Posted by : Alamin Rayyiis Sabtu, 04 Juni 2011

Ahlu Sunah wal Jama’ah adalah istilah yang muncul untuk menunjukan siapa saja yang berada di atas manhaj Salafus Solih dengan berpegang teguh pada al-Quran, Sunnah, dan atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw. dan para Sahabat Ra. agar bisa dibedakan dan terpisah dari madzhab bid’ah dan sahwat. Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata dalam bukunya al-Ghunyah li Thalibil Haqq; Sunnah adalah apa yang ditradisikan oleh Rasullah Saw. dan para jama’ah dari para sahabat yang sepakat atas apa saja yang ada pada masa Khulafaur Rasyidin. Syaikh Abul Fadhl bin Abdus Syakur dalam bukunya al-Kawakib al-Lamma’ah; Ahlu Sunah wal Jama’ah adalah yang senantiasa berada pada tradisi Nabi dan jalan para sahabat dalam akidah, ritual keagamaan dan akhlaq dalam batin.

Rasul Saw. bersabda; Telah terpecah orang Yahudi menjadi 71 atau 72 golongan, demikian pula orang Nashrani, dan telah terpecah umatku menjadi 73 golongan, dikeluarkan oleh Tirmidzi. Dan di Riwayat lain ada tambahan; Semuanya di neraka kecuali satu milah saja, mereka para sahabat berkata, siapakah mereka ya Rasulullah? Rasul pun menjawab; Mereka adalah yang berpegang pada apa yang ada padaku dan para sahabatku. Imam Manawi dalam Faidhul Qadir berkata; berkata Zain alIraqi dalam sanadnya orang-orang yang jayyid, dan Hakim meriwayatkannya dari berbagai thuruq kemudian berkata sanad-sanad ini berlaku dengannya sebuah hujjah, dan mengitungnya sebagai derajat mutawatir. Imam Baghdadi dalam bukunya al-Farqu baynal Firaq berkata; Hadits yang membicarakan tentang perpecahan umat mempunyai sanad yang banyak, dan telah diriwayatkan dari Nabi golongan dari para sahabat seperti; Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Darda’, Jabir, Abu Sa’id al-Khudry, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Amru bin Ash, Abu Umamah, Watsilah bin Asqa’ dan lainnya.

Para ulama berbeda pemahaman dalam hadits tersebut, sebagian memahami pembatasan golongan islam yang terpecah seperti jumlah angka yang tersebut, sedang sebagian lain memahami bahwa hadits ini sekedar mengisaratkan sebuah jumlah yang banyak dan tidak menunjuk ke angka yang tersebut, karena golongan yang ada sampai sekarang adalah lebih banyak dari angka yang terdapat dalam nash.
Dan terlepas dari itu, Ustadz Isfirayini dan Imam Baghdadi memahami bahwa golongan yang berpecah semuanya masuk neraka dan kafir kecuali jama’ah yang selamat. Sedangkan Imam Abul Hasan al-Asy’ari, Asya’irah, Imam Syafi’I, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan Fuqaha’ memahaminya tanpa pengkafiran atas golongan yang berpecah.

Imam Asy’ari berkata; Manusia berselisih setelah meninggalnya Nabi Saw. pada banyak hal, dan jadilah mereka golongan yang berjauh-jauhan, hanya saja Islam masih mencakup golongan-golongan tersebut. Imam Fakhrur Razi berkata; pemahaman yang kami pilih menurut kami adalah bahwa, orang yang masih ‘menghadap kiblat’ tidak boleh ditakfirkan kecuali dengan dalil rinci, lebih dari itu, perkara-perkara yang menyebabkan pengkafiran belum diketahui pada masa Rasul, dan bila perkara-perakara tersebut termasuk sarat dalam keimanan niscaya Rasul akan menyebutkannya berkaitan dengan hadits diatas. Dan dari hal tersebut para ulama’ berselisih pendapat masalah pengkafiran.

Dan kekufuran dalam syari’at islam berarti pendustaan Nabi atas apa yang dating dari Allah Swt. Dan kekufuran ini sendiri mencakup 6 kategori; al-Munafik (al-Akbar), Murtad, Musyrik (al-Akbar), Ahli Kitab, Atheis, Zindiq. Kesemuanya itu masuk dalam kekufuran I’tiqady (al-Akbar).

Dr. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki menyebutkan perkataan dari Imam Sayid Ahmad MAsyhur al-Haddad; Telah menjadi ijma’ dan kesepaktan untuk tidak mengkafirkan seorang dari Ahli Kiblat kecuali ketika menafikan Sang Pencipta yang Maha Mempunyai Kemampuan, atau kesyirikan yang terang yang tidak memungkinkan ta’wil, atau mengingkari kenabian, atau mengingkari apa yang diketahui dari agama secara dhorurah, atau mengingkari hal mutawatir atau hal yang diijma’kan dalam agama secara dhorurah.

Dan yang diketahui dalam agama secara dhorurah seperti; tauhid, kenabian, pengakuan Nabi Muhammad sebagai utusan pamungkas, hari kebangkitan di hari kiamat, hisab, jaza’, surga dan neraka maka, kesemua yang mengingkari hal diatas adalah kafir. Dan tidak ada kemakluman bagi seorang muslim yang tidak mengetahui perkara-perkara tersebut kecuali orang yang baru memeluk dalam Islam, maka dia dimaklumi sampai dia belajar mengetahuinya hingga tidak dimaklumi setelahnya. Dan menghukumi seseorang dengan kekafiran di selain tempat yang sudah disebutkan diatas adalah hal yang sangat riskan dan berbahaya, dalam hadits disebutkan; Jika berkata seorang kepada saudaranya “Wahai kau yang kafir…” maka sesungguhnya yang seperti itu akan membalik ke salah satu darinya. Diriwayatkan Bukhari dari Abu Hurairah.

Kebanyakan manusia salah –semoga Allah mengislahnya- dalam memahami hakikat dan sebab yang mengeluarkan seseorang dari daerah ke-Islam-an hingga implikasinya ke penghukuman kafir, maka kita lihat mereka dengan buru-buru mengkafirkan seorang muslim hanya dengan perselisihan pendapat darinya sehingga, tidak tersisa di atas bumi ini seorang muslim kecuali sangat sedikit sekali. Jika kau melihat seorang muslim yang mendirikan sholat, mengerjakan kewajiban Allah, menjauhi larangan-larangan Allah dan menyebarkan dakwah Allah, memakmurkan masjid-Nya, dan menepati janji-janjinya, jika kau mendebatnya ke suatu permasalahan yang menurut anda adalah suatu kebenaran sedangkan dia berbeda dalam pendapat tersebut, terlebih bila ulama dahulu ada yang menetapkan pendapat anda dan ada yang mengingkarinya, dan orang yang seperti itu tidak menurut dengan pendapatmu kemudian anda katakana kepadanya dengan sebutan kafir hanya karena berselisih pendapat denganmu, maka sesungguhnya anda telah mendekatkan diri kepada kemungkaran yang sangat besar.

Karena tidak boleh seseorang mengumbar predikat kafir kecuali orang yang benar-benar tahu tentang seluk beluk perkara kekufuran, tentang apa yang menjadikan pemisah antara keimanan dan kekufuran dalam timbangan syari’at yang suci. Maka tidak boleh bagi manusia siapa saja tergesa-gesa menyimpulkan dalam ranah pengkafiran dengan prasangka dan dugaan tanpa penelitian yang detail dan meyakinkan, dan tanpa keilmuan yang matang, maka bisa dipastikan jalannya hasil dan pernyataan yang ada sangat riskan hingga tidak lagi tersisa seorang muslim di dunia ini kecuali hanya sedikit. Begitu juga tidak boleh dikafirkan orang yang berbuat maksiat sedangkan dalam dirinya masih ada keimanan dan ikrar syahadat.

Dalam hadits dari Anas Ra. berkata Rasulullah Saw. “Tidak tanda orang yang masih mempunyai asas keimanan; berhenti dari segala perkara orang yang ikrar dengan Tiada Tuhan Selain Allah, tidak mengkafirkannya dengan perbuata dosa dan tidak pula kita keluarkan dari Islam karena mengerjakan perbuatan yang dilarang, dan jihad terus berlanjut sejak diutusnya Aku oleh Allah hingga akhir umatku berperang melawan Dajal dimana jihad tersebut tidak bisa dibatalkan oleh penguasa dholim dan tidak pula penguasa adil, iman kepada takdir (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Imam Haramain berkata: bila seseorang meminta kita untuk merinci apa yang menyebabkan dan apa yang tidak menyebabkan kepada kekafiran, maka sesungguhnya hal itu ketamakan yang tidak seharusnya, Karena sesungguhnya hal ini sanagat jauh untuk diketahui, sulit ditempuh dan membutuhkan sandaran asas-asas tauhid, dan bagaimana seseorang akan mencapai garis finish sebuah hakikat, sedangkan orang tersebur belum mempunyai dalil dan dokumentasi yang cukup dalam perkara kekufuran ini.
Oleh sebab di atas, kami sangat menghimbau dengan sangat untuk tidak terburu-buru dan tergesa-gesa dalam memfonis kekufuran dalam hal-hal yang menyangkut akidah selain yang sudah kami sebutkan sebelumnya, karena hal yang demikian sangat riskan dan semoga Allah membimbing kita ke ajalan yang lurus dan kepadaNyalah kita kembali.

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. sayangnya karena rasa "PALING BENAR SENDIRI", umat muslim sekarang sangat mudah untuk menuduh orang lain....

    Insya Allah, Allah akan selalu memberi hidayah...
    =D

    BalasHapus

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -