumnya, Sa'id bin Jabir berpendapat bahwa ketika itu setelah turunnya mereka dari langit, malaikat mengelilingi tepian bumi untuk menjaganya. Ada juga yang mengatakan arjâ di sini sebagai menunggu/harapan, sehingga para malaikat menunggu perintah Allah untuk memasukkan manusia ke neraka atau surga. Pendapat terakhir sepertinya agak lemah karena, asal kalimat tersebut tadi berarti ujung atau tepi.
Yang menarik dari ayat tersebut adalah perbincangan masalah 8 malaikat. Berbagai pendapat mengatakan bahwa 8 tersebut bermaksud 8 malaikat, 8 golongan malaikat, 8000 malaikat, 8 malaikat karubiyyun atau malaikat elite yang selalu mendekatkan kepada Allah, kalimat tersebut berasal dari كرب yang berarti قرب. Terlepas dari itu, bilangan 8 sendiri pernah disinggung dalam hadits Rasul yang menerangkan bahwa di hari-hari seperti ini hari-hari biasa, arsy Allah dijunjung oleh 4 malaikat, sedangkan ketika hari kiamat nanti 4 malaikat tersebut ditambah dengan 4 lagi. Mengenai arsy yang dimaksud ada yang mengatakan arsy adhim atau arsy yang selama ini Allah ber-istiwa', ada juga yang memaknai bahwa arsy yang dimaksud ketika hari kiamat adalah arsy dunya.
Ayat 18= Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).

--- Selain pemaknaan tersebut di atas, sebagian pendapat memahami bahwa ketika hari kiamat nanti manusia dikumpulkan di padang mahsyar dalam keadaan tidak tertutup, hal itu ditekankan dengan hadits Rasul yang berbunyi يحشر الناس جفاة عراة.

Ayat 19= Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini)." Ayat 20= Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Ayat 21= Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, Ayat 22= Dalam syurga yang tinggi, Ayat 23= Buah-buahannya dekat,  Ayat 24= (kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu." Ayat 25= Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Ayat 26= Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Ayat 27= Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Ayat 28= Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Ayat 29= Telah hilang kekuasaanku daripadaku." Ayat 30= (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Ayat 31= Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Ayat 32= Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Ayat 33= Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Ayat 34= Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Ayat 35= Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Ayat 36= Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Ayat 37= Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.

--- Secara garis besar ayat 19-37 menceritakan kronologi dari dua golongan penerima buku/catatan amal perbuatan ketika di dunia. Golongan kanan dan kiri, dimana golongan kanan merupakan perwakilan calon penghuni surga, sebaliknya, golongan kiri merupakan perwakilan calon penghuni neraka. Ada cerita/dialog menarik di barisan kanan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa orang yang pertama kali diberikan catatan amalnya ada Umar bin Khathab ra. dimana pada beliau sebuah cahaya seperti cahaya matahari, para sahabat kemudian bertanya, lantas kapan Abu Bakar menerimanya? Beliau menjawab bahwa Abu Bakar ra. langsung dilesatkan oleh para malaikat ke surga.
Diriwayatkan bahwa di dalam setiap golongan nanti mempunyai salah seorang pentolan yang pertama kali menerima catatan amal, orang tersebut mendapat catatan amal yang terekam dalam buku putih bertinta putih, terdiri dari beberapa cataan amalan jelek di bagian dalam, sekaligus catatan amalan kebaikan di bagian luar. Orang tersebut memulai bacaannya dari catatan jeleknya sehingga tampak di mukanya perasaan kecewa, hingga di akhir catatan kejelekan tersebut ia mendapatkan bagian "ini adalah amalan-amalan burukmu, tapi sudah terampuni untukmu", hingga tampak di raut mukanya kegembiraan. Kemudian ia melanjutkan membaca catatan kebaikan, semakin bahagialah ia, hingga akhir catata ia menemui barisan yang berbunyi "ini adalah amaln-amalan baikmu, dan telah dilipatgandakan pahalanya untukmu". Setelah itu orang tersebut yang merupakan pentolan di barisannya disuruh untuk memberi kabar gembira ke golongan yang bersamanya tentang apa yang ia dapatkan dari ampunan dan pelipatan pahala, hâ umuqraû kitabiyah, ambillah bacalah kitabku ini.

Hal seperti di atas juga berlaku untuk setiap pentolan dari golongan kiri, dengan ketentuan-ketentuan yang berbalik dari pertama.
Di penafsiran ayat di atas juga bisa diambil beberapa kaidah dalam ilmu kalam, yaitu konsep tasawy a'mâl, muwazanah dan ihbâth. Tasawy, adalah keadaan dimana seorang muslim mempunyai catatan amal yang sama antara kebaikannya dan keburukannya. Sedangkan Muwazanah adalah keadaan dimana seorang muslim yang catatan kebaikannya dilipatgandakan dan keburukannya diampuni, sehingga orang tersebut lolos dari hisab api neraka dan langsung dimasukkan di surga. Sedangkan Ihbath adalah sebaliknya, keadaan seorang muslim yang amalan-amalan kebaikannya tidak diterima oleh Allah yang menyebabkan amalan keburukannya lebih berat dalam timbangan, sehingga dia mendapatkan hisab di api neraka sekalipun tidak abadi di dalamnya.
Hal lain yang merupakan kaidah dalam ilmu kalam adalah, bahwa seorang manusia bisa memasuki surga tidak mutlak karena amalannya tapi karena rahmat dan fadhilah dari Allah, hal tersebut juga ditegaskan secara jelas di tafsir Ibnu Katsir. Diriwayatkan juga bahwa sekaliber rasul pun masuknya beliau ke surga bukan karena amalan-amalan beliau yang bila dibanding dengan seluruh manusia di muka bumi niscaya tidak ada seorang pun yang menandingi frekuensi dan kekhusyuan amal ibadahnya, namun begitu, yang menjadi faktor utama beliau masuk surga adalah rahmat Allah, disebutkan juga dalam bahasa arab bahwa دخول أهل الجنة الجنة رحمة من الله, و دخول أهل النار النار عدلا من الله, masuknya ahli surga di surga karena rahmat Allah, sedangkan masuknya ahli neraka di neraka karena keadilan Allah (atas apa yang telah mereka perbuat). Terlepas dari itu, kita juga tidak bisa memungkiri pentingnya amal dalam konsep keimanan, sekalipun golongan asy'ariyah hanya mematok keimanan pada kepercayaan, tapi amal merupakan faktor dari 'kesempurnaan iman', dan berapa banyak kita temukan kata-kata iman dalam al-Quran sering dipadukan dengan kata-kata amal sholeh, sekalipun di beberapa tempat lainnya kedua term tersebut juga berdiri sendiri.
Innî dhonantu annî mulâqin hisâbiyah. Dhon oleh kita biasa dimaknai sebagai prasangka atau dalam prosentasenya berbentuk 70 yakin – 30 ragu, di atas syakk dan wahm-ظن -  شك -  وهم. Ibnu Abbas dan lainnya mengartikan kalimat di atas dengan keyakinan dan pengetahuan. Menurut Dhohak kata-kata dhon di dalam al-Quran bagi seorang mukmin berarti keyakinan, sedangkan dari orang kafir berarti perkiraan/syakk, sedangkan Mujahid berpendapat bahwa dhon di dunia merupakan syakk sedangkan dhon  di akhirat merupakan yaqîn

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -