Posted by : Alamin Rayyiis Rabu, 23 Maret 2011

Secara bahasa Hujurât adalah bentul plural dari Hujrah yang bila kita maknai dalam bahasa Melayu berarti kamar atau bilik. Berangkat dari tadabur, naluri luguku ketika itu langsung mengeja sebab kenapa surat ini dinamakan seperti itu, karena aneh rasanya sebuah surat dalam kitab suci yang menjadi mukjizat mempunyai nama Kamar/ Hujrah. Berbeda dengan nama surat lainnya yang lebih eye-catching layaknya, Lebah, Petir, Hipokrit, Besi dan lainnya. Hal itu tentunya dalam lingkup pemaknaan bahasa melayu, atau Indonesia khususnya.

Dimulai dari asbabu nuzul, terlebih dahulu kita harus tahu bahwa tidak semua surat dan tidak semua ayat dalam surat mempunyai sebab diturunkannya ayat al-Quran. Dan dalam surat ini sebab turunnya ayat yang saya dapatkan baru dua ayat.  Ayat pertama yang mengandung larangan mendahului Allah dan Rasulnya dalam menentukan suatu perkara. Asbabu nuzul ayat tersebut berkenaan dengan Abu Bakar dan Umar Ra. yang sedang berselisih pendapat dalam menentukan suatu perkara. Ayat selanjutnya atau kedua turun berkenaan dengan seorang A’rabiy, atau arab badui yang datang ke kediaman Rasulullah Saw. dan dengan serta merta memanggilnya dengan suara keras dan langsung memanggil nama beliau Muhammad tanpa mendahuluinya dengan Rasulullah ataupun Nabi, padahal ketika itu Rasul sedang di kamar istrinya.

Terlepas dari penamaan surat dalam al-Quran apakah dia Tauqifi atau hasil ijtihad
dari sahabat sesungguhnya penamaan surat ini dengan al-Hujurat sarat dengan makna dan illah tersendiri. Bila kita ringkas seluruh kandungan surat al-Hujurat maka yang kita temukan tidak terlepas dari etika, batasan, privasi dan interaksi. Sesuai dengan kamar, bagi kita ia adalah ruang khusus bagi pemiliknya, mempunyai batasan dengan ruang lain sekaligus membatasi interaksi apa saja yang boleh dan tidak boleh kita lakukan di ruang tersebut dan tempat dimana biasanya kita melakukan hal yang bersifat privasi.

Dimulai dari ayat pertama, menerangkan tentang legitimasi dan hak yudikasi, yaitu agar yang menjadi hakim tertinggi adalah Allah Swt. yang dikuasakan terhadap khalifah Allah, Nabi Muhammad Saw. Tidak berhenti sampai disitu, tapi juga harus menjalankan konsekwensi lain terhadap beliau. Sebagai panutan umat hendaknya atribut dan gelar beliau kita hormati, tidak memanggil utusan Tuhan dengan cara panggil yang kasar.

Dilanjutkan ayat kelima, perintah bagi kita agar selalu berhati-hati terhadap pemberitaan yang dibawa oleh orang fasiq, berhati-hati disini tidak selalu dimaknai menolak total dari yang bersangkutan, namun lebih ditekankan agar mengecek kebenaran berita tersebut. Hal ini sangat berkaitan erat dengan anugrah sistem sanad bagi kaum muslim, plus betapa bahayanya pemberitaan yang tidak diteliti terlebih dahulu, haditsul ifki dan fitnatul kubra menjadi peristiwa yang tidak pernah luput dari konteks ini.

Ayat kesembilan; Apabila antara kedua golongan orang mukmin saling berbunuhan maka damaikanlah. Saya pribadi menegaskan kemukjizatan Quran dengan ayat ini, waktu diturunkannya ayat yang bersangkutan bisa dipastikan bahwa zaman Rasul tidak didapatkan dua golongan mukmin yang berbunuhan, hal itu terjadi puluhan tahun setelah hijrah, tepatnya apa yang kita kenal dengan Peperangan Ahli Surga; Shifin, Mauqi’atul Jamal dan perebutan kekuasaan di dinasti-dinasti islam selanjutnya. Ayat selanjutnya pun dengan serta merta menegaskan bahwa perbedaan yang berimplikasi kepada perseteruan berdarah pun tetap tidak menafikan bahwa kita masih dalam bingkai ukhuwah imaniyyah.

Bila disederhanakan antara ayat kesembilan dan kesepuluh, maka seolah bermakna, sekalipun kalian berbunuhan tapi tetap ingatlah bahwa kalian bersaudara. Persis adigium pondok; nahnu kasyaf walakinna muslim, nahnu science walakinna muslim, nahnu duktur walakinna muslim, kesemua itu merujuk makna bahwa sekalipun kita mempunyai gerak yang berbeda, kedudukan yang berbeda tapi di akhirnya kita tetap harus mencerminkan kode inti,  keislaman dan keimanan. Dalam nasionalisme kita mengenal Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Aktuentasi inilah yang harus kita tekankan, bahwa awalan apapun harus kembali ke penekanan akhir, persatuan.

Di ayat sebelas surat ini mulai menyinggung interaksi antar satu kaum dengan yang lain, entah kaum dalam makna agama, ras, negara dll. Al-Quran tahu bahwa mukhatab ayat ini mempunyai siyaq untuk kaum muslim, banyak alasan –dan bahkan tersebut dalam quran sendiri- kenapa kaum muslim tidak diperkenankan mencemooh kaum non muslim. Salah satu illah larangan diatas tersebut di barisan ayat selanjutnya, bahwa bisa jadi kaum yang kita cemooh itu mempunyai ‘kebaikan’ atau ‘lebih baik’ dari yang lainnya. Sejurus kemudian, larangan mencemooh satu wanita dengan yang lainnya, selain illah yang sudah tersebut, kita juga tahu bahwa wanita adalah tiang suatu negara, simbol kehormatan, dan ibu pertiwi, semoga kita masih ingat tentang wanita muslimah yang diganggu kehormatannya di pasar oleh sekelompok pemuda Yahudi yang menyebabkan Rasul mengirimkan bala tentara kepada mereka.

Ayat keduabelas adalah perintah untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Sekilas hanya disinggung sebagian prasangka, namun yang dimaksud adalah buruk sangka, sedangkan baik sangka sangat dianjurkan untuk sesama muslim. Perintah tersebut selaras dengan larangan mencari-cari kesalahan orang lain dan menggibah sesama. Tentunya proporsi ayat ini tidak dipertentangkan kapan kita waspada, menginterogasi, chek-rechek, atau keperluan lain dalam jarh wa ta’dil.

Ayat ketiga belas sebagai ayat terakhir dalam hizb pertama surat menerangkan penciptaan manusia yang berbeda jenis perempuan dan lelaki serta bersuku-suku, Allah menciptakan demikian agar kita saling mengenal, ta’aruf, saling mempelajari dan bahkan saling belajar, karna  sesungguhnya perbedaan tersebut hanya berkisar dalam kadar ketakwaan kepada Allah Subhanahu Swt..

Qishoral kalam, hizb pertama dari surat al-Hujurat mempunyai kandungan yang sangat komprehensif dalam etika, adab, dan interaksi. Simbol bilik/ kamar dijadikan syi’ar sebagai rambu-rambu. Kekomprehensifan interaksi yang tersebut diatas berurut mengembang dari Allah – Rasul –> individu – sesama kaum mu’min – antar kaum. Wallahua’lam bishowab.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -