Posted by : Alamin Rayyiis Rabu, 16 Maret 2011

NB: Editorial majalah Sinar Muhamadiyah edisi 51


Turats, segala sesuatu yang ditinggalkan oleh manusia pada masa lampau, hingga keberadaannya masih eksis hingga sekarang. Dengan definisi umum diatas tentunya setiap manusia mempunyai warisannya tersendiri . Tentunya yang akan kita bincangkan disini tidak serta merta menyeluruh dari semua aspek yang ada pada manusia atau lingkungannya, ada batasan dan skala prioritas yang kita sajikan dalam bahasan ini. Sebagaimana turats selalu identik dengan warisan Islam; budaya, pemikiran, manuskrip, sistem dan bahkan sumber beragama. Namun begitu, kita harus jujur bahwa warisan/ turats yang ada tidaklah terbatas dalam lingkup itu saja. Dari agama: Kristen, Budha, Majusi dll meninggalkan warisan tersendiri. Peradaban dan negara pun mempunyai suatu keistimewaan khusus yang secara turun temurun diwariskan kepada penerusnya.

Bukan tanpa hikmah bila mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah al-Quran yang tersimpan secara suthûr dan sudûr. Rasa-rasanya penting bila kita kerucutkan pembahasan ini pada warisan Islam berupa tuliskan manuskrip-manuskrip yang ditinggalkan oleh para ulama pendahulu. Pasalnya, bukti keotentikan kodifikasi dan budaya ilmiah yang terkandung di dalamnya selalu bisa dipertanggungjawabkan secara proporsional dan objektif. Banyak alasan kenapa kajian manuskrip Islam tetap eksis dan malah cenderung naik daun bersamaan dengan kebangkitan kajian keislaman lainnya.


Jamak diketahui bahwa batas yang memisahkan antara zaman pra-sejarah dan zaman sejarah dimulai adalah, tulisan. Rentang waktu sebelum mengenal tulisan disitilahkan dengan zaman pra-sejarah, dan ketika masarakat Mesir kuno mengenal hireoglyph maka zaman sejarah pun dimulai. Begitu penting yang dirasakan dari adanya tulisan, ia (tulisan) juga disimbolkan sebagai produk kebudayaan. Keberadaan peradaban pun bisa kita deteksi dengan jalur tulisan, prasasti dan simbol lainnya.

Islam sebagai agama yang pro dengan warisan ulama/ kerajaan/ peradaban yang terdahulu sangat menghargai keberadaan turâts. Secara konsep memang tak terelakkan bahwa jenjang estafet peradaban selalu membutuhkan perantara untuk bisa menghubungkan antara zaman al-sabiqûn al-awwalûn dengan generasi sekarang. Teori sanad yang menjadi salah satu kebanggaan disiplin ilmu Islam adalah salah satu contoh dimana dipentingkannya jenjang estafet antara perawi a'la dan perawi sufla. Demikian lah adanya kodifikasi turats yang saat ini kita bincangkan sebagai langkah kesadaran akan pentingnya revitalisasi turats di era modern. Kita tidak bisa menafikan sumber awal para pendahulu kita tentang kontribusinya dalam pembentukan disiplin-disiplin ilmu Islam. Maka selayaknya kita tetap memandang penting pondasi dan kaidah keilmuan kita pada ulama zaman dahulu, tentunya tetap menerapkan kaidah: al-almuhafadzatu alal qadîmi al-shalih, wa al-akhdzu bil jadîd al-ashlah.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -