Posted by : Alamin Rayyiis Minggu, 25 Oktober 2009

Ket: Laput Sinar M.U edisi 50.
_______________________
Membincang perbedaan Hari Raya, mungkin Indonesia menempati urutan pertama dalam daftar perbedaan ini. Akan tetapi kalau kita membuka data tentang hal itu, tentu akan didapati bahwa banyak negara lain yang frekuensi perbedaan hari rayanya jauh lebih banyak dibanding dengan negara Indonesia. Sebut saja Maroko, Turki, Iran, Bahrain, Tunisia, Aljazair, Bangladesh dan Libya yang juga pernah mengalami hal serupa tentang perbedaan penentuan hari raya.
Dalam kasus Hari Raya Idul Fitri tahun 1430 Hijriyah ini, fenomena perbedaan secara garis besarnya terbagi menjadi tiga; pertama, Mayoritas negara muslim di Balkan, Asia Tengah, Arab Teluk dan Asia Tenggara secara resmi kenegaraan menjalankan salat ied pada tanggal 20 September 2009 M. Kedua, beberapa negara yang menjalankan salat ied pada tanggal 21 September 2009 M diantarannya adalah negara Afrika Utara dan Maroko. Adapun Iran dan Bangladesh, disinyalir juga menentukan Idul Fitri pada hari yang sama. Ketiga, adalah Libya yang tercatat sering berbeda dengan mayoritas negara Islam lainnya yang melaksanakan Hari Raya pada tanggal 19 September 2009 M.

Perbedaan dalam menentukan awal bulan Hijriah, terutama di bulan Ramadhan dan Syawal (untuk kasus ini) dipastikan adalah karena adanya ragam perbedaan metodologi dalam penentuan awal bulan Hijriah. Di antara perbedaan tersebut ada yang mengatasnamakan ijtihad ilmiah, ada pula—yang secara radikal—hanya mengikuti gaya dan trend budaya setempat. Ada fenomena yang cukup mengembirakan di Indonesia pada tahun 2009 M ini, secara kebetulan pemerintah dan semua ormas yang memiliki otoritas dalam masalah tersebut menghasilkan keputusan yang sama dalam menentukan awal Syawal yang jatuh pada tanggal 20 September 2009 M. Namun begitu, seperti yang diberitakan beberapa media di Indonesia, ada sebagian kelompok seperti Tarekat Naqsabandiyah dan kelompok An-Nadzirdi Gowa, Sulawesi Selatan yang berbeda dalam menentukan Hari Raya 1430 H dengan melaksanakan shalat Ied sehari lebih awal dari mayoritas masyarakat Indonesia, yaitu pada tanggal 19 september 2009 M.

Menurut keterangan seorang mahasiswi yang tinggal di Maroko, munculnya perbedaan pendapat di sana juga tidak terelakkan kendati masalah keagamaan sudah diatur dalam undang-undang kenegaraan (terlepas dari keputusan Maroko yang berbeda dengan mayoritas negara lain dalam penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal). Sebagai contoh yang layak diketahui, pemerintahan Maroko yang saat ini dikepalai oleh Raja Muhammad VI telah membakukan undang-undang bagi yang makan atau minum di hadapan publik pada siang hari Ramadhan akan dikenakan sanksi 6 bulan penjara atau denda 120 dirham yang setara dengan 15,5 dolar Amerika. Jadi praktek perbedaan sebenarnya bukan hal yang baru bagi belahan negara muslim mana pun. Hanya saja, yang mungkin patut diperhatikan adalah tendensi dan alasan perbedaan itu sendiri, apakah berdasarkan ijtihad, atau hanya sekedar ingin berbeda?.

Diakui memang, perbedaan letak geografis melahirkan perbedaan penentuan munculnya hilal (crescent) yang akhirnya juga memunculkan berbagai prediksi baik yang menggunakan rukyat ataupun hisab. Contoh yang lain, adalah Jepang. Dalam menangapi polemik penentuan hilal dengan rukyat Dr. Rinto Anugraha, seorang peneliti pasca Doktoral dalam bidang Nonlinear Physics di Kyushu University, Fukuoka, Jepang bertutur bahwa di Jepang, tanggal satu Ramadhan 1430 H ini jatuh pada hari yang sama dengan di Indonesia, yaitu 22 Agustus 2009 M. Otoritas muslim Jepang yang memutuskan soal ini adalah Islamic Center of Japan di Tokyo. Sedangkan untuk permulaan Syawal, yaitu pada tanggal 19 September 2009 maghrib, hilal mustahil dilihat di seluruh Jepang, mulai dari Sapporo, Tokyo, Osaka, Fukuoka hingga Kagoshima. Hal tersebut karena saat maghrib, bulan sudah lebih dahulu terbenam. Sebagai contoh, di Tokyo sunset terjadi pukul 17:44 sedangkan moonset pukul 17:39 waktu setempat atau 5 menit sebelumnya. Di Osaka, moonset pukul 17:56 terjadi 4 menit sebelum sunset pukul 18:00. Di Fukuoka, moonset pukul 18:17 terjadi 3 menit sebelum sunset pukul 18:20. Di Okinawa (kepulauan Jepang selatan) moonset terjadi setelah sunset yang berselisih 4 menit. Selisih moonset dan sunset (time lag) ini, maka hilal mustahil untuk dapat dilihat secara mata telanjang maupun dengan alat bantu (teleskop). Dari data di atas, bila hanya mengandalkan rukyat saja kemungkinan hanya akan terjadi “kegagalan rukyat”. Oleh karenanya pihak yang mempunyai otoritas—Islamic Center—biasanya menginduk ke negara muslim yang berdekatan seperti Malaysia atau Indonesia.

Salah satu Negara yang tercatat memulai hari raya pada tanggal 19 September adalah Libya. Konsep yang dipraktekkan adalah menggunakan teori ijtima' qabla al-fajr. Dalam arti apabila ijtima' (konjungsi) terjadi sebelum terbit fajar maka sejak terbit fajar itu sudah masuk Bulan baru, dan apabila ijtima' terjadi sesudah terbit fajar maka hari sesudah terbit fajar itu masih termasuk hari terakhir dari Bulan yang sedang berlangsung. Hal ini dipedomani karena saat ijtima' tidak ada sangkut pautnya dengan terbenamnya Matahari. Di Turki yang juga mendasarkan penentuan awal bulan dengan metode “Astronomical Calculations” merayakan Hari Raya sama dengan Libya, yang kemudian menjadi rujukan beberapa negara di Eropa yang berdekatan; Kosovo, Macedonia, Rumania, Bosnia, Serbia, Bulgaria, Montenegro dan Albania sebagaimana dipaparkan Muhammad Syaukat 'Audah Kepala Islamic Crescents Observation Project (ICOP) dalam situs resminya.

Adapun tanggal 20 September menjadi hari pilihan mayoritas dalam melaksanakan hari raya Idul Fitri diantaranya negara-negara Asia Tenggara, Asia Timur (termasuk Jepang), Asia Tengah, negara Arab serta Afrika.

Adapun yang menetapkan tanggal 21 September sebagai awal Syawal adalah mayoritas negara-negara Eropa. Negara Eropa yang notabene terletak jauh di sebelah barat menyebabkan hilal mustahil untuk dilihat pada tanggal 19 September 2009. Hal ini disebabkan di negara-negara Eropa bulan sudah lebih dahulu terbenam pada saat maghrib. Sebagai gambaran, moonset di London terjadi 15 menit sebelum sunset. Di Perancis, moonset terjadi 11 menit sebelum sunset, Amsterdam, Belanda dan Berlin 17 menit, di Moskow 25 menit, Stockholm sampai 34 menit sebagaimana di Oslo (Norwegia) mencapai 36 menit. Semakin ke utara Eropa, moonset semakin jauh mendahului sunset. Oleh karenanya, jika otoritas muslim di negara-negara Eropa memutuskan berdasarkan pengamatan hilal maka Idul Fitri di Eropa jatuh pada tanggal 21 September 2009.

Terdapat beberapa aspek ilmiah hilal yang sangat perlu dipahami: [1] Bulan terbenam lebih dahulu dari matahari (hilal masih berada di bawah ufuk, alias negatif) ini mustahil untuk terlihat dan setiap kesaksian akan ditolak. [2] Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari. Dalam keadaan ini mungkin dapat dilihat, namun tergantung pada ketinggiannya di atas ufuk untuk dapat teramati. [3] Hilal terlihat setelah terbenamnya matahari sebelum terjadinya ijtimak/konjungsi hal ini belum terhitung awal bulan tetapi hilal akhir yang sedang berjalan. [4] Terjadinya konjungsi ketika terbenamnya matahari dalam keadaan tertutup, yang terjadi adalah gerhana matahari, maka hilal dipastikan tidak terlihat. [5] Bulan terbenam setelah terbenamnya matahari di sebagian wilayah, sementara itu wilayah lain sebaliknya. Maka dalam hal ini, berlaku matlak masing-masing berlandaskan hadits Uraib ra. Sementara jika terjadi perbedaan matlak dalam satu wilayah negara kesatuan, pemerintah dapat menerapkan prinsip wilâyatu’l hukmi. [6] Bulan terbenam sebelum terbenamnya matahari di sebagian wilayah, sementara wilayah lain tidak, maka rukyat berlaku pada matla' masing-masing. Enam keadaan di atas merupakan fakta ilmiah hilal yang perlu dipahami secara baik.

Tidak cukup sampai di sana, dalam pengamatan fisik hilal pun kadang terganjal dengan keadaan iklim di suatu wilayah, baik negara, pulau atau benua. Hal ini berpengaruh pada akurasi rukyat yang bergantung pada kemampuan mata manusia. Di antara faktornya ialah: [1] Jauh jarak hilal (bulan) dari permukaan bumi yang mencapai sekitar 40.000 kilometer, sementara bulan mengisi sudut sekitar 2,5 derajat yang berarti hanya mengisi 1/80 sudut pandang manusia tanpa menggunakan alat. Ini berarti hilal hanya mengisi sekitar 1,25% dari pandangan, oleh sebab itu pengaruh benda sekitar yang mengisi 98,75% sangatah besar. [2] Hilal hadir hanya sebentar saja (sekitar 15 menit sampai dengan satu jam) padahal mata manusia sering terhalang oleh awan yang banyak terdapat di negara tropis. [3] Keadaan yang lain menyulitkan pelaksanaan rukyat adalah kondisi sore, terutama yang menyangkut pencahayaan. Karena kemunculan hilal sangat singkat, maka rukyah dilakukan secara cepat setelah matahari terbenam. [4] Kesulitan yang lain adalah hilal pada umumnya terletak tidak terlalu jauh dari arah matahari, yaitu hanya beberapa derajat ke sebelah utara atau selatan tempat terbenamnya matahari.

Selain keadaan hilal sebagai landasan ukuran masuknya awal bulan-bulan Qamariah, ada hal di mana para pakar (ulama) masih menimbang faktor lain seperti landasan keagamaan. Ragam kesimpulannya pun mempunyai varian yang bermacam-macam. Seperti yang disarikan tim reportase, sangat banyak penyebab yang menjadikan hari raya berbeda secara regional. Perbedaan dalam memahami nas Syar’i, tingkat pemahaman fikih dan ushul fikih beserta kaitannya dengan ilmu falak, juga faktor letak geografis yang luas. Selain itu, perbedaan ini muncul sebetulnya bukan karena persoalan hisab rukyat semata. Tetapi, ada persoalan fundamental yang tidak disadari oleh umat Islam, yaitu belum adanya kalender hijriah terpadu yang dapat digunakan secara bersama-sama. Selama kalender hijriah terpadu belum terwujud, perbedaan penentuan awal bulan Hijriah, khususnya bulan Ramadhan dan Syawal akan senantiasa muncul di permukaan.
Sedangkan ragam cara dan metode yang dipraktekkan di Indonesia terklasifikasikan pada 5 cara berikut: wujûdu’l hilâl, rukyat, imkân rukyat, ijtimâ’ qabla’l ghurûb dan mathla‘ al-badr (Matla' Global). Untuk metode pertama dan kedua masing-masing dinahkodai oleh dua ormas besar Muhammadiyah dan Nahdhlatul Ulama.

Adanya fenomena perbedaan di antara kita harusnya disikapi dengan dewasa. Berbagai sumber yang sempat kami wawancarai mencoba menilik keadaan masyarakat dalam menyikapi hal ini. Darinya disimpulkan bahwa fanatisme terhadap organisasi, mazhab dan suku masih menjadi alasan untuk tidak bersikap objektif dalam menghadapi fenomena beda hari di Idul Fitri, walaupun dari segi astronomis dan geografis sebenarnya mempunyai matla' yang berbeda-beda sehingga sangat memungkinkan untuk terjadi perbedaan. Wa’Llâhu a‘lam bi’s shawâb.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -