Posted by : Alamin Rayyiis Kamis, 16 Juni 2011


Karl Marx mengibaratkan agama sebagai candu masyarakat, agama baginya tak ubahnya sebagai syisya, bingo, atau pil koplo. Nietzsche menantang Tuhan seluruh agama dengan mendeklarasikan 'kematian' Nya. Kitab suci Taurat dan Injil berubah menjadi hikayat porno, begitu pula Quran, banyak orang menuduhnya sebagai dongeng belaka. Kafir Quraisy menganggap Nabi Pamungkas Muhammad Saw. sebagai manusia gila. Dan setelah itu, tidak lepas pula tuduhan-tuduhan lain yang dialamatkan ke elemen-elemen dasar agama Islam.

Sahabat sebagai generasi awal penerus ajaran suci Islam tak luput dari tuduhan-tuduhan tersebut. System sanad yang menjadi tonggak estafet pun menjadi celah. Kaum orientalis atau bahkan pemikir
muslim ngawur pun tidak henti-hentinya memberikan hujatan. Sanad dalam Islam memiliki peran yang sangat penting. Dengannya jejak sejarah terekam, lebih-lebih keotentikan Quran dan qubul-nya sunnah nabawiyah. Intinya, ketika mereka bisa meruntuhkan metode sanad, maka mereka bisa saja menggulirkan wacana baru desakralisasi al-Quran atau Sunnah, sekalipun itu mutawatir. Dan, salah satu cara untuk mencapai tujuan itu adalah generalisasi tajrih
terhadap para sahabat yang udul.



Hal itu dianggap oleh mereka sangat mudah, karena sahabat adalah manusia seperti kita, selama mereka manusia selama itu pula tidak bisa dilepaskan dari kesalahan dan kealpaan. Terlebih lagi, teori konspirasi ternyata sudah dikenal sejak lama, dan sukses. Beberapa catatan sejarah menyebutkan pemberontakan terhadap khalifah yang sah Utsman Bin Affan Ra., dilanjutkan dengan perang Jamal Aisyah Ra. dengan Ali Bin Abi Thalib yang juga menantunya dari garis Khadijah Ra. Tidak cukup sampai di situ, perang saudara antar sahabat jilid berikutnya pun terjadi antara Ali Ra. dengan Muawiyah Ra., perang Shiffin. Beranjak dari skala massif, kesalahan (baca: kesalahpahaman) antar sahabat menjadikan celah untuk memutus rantai sanad yang sudah mapan, mengoyak mata rantai yang oleh kebanyakan orang, bahkan orientalis, mengakui ke'mukjizatan'-nya.

Dari hal itu pula akan banyak tuduhan lain muncul kepada sahabat atas nama individu. Mereka berbuat kesalahan ketika ber-jamaah saja bisa apa lagi ketika menilai sahabat dalam skala individu. Ibnu Mas'ud Ra. dianggap membangkang Utsman perihal kodifikasi al-Quran, Abu Hurairah Ra. dianggap tidak dhobt dalam meriwayatkan lantaran keterlambatan beliau masuk Islam, Amru Bin Ash pembuka tanah Mesir dijadikan icon shohaby culas lantaran mempecundangi Abu Musa al-Asy'ari yang lemah. Dan akan banyak lagi coretan-coretan yang, bila sedari dini tidak kita warnai dengan semestinya maka, jalan untuk desaklarisasi teks yang kita bicarakan lagi semakin terbuka lebar.

Mengurai jejak rekam sejarah memang harus mempunyai kapabilitas yang memadai, terlebih yang kita kaji adalah sejarah suatu dekade dengan kode khoiru al-qurûn. Mengingat gentingnya duduk perkara distorsi sejarah sahabat, maka sumber, riwayat dan kaidah yang kita gunakan pun harus berbeda ketika kita mengkaji sejarah lain yang tidak mempunyai cirri particular seperti mereka. Kajian sejarah mereka tidak bisa disandingkan dengan sejarah Rennaisance, Kapitalisme, atau kajian tokoh lainnya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -