Posted by : Alamin Rayyiis Minggu, 10 Januari 2010


[Photo]Pemberitaan korupsi akhir-akhir ini menjadi hangat di berbagai media massa Indonesia, tak luput juga ranah pemerintahan Kabinet Bersatu jilid II dan segenap kasus tambahan lainnya –dua kali penangkapan petinggi KPK- hingga merembet menjadi icon 'cicak vs buaya'. Nahas bagi Indonesia, negara kaya yang mempunyai Sumber Daya Alam dan Manusia yang begitu berharga harus menjadi negara miskin tak berdaya karena ulah para koruptor yang memonopoli. Tak ayal jika di tahun 2005 indonesia mendapat ranking pertama NEGARA TERKORUP versi Pasific Economic and Risk Consultancy.


Sebenarnya wacana komite pemberantasan tindak korupsi sudah digelar jauh hari ketika masa-masa pemerintahan pra-presidensial di Orde Lama, ketika Indonesia diperintah oleh Kabinet Djuanda dibentuk juga badan pemberantasan korupsi yang disebut PARAN (Panitia Retooling Aparatur Negara) dipimpin oleh A. H. Nasution. Di tahun 1963 A. H. Nasution ditunjuk lagi untuk menjadi ketua di komite yang sama di pemberantasan korupsi. Namun kali ini dengan nama yang berbeda; Operasi Budi.



Era Orde Lama yang dipandang tidak sukses dalam memberangus korupsi dijadikan oleh Presiden Suharto sebagai moment yang tepat untuk mendongkrak Kabinet Gotong Royong yang masih berumur muda. Maka dibentuklah TPK (Tim Pemberantasan Korupsi), badan pertama yang ia bentuk mengalami kegagalan hingga akhirnya beralih menjadi Komite Empat, demikian juga nasib komite ini, gagal lagi. Hingga akhirnya terbentuklah Opstib (Operasi Tertib) sebagai opsi pemberantas korupsi terakhir. Namun sayang, semakin menguatnya kedudukan para koruptor di singgasana pemerintahan membuat ketiga badan bentukan Orde baru juga mengalami kegagalan.


Era Reformasi, langsung dimulai oleh B. J. Habibie dengan membentuk KPKPN (Komisi Pengawasan Kekayaan Pejabat Negara). Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid membentuk badan serupa dengan skup yang lebih tajam; TGPTPK (Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). Namun nahas, dipertengahan menggebunya tim ini dalam pemberantasan 'penyakit' akut yang mendarah daging di Indonesia, lagi-lagi mengalami kendala yang akhirnya kedua badan ini dibekukan. Lain halnya dengan KPKPN, sekalipun tidak dibekukan namun, seiring tumbuhnya cikal bakal KPK –yang marak dijadikan icon pahlawan Indonesia era kekinian- tugas KPKPN melebur ke dalamnya.



Menyimak perjalanan panjang sekian badan pemberantasan korupsi sejak jauh diawali oleh Kabinet Djuanda. Kita akan sama-sama melihat bagaimana badan tersebut berakhir tragis tanpa ketentuan akhir yang jelas. Bisa kita lihat dari satu Orde/ Era hampir dibentuk lebih dari satu badan pemberantas korupsi. Kesemuanya berakhir tanpa kejelasan dan gagal atau, digagalkan. Dari seluruh badan yang ada, kemandekan-kemandekan pemeriksaan yang berakhir dengan pembubaran, faktor yang mendominasi adalah faktor politis; koruptor yang mempunyai kedudukan tinggi di kabinet, proses pemeriksaan yang kurang ditunjang wewenang penuh penyeledikan. Dan bahkan adanya judicial review (proses penelitian undang-undang) seperti yang terjadi di era Abdurrahman Wahid merupakan hal ganjil yang diputuskan oleh Mahkamah Agung yang saat itu dipimpin oleh M. A. Rachman.
[Photo]

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sudah berumur 6 tahun, didirikan pada tahun 2003 yang lalu. Periode pertama didirikannya badan ini dikepalai oleh Taufikurrahman Ruki, periode 2003-2007. Neraca yang diperolehnya cukup membantu gambaran umum kinerja KPK selanjutnya. Ia mengemukakan data hasil survei Transparency Internasional mengenai penilaian masyarakat bisnis dunia terhadap pelayanan publik di Indonesia. Survei Transparency International Indonesia berkesimpulan bahwa lembaga yang harus dibersihkan menurut responden, adalah: lembaga peradilan (27%), perpajakan (17%), kepolisian (11%), DPRD (10%), kementerian/departemen (9%), bea dan cukai (7%), BUMN (5%), lembaga pendidikan (4%), perijinan (3%), dan pekerjaan umum (2%).

Berbeda dengan masa kepemimpinan setelahnya yang ketika tahun 2007 digantikan oleh Antasari Azhar. Pengembangan kasus yang dilakukan cukup signifikan. Jika kasus lapangan yang dijalankan oleh pimpinan sebelumnya masih berupa dugaan-dugaan dan penangkapan pejabat daerah maka, masa kepemimpinan Antasari bisa dibilang cukup berani. 'Semakin menjadi', seperti itulah istilah kasar tapi berani sebagai apresiasi kinerja pahlawan-pahlawan KPK dalam meludeskan mata rantai korupsi yang saling terkait antara sektor satu dengan lainnya.

Di awal tahun 2008, tercatat beberapa petinggi negara dalam berbagai sektor menjadi korban kebreanian KPK. Di sektor kepolisian KPK menangkap mantan Kapolri pusat Rusdiharjo atas tuduhan pungli, di sektor perbankan Gubernur BI Burhanudin Abdullah dan direktur hukumnya juga mengalami nasib yang sama. Yang menjadikan pamor KPK semakin naik daun adalah penangkapan besan Presiden RI, Aulia Pohan. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia badan bentukan Kapolri ini berani mengakses anggota DPR, di bulan April 2008 3 anggota DPR RI juga ditahan atas tuduhan kasus korupsi, terlebih lagi penggeledahan gedung DPR juga dilakukan untuk meluaskan pemberantasan jejaring mata rantai korupsi di pemerintahan pusat.

Namun sayang, tidak semua pahlawan bernasib mujur. Antasari Azhar selaku ketua KPK dinonaktifkan lantaran ditangkap dengan tuduhan otak pembunuhan Nazarudin Zulkarnain, bos PT Putera Rajawali Banjaran (PRB). Dengan tiba-tibanya, seorang pahlawan mengalami pembusukan dan pembunuhan karakter, Bos KPK tersebut masuk bui lantaran tuduhan yang berbanding balik dengan apa yang ia dedikasikan. Banyak dugaan konspirasi mata rantai koruptor dalam penjeblosan Bos KPK tersebut. Konspirasi pihak kepolisian sebagai buah simalakama, konspirasi petinggi DPR RI yang beberapa anggotanya tertangkap dan tidak menutup kemungkinan lainnya akan menambah akses ke anggota DPR lainnya. Hinga konspirasi kejaksaan juga mempunyai kemungkinan, sebagai pemeran penting dalam kasus persidangan lantaran diantara sektor yang ada, lembaga peradilan lah yang menempati urutan pertama dalam kasus tindak pidana korupsi.

Dan untuk kedua kalinya, setelah penangkapan Antasari, 2 pucuk pimpinan KPK pasca-nya pun juga mengalami nasib yang sama. Kali ini kasus yang dituduhkan bermula dari aksi penyadapan telepon (diistilahkan dengan penyalahgunaan wewenang) oleh KPK terhadap Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji terkait obrolannya dengan tersangka kasus tipikor (tindak pidana korupsi) pengucuran dana Bank Century.

Jargon CICAK vs BUAYA pun dimulai. Pasalnya, ketika Susno Duadji dimintai keterangan resmi oleh pihak media massa (TEMPO edisi pertengahan Juli) tentang aksi KPK atasnya dengan leluasa Bos Bareskrim berujar "cicak kok mau melawan buaya" hal itu terkait dengan penyadapan pihak KPK yang mensinyalir keterlibatan pihak kepolisian dengan dana pencairan Bank Century. Bagai kebakaran jenggot segenap koruptor negeri pun bersatu membuat skenario sistematik, tidak tanggung-tanggung, elemen kepolisian, kejaksaan dan bahkan pencatutan nama presiden SBY pun menjadi semakin menambah kasus ini panas.

CICAK; ungkapan CINTAI INDONESIA CINTAI KPK mempunyai alur solidaritas tersendiri sebagai dukungan masyarakat Indonesia terhadap KPK melawan BUAYA (baca: kepolisian dan koruptor). Hari pahlawan 10 November yang lalu menjadi hari peringatan tersendiri bagi sekelompok demonstran di Ibukota, pahlawan di era ini bukan lagi mereka yang menenteng pucuk runcing bambu ataupun senapan akan tetapi mereka yang berani bersuara lantang memberantas tikus kantor dan buaya-buaya materialisme yang merugikan negara.

Tak ketinggalan, ramainya jejaring sosial Facebook juga ikut memberi solidaritas nyata dengan membludaknya jumlah follower atas dukungan Bibit-Chandra sebagai ikon pahlawan di KPK. Tercatat lebih dari 1 juta akun fb menjadi pengikut group solidaritas tersebut. Dan pastinya, status, note dan photo profile mereka juga ikut tersingkir, mereka lebih bangga memasang gambar lingkaran ala Yin Yang berubah menjadi gambar Cicak dan Buaya yang dibelut garis merah dengan alur melingkar bertuliskan: SAYA CICAK BERANI LAWAN BUAYA. Salam CICAK, Cintai Indonesia Cintai KPK…!

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -