Posted by : Alamin Rayyiis Minggu, 26 Juni 2011

Flashback tahun 90-an. Tahun-tahun tersebut bisa im sebut sebagai tahun pertumbuhan pas im anak-anak. Im dilahirkan tahun 88, kelar dari SD tahun 2000, bisa diperkirakan masa 12 tahun im tumbuh adalah di kisaran tahun 90-an, masa-masa kindergarten SD Papringan II. Dalam kisaran tahun tersebut yang sempat terekam oleh im adalah periode dimana desa im masih masuk kategori Impres Desa Tertinggal. Entah apa artinya, tapi menurutku masih ada kaitannya dengan program-program pembangunan Pak Suharto. Di tahun seperti itu, jalanan desa belum diaspal, masih beralas tanah liat yang berlobang, bila hujan turun genangan airnya biasa kita gunakan cermin untuk mengaca seberapa gantengkah im ketika pergi ke sekolah J. Di akhir tahun 90-an pula im sempat merasakan PMTAS; Program Makanan Tambahan Anak Sekolah.

Televisi juga masih sangat jarang, untuk menonton Power Rangers, Baja Hitam, Ninja Jiraiya, Mobil yang bisa bicara atau seabrek jagoan lainnya –eits, jangan lupain Wiro Sableng dan Si Gua Dari Gua Hantu- harus hijrah dari RT satu ke lainnya. Untuk saluran telepon rumah juga belum ada, sampai sekarang malah. Benar-benar Desa Tertinggal bila im refleksikan dengan cerita teman-teman dari kota lain ketika im hijrah ke pondok, secara disana ketemu banyak orang dengan banyak background geografis ataupun, mental.

Dengan gambaran seperti diatas bisa dipastikan rata-rata pekerjaan harian warga desa im adalah petani. Kalaupun ada yang bertitel peternak bisa dipastikan ternak hewan kaki empat mereka tidak lebih dari hitungan jari, im katakan 'hewan berkaki empat' so pasti karena ada peternak bebek yang bisa jadi jumlah mereka puluhan hingga ratusan. Im masih ingat cerita bapak tentang kakek yang dulunya juga juragan hewan ternak di kampung, bahkan pernah kami (kata ganti 'kami' sebenarnya ga pantas buat im, secara im belum lahir) memiliki kuda, hewan yang sampai saat ini im kagumin, dulu bapak pernah jatuh dari kuda hingga kepalanya botak. Bila im punya bakat arkeologi hewan purba mungkin tulang-belulangnya masih bisa im temukan di sekitar kebun kami.

Kebun? Ya kita juga biasa berkebun, hanya saja, hasilnya lebih sering kami konsumsi sendiri. Tanaman palawija yang sering ditanam adalah jagung, ketela rambat/telo, ketela pohon/pohong, kacang rambat, kacang tanah dll. Pepohonan yang ditanam biasanya pohon ace, rambutan, mangga dengan berbagai macam variannya, pepaya, sawo, pisang dll.

Kehidupan petani sangat im rasakan, Nenek bertani, Bapak secara beliau dulunya menjabat Kepala Desa (2 periode maximal maan, pemimpin bijak favorit yang kami segani) juga bertani dengan sawah yang dijatah oleh pemerintah. Ingatan im masih jelas banget tentang sawah Nenek, Pengkrukan, sawah yang terletak di bagian atas lekukan sungai Nglengkong dan Pusung yang menjepitnya, oleh guru IPS SD tanah tersebut dijadikan contoh tanah Delta J. Sawah Bapak disebut Bengkok, im kurang ingat luasnya berapa hektar, yang jelas terbagi dua; di sebelah barat Sungai Jambe dan daerah di dusun lain, Kaporan, dusun paling timur dari daerah amanah Bapak selama menjabat Kades.

Listrik? Sejak im lahir alhamdulillah im udah bisa mengenal lampu neon. Air? Nah kalau yang satu ini sepertinya im harus ngenalin yang namanya PAM (Pusat Air Mineral may be). PAM adalah program terbaru Desa Tertinggal kami, program air bersih yang disalurkan dari umbul Tlatar. Biasanya untuk kebutuhan minum dan masak, air yang kami peroleh berasal dari sumur atau sungai. Urusan MCK biasanya kami lakukan di kebun, sungai dan kalen, sungai kecil dengan lebar 1-1.5 meter untuk irigasi sawah. Seiring berjalannya waktu, kesterilan sumber air tersebut semakin berkurang, jadilah warga dusun kami memulai program PAM. Kebutuhan air untuk keluarga im sendiri berasal dari sumur, seingat im kami mempunyai galian sumur di tahun 1994. Beranjak beberapa tahun ke bulan, kami memiliki mesin pompa air dengan merek Sanyo, sehingga seluruh mesin air yang kami kenal, apa pun mereknya kami namakan Sanyo. Haha ndesooo !

Berbicara air di desa ga afdhal kalau ga berbicara sungai. Di daerah kami terdapat 4 sungai. Santai, jangan gegabah, 4 sungai tersebut sebenarnya satu aliran, hanya saja berkelok-kelok seperti ular, persis gambaran sungai di film Home – 2010, setiap belokan sekalipun panjangnya tidak mencapai ratusan meter sudah dilabeli dengan nama yang berbeda. Secara sungai yang mengaliri dusun kami, Kadirojo, terdapat 4 sungai; Jambe; disini terdapat air terjun, tingginya kira-kira 8-13 m, biasanya temen-temen lumban dan lompat dari atas, im pernah lho. Sungai ini pula yang menjadi saksi Bu Padmi (satu guru lagi lupa namanya beragama kristen, forgive me teacher), guru SD, atas kegigihan beliau mengajar kami,  karena setiap beliau berangkat sekolah bisa dipastikan menyeberangi sungai ini. Sekalipun tidak ada jembatan, sungai ini bisa diseberangi hanya dengan menyingsingkan sedikit kain penutup aurat, termasuk para aktivis Pasar Teguhan yang berasal dari Dul Kali juga menyeberangi sungai yang sama ketika hari pasaran tiba.

Sungai kedua adalah Dung Dowo; nama tersebut mencerminkan keadaan sungainya, Dung/ Kedung means genangan air dalam skala luas, Dowo artinya panjang. Karena memang sungainya lurus memanjang, tenang dan terlihat beda dengan sungai lainnya. Biasanya digunakan sebagai tempat favorit memancing karena airnya yang tenang dan lebih mirip waduk air.
 
Sungai ketiga Nglengkong; sungai ini pas sekali di bawah sawah Simbah/ Nenek im, Pengkrukan. Sungai ini memiliki 2 bagian yang dalam yang biasanya dijadikan lumban temen-temen. Bagian terdalam biasanya untuk temen-temen dewasa, disana ada mini air terjun yang merupakan tempat pembuangan akhir aliran irigasi sawah-sawah sekitar pengkrukan, tempat ini juga biasa buat mancing. Bagian yang agak bawah biasanya im gunakan pas kecil untuk mandi disana bareng temen-temen, yang membuatnya lebih menarik adalah pohon @#$#%$, im lupa, yang jelas buahnya bila direbus bisa dimakan, dan termasuk langka, jarang-jarang pohon mempunyai kepingan buah yang bisa direbus. Hal menarik lainnya adalah tempat ini biasa kami jadikan sebagai pusat PAM-PAM-an. Disini kami membuat saluran air yang terbuat dari bambu tulip yang tumbuh tidak jauh dari tempat kami lumban. Salurannya menarik, lumayan memancing daya kreatifitas im dan teman-teman masa kecil.

Sungai terakhir adalah Pusung, sungai paling familiar di dusun kami. Sungai ini juga mempunyai air terjun mini seperti kebanyakan sungai-sungai lainnya, bedanya, di sungai ini air terjunnya sering membentuk pelangi lantaran di daerah lebih terbuka dengan matahari. Di sungai ini juga ada hamparan pasir, sekalipun tidak luas tapi bisa menciptakan gambaran pantai lantaran terletak dipinggir bagian dalam sungai yang bergelombang mirip ombak efek dari air terjun mini. Disamping pasir, ada juga batu kerikil kecil untuk bangunan, kedua materi mineral ini dimanfaatkan oleh warga kami untuk dibisniskan, sekalipun dalam skala menengah ke bawah. Hal familiar lainnya adalah struktur sungai dengan kedalaman standar, tua, muda, perempuan dan lelaki bisa memanfaatkan sungai ini –sungai pertama juga mempunyai kefamiliaran yang sama -. Mandi, nyuci baju, nyuci hewan ternak dan lainnya bisa ditampung di Sungai Pusung. Secara tempat dan waktu, naluri lugu desa kami membaginya untuk tidak bercampur antara perempuan dan lelaki.

Tahun 90-an, adalah tahun dimana Orde Baru berkuasa, Golkar mengakar kuat di desa kami. Halah ga nyambung, ga ngomongin ini ah. Kita akan berkenalan dengan corak perumahan dusun im. Rata-rata (atau malah semuanya) rumah kami terbuat dari gedek, 'e' pertama dibaca seperti 'belalang', 'e' kedua dibaca seperti 'enak'. Gedek adalah anyaman terbuat dari bambu, rumah kami biasanya juga dimodifikasi dengan papan/ triplek. Seperti pelajaran IPS, rumah kami masih mempunyai nuansa rumah khas Jawa, kami memiliki pendopo dan tanah lapang di depan rumah. Untuk pengerjaan rumah, adat kami masih berasaskan gotong royong, memasang reng, mendirikan dinding, memasang genteng dll. Di saat inilah makanan khas disajikan oleh ibu-ibu jawa kami yang santun dan ramah. Gemblong, jenang sumsum, apem, jadah, nasi ketan, atau makanan lainnya.

 Listrik, air, media informasi, rumah, mata pencaharian, jalan, sungai? Semuanya sudah im terangkan.

Agama atau tradisi? Ok, kehidupan bermasyarakat. Im katakan demikian karena hal yang paling gampang dilacak di komunitas masyarakat yang religius seperti desa kami adalah agama. Tahun 90-an sebagian masyarakat kami memang sudah mengenal Islam, KTP mereka bisa dipastikan Islam semua. Hanya saja bila memakai sudut pandang yang lebih tajam Islamnya masyarakat desa kami masih bisa dibagi-bagi menjadi Islam kejawen, sekte Sapta Dharma, Islam KTP, dan Islam Sunni, hehehe. Ada juga satu keluarga yang kata banyak orang dulunya dia Komunis. Sering ketika kami menjumpainya membawa arit sambil menyunggi karung di atas kepalanya, coba tebak bawa apa dia……. hehe, dia habis merumput Gan, coz punya hewan ternak 3 sapi.

Di tahun seperti itu, masyarakat kami masih sering memberikan sesajen di sawah untuk kesuburan tanaman padi. Seingat im, sesaji yang diberikan tidak sesakral dan se-mistis bayangan kita di film-film horor. Sesajen sawah masyarakat im lebih seperti bancaan atau bagi-bagi makanan, hanya saja tempatnya di sawah untuk Dewi @#$%^%&. So, biasanya kami diizinkan untuk mengambil makanan tersebut dan memakannya.

Randu Alas, pohon Randu besar menjulang tinggi dan sudah sangat berumur ikut mewarnai dinamika kesyirikan dusun kami, sesekali ditemukan sesajen, nah untuk yang ini ga ada yang berani ngambil Gan, pohonnya emang angker, kata orang, dan kata Nenek, secara dia pernah dikencingi genderuwo… hurrrarrrraaahhhahahah….. Mitos bego' yang sempat kami dengar tentang pohon keramat ini adalah, jika pohon ini ditebang dan roboh maka wilayah kami akan menjelma menjadi segoro atau lautan air. Bahkan, ketika proyek pengaspalan, khusus jalan ini tidak menerima perluasan seperti jalan lainnya gara-gara masyarakat im tidak setuju untuk ditebang. Hmmmm, im pribadi sebenarnya nggak setuju juga bila pohon ini ditebang, bukan karena takut jadi segoro melainkan lebih karena pohon tersebut seperti icon khusus daerah kami, pohon klasik, turats J. 

Praktek keagamaan lainnya adalah yasinan, sebenarnya kami tidak mengenal pengotakan NU ataupun MU (Muhammadiyah). Hanya saja tradisi seperti itu sudah mengakar luas di daerah im, 100 hari meninggal, 1000 hari ataupun perayaan lainnya, im lebih mengira sebagai bekas tradisi Hindhu yang mengajarkan perayaan sekian hari meninggalnya seseorang. Untunglah sekarang hal itu sudah agak terkurangi. Sejak lahir, Babe im sudah menjadi Kades sekaligus juru dakwah di kampung, sendirian, sesekali ada jama'ah tabligh yang 'nyasar' di kampung im, welcome !. Dakwah sekarang sudah lebih berkembang, kajian rutin pekanan dihelat oleh Asatidz dari Solo beraliran salaf dan temen-temen pondok al-Irsyad Tengaran yang beraliran, sama. Sorry to say like that, actually I don’t agree about ummah dicotomic, together w are BIG !  

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -