Posted by : Alamin Rayyiis Sabtu, 09 Oktober 2010

Mukaddimah

Segala sesuatu yang mencakup alam wujud pasti mempunyai nama sebagai tanda keberadaanya. dan maklum kita ketahui bahwa di belahan bumi manusia ini bahasa yang mereka gunakan untuk me-nama-kan sesuatu tidaklah sama.  Sehingga di beberapa keadaan, benda dan wujud lainnya kita menemukan lebih dari satu nama untuk ‘sesuatu’ yang sama. Namun begitu, esensi wujud tersebut sebenarnya tetaplah sama sekalipun mempunyai kata-kata yang berbeda. Terlebih untuk sesuatu yang menjadi kepemilikan bersama atau, sesuatu yang wujudnya bisa dirasakan, diraba, dilihat atau dipelajari oleh semua orang.

Menindaklanjuti mukaddimah di atas, penulis ingin menyederhanakan definisi peradaban secara berurut dari bahasa ke istilah. Dari bahasa pun ‘peradaban’ mempunyai banyak derivasi dan gabungan. Dan tidak berhenti sampai disitu, akan tetapi term yang kita bahas ternyata mempunyai beberapa istilah sinonim dan bahkan sebutan lain yang belum baku dan hanya digunakan di sebagian tempat saja. Beberapa keyword yang ingin disampaikan berkenaan dengan definisi peradaban ialah: hadharah, ‘umran, tamaddun, civilization, culture, peradaban dll. Secara garis besar yang akan kita bedah adalah bahasa utama Arab, Inggris dan Melayu.


Definisi

Dalam bahasa Arab kata yang paling banyak digunakan untuk merujuk term ini yang pertama adalah hadhârah. Secara bahasa ia berasal dari kata حضارة/ الإقامة في الحضر merujuk ke: perkembangan ilmu, seni dan adab (kamus al-wajîz). Bila hâdhirah lawan dari bâdiyah maka yang pertama bisa dimaknai penduduk kota dan yang kedua adalah penduduk desa/ pedalaman (kamus al-muhîth). Di dalam kamus Lisan al-Arab term kita bisa dimaknai alhayyu al-‘adhîm atau al-qaum. Dari beberapa paparan diatas bisa dimengerti bahwa hadharah memiliki makna bahasa seperti kemajuan, kemakmuran (‘umrân). Dari istilah arab ini juga term kita mepunyai arti sebagai ‘perkumpulan masyarakat dalam suatu wilayah kota’ sebagaimana dipaparkan oleh Dr. Badran Bin Husain.

Maka hadhârah secara istilah bisa kita maknai dengan gambaran bahwa, ketika manusia menempati suatu tempat dan menetap di daerah tersebut maka akan terbentuk diantara mereka hubungan sosial kemasyarakatan, darisana akan lahir interaksi antar manusia untuk membangun kemajuan dan keteraturan di tempat tersebut, kota atau madînah, itu kenapa Rasulullah menamakan Yatsrib menjadi Madinah. Apa yang diungkapkan oleh Badran Bin Husain juga disepakati oleh Hants W. Getzle sebagaimana dikutipoleh Marzuki Mahmud dalam bukunya “Konsep Tamaddun Dari Berbagai Perspektif”. Lebih dari itu Abu Bakar Hamzah di “Sejarah Kebudayaan Islam” menambahkan bahwa wujud pembangunan tadi mempunyai dua unsur utama yang seiring, kerohanian dan kebendaan.

Menurut Syed Naquib Al-Attas, peradaban itu ialah keadaan kehidupan manusia bermasyarakat yang telah mencapai taraf kehalusan tatasusila dan kebudayaan yang luhur bagi seluruh masyarakatnya.

Sayyid Qutb secara istilah memaknai peradaban bukan sebagai kemajuan kebendaan/ materi melainkan peradaban tauhid yang dilahirkan oleh sistem Islam yang menyempurnakan manusia dengan kemanusiaannya, menimbulkan makna hakikat ubudiyah kepada Allah dan keseimbangan yang menyeluruh dalam hidup individu dan masyarakat. Sedang Ahmad Sya’labi mendefinisikannya dengan membagi peradaban menjadi dua, teori dan eksperimen. Peradaban secara Teori yang ia maksud ialah peradaban asli yang menjadikan islam sebagai sumber yang tunggal. Peradaban ini lahir dalam perkara yang tidak tercapai oleh pikiran manusia seperti di dalam sistem politik, perundangan dan isu-isu sosial yang didebatkan oleh banyak orang. Sedangkan Peradaban secara Eksperimen yang ia maksud adalah kemajuan yang dicapai oleh manusia dalam bidang-bidang matematik, perobatan, astronomi dan lainnya (Sejarah dan Kebudayaan Islam).

Salahuddin Ismail, “Ciri-ciri Tamadun Islam”mengutip pendapat Syirazi tentang peradaban sebagai; kekuasaan, kekuatan, kemakmuran dan kemajuan sesuatu bagsa dan pemerintahan yang menjurus kepada pembahasan sejarah keilmuan, kemajuan industri dan pembangunan ekonomi sebuah negara.

Beralih ke sarjana Barat, dalam bukunya Comparative History of Civilizations in Asia, Edward L. Farmer mendefinisikan bahwa peradaban adalah entiti atau unit budaya yang terbesar dalam organisasi manusia yang terdiri dari perkumpulan norma-norma sosial, tradisi dan institusi-institusi yang berkelanjutan. Beliau kemudian mengenalkan beberapa ciri yang perlu ada dalam sesebuah masyarakat  seperti sistem tulisan, kerajaan/ pemerintahan dan kepengurusan, agama dan kepercayaan, organisasi sosial, perkotaan, teknologi dan spesialisasi.

Tidak berbeda jauh dengan sarjana-sarjana muslim di atas, Will Durrent di bukunya yang diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Zaky Najib Mahmud di alenia pertama memaknai hadharah sebagai ”nidham kemasyarakatan yang menjanjikan manusia dengan berkembangnya produk budaya”

R.A. Buchanan pula menjelaskan bahawa masyarakat perlu memiliki institusi-institusi yang kompleks, melibatkan tahap spesialisasi yang tinggi di kalangan anggota masyarakat, adanya stratifikasi sosial, tahap penguasaan matematika dan teknologi yang tinggi. Menurutnya lagi, masyarakat juga seharusnya mempunyai pengeluaran barang melebihi keperluan tempat, bagusnya aktivitas perdagangan, adanya persatuan politik dan budaya, dan masyarakatnya memiliki ciri-ciri modernyang mempunyai daya saing (History and Industrial civilasation). Robert Redfield mengibaratkan peradaban sebagai beberapa puncak pencapaian sama seperti puncak-puncak gunung di permukaan bumi.

Sinonim lain yang bisa dimaknai sebagai peradaban dalam bahasa arab ialah tamaddun. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam makalahnya ”Membangun Peradaban Islam” term ini terdiri dari din dan madinah. Bisa dengan jelas dicerna dari 2 komponen tersebut tamaddun mewakili 2 sisi utama peradaban. Sebab kata din membawa makna keberhutangan, sususnan kekuasaan danmencari pemerintah yang adil. Artinya, dalam istilah agama tersembunyi suatu sistem kehidupan, oleh sebab itu ketika agama Allah yang bernama Islam telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama madinah. Dan akhirnya dibentuk akar kata baru madana yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan (Ibnu Mundzir ”Lisan al-Arab”).

Istilah tamadun untuk pertama kalinya dipakai oleh Jurji Zaydan dalam bukunya Tarikh al-Tamaddun al-Islamiy, terbit 1902-1906. Sejak itu kata tamadun digunakan secara luas di kalangan umat Islam. Di dunia Melayu tamadun digunakan untuk pengertian peradaban.  Di Turki dan Iran akar kata ini tetap dipakai untuk merujuk term yang sama, peradaban, sekalipun berbeda secara ejaan dan harf al-ziyâdah. Orang Arab sendiri sekarang ini menggunakan kata hadhârah untuk peradaban, namun kata tersebut tidak banyak diterima umat Islam non-Arab yang kebanyakan lebih menyukai istilah tamaddun. Di anak benua Indo-Pakistan tamadun digunakan hanya untuk pengertian kultur, sedangkan peradaban menggunakan istilah ta’dib.

Basyir Barakat, kelahiran Quds - Palestina, dalam situs resmi www.arabbab.com menguatkan ke-sinonim-an antara hadharah dan tamadun dengan mengutip pernyataan Ibnu Khaldun yang terkenal ”al-Insanu madaniyyun bi al-thab’i” manusia adalah makhluk sosial secara tabi’atnya. Maka madaniyyun disini bisa diartikan ijtima’/ perkumpulan sosial masyarakat. Artinya antar keduanya, tamadun dan hadharah sama-sama memiliki arti kumpulan manusia yang menetap di wilayah kota dan mempunyai aktifitas dan interaksi antara mereka dalam memajukan kehidupan dan meraih capaian yang ada.

Dari  perspektif Islam, peradaban juga sering dikaitkan dengan perkataan umrân. Umran membawa makna harta, kawasan yang didiami, berkembang subur dan maju, perhimpunan, melawat dan hidup berpanjangan. Ibnu Khaldun sendiri ketika berbicara tentang peradaban yang kita pahami, beliau lebih sering menggunakan umran daripada kata lainnya. Di kamus munjid sendiri term tersebut diartikan sebagai; nama untuk kesuksesan dibangunnya sebuah tempat dengan perbaikan keadaan oleh perkumpulan penduduk.

Dalam konteks bahasa Indonesia hadharah yang kita pahami lebih sering digunakan kata ”Peradaban”. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi di makalah lain, ”Problem Peradaban Islam dan Barat” menjelaskan bahwa:
Peradaban adalah derivasi dari kata adab. Adab sesungguhnya berarti jamuan makan yang dalam konteks ini al-Qur'an merupakan jamuan spiritual (ma'dubah) yang terbaik bagi ummat manusia. Maka para ulama terdahulu mengartikan adab sebagai ilmu, ta'dib adalah pendidikan atau pananaman ilmu dan konsekuensi terkati seperti iman, amal, dan akhlak. Ta'dib adalah usaha pengkaderan manusia-manusia beradab, yaitu manusia yang mempunyai ilmu dan mempunyai moralitas yang tinggi atau manusia-manusia yang ilmunya disertai amal dan sebaliknya. Manusia beradab adalah individu yang dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukan dan tempatnya; individu yang dapat menempatkan kedudukan dirinya dihadapan Penciptanya dan dikalangan masyarakatnya. Jika ia seorang rakyat jelata ia mengetahui hak dan kewajibannya, jika ia seorang pemimpin ia mengerti arti keadilan dan berlaku adil, jika ia seorang ulama ia berani mengatakan yang hak dan yang batil kepada siapapun dan dimanapun, jika ia seorang seorang wakil rakyat (politisi) ia dapat meletakkan (memilih) seseorang sesuai dengan kapasitas dan keutamaannya baik dihadapan Tuhan maupun dan dihadapan manusia (rakyat)

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arahan Depdikbud  dalam term ini merujuk ke kata
per-adab-an yang berarti: 1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin. 2) hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayan suatu bangsa.

Civilizations, istilah ini paling meluas digunakan untuk merujuk kepada istilah peradaban atau tamadun, disebutkan di Oxford Latin Dictionory perkataan civilize merujuk kepada memperbaiki tingkahlaku yang kasar atau kurang sopan, menjinakkan (to tame) dan menyelaraskan mengikut keperluan masyarakat, sederhananya term ini bisa diartikan sebagai: keluar dari kehidupan prmitif kepada kehidupan yang mempunyai kehalusan akal budi dan kesopanan. Masih di kamus yang sama (Oxford Advanced), term ini juga berarti human society: of people living together. Nampaknya aspek tingkahlaku/ moral lebih ditekankan dalam definisi civilizations (Mahdi Shuid, 2000. “Terminologi Peradaban: Sukar Didefinisikan Mudah Diperjelaskan” dalam Wacana Dialog Peradaban,).

Ditambahkan oleh Muhamad Abdul Jabbar, sarjana berkebangsaan Malaysia, dia menulis di bukunya ”Islamic and Western Concepts of Civilization”; istilah civilizations dalam bahasa Inggris terlahir dari akar kata Latin yaitu; civitas  yang berarti city atau kota.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -