Posted by : Alamin Rayyiis Minggu, 31 Mei 2009


Kisah di Bumi itu klise, diawali dengan jatuh cintanya Minkey kepada seorang Indo, Annelis. Sudah diuntung bagi Minkey, seorang pribumi mencinta orang Indo. Pribumi saat itu adalah strata paling tidak dianggap dalam wilayah apa pun: kepemerintahan, kebebasan, kekeluargaan dan agama -walaupun tidak ada 'agama' di Bumi Manusia versy Pramudya-. Sikap Annelis sebagai orang Indo memang lebih suka menjadi seorang pribumi seperti ibunya.

Dengan percintaan mereka berdua, Minkey bertemu dengan karakter yang sama -kebebasan- yaitu Nyai Ontosaroh. Kedua-duanya saling berbagi dengan kebebasan yang sedari dulu telah dicuri oleh orang terdekat mereka berdua. Nyai menyutujui hubungan mereka berdua juga karena balas dendam atas nama kebebasan cintanya yang diperjualbelikan, Nyai tidak ingin kebabasan cinta anaknya terkekang sepertinya dulu.

Permasalahan pertama yang ditawarkan di panggung fiksi itu adalah keluarga Minkey. Ningratisme yang berlebihan sealu menghantui diri Minkey, dia selalu menyembunyikan garis keturunan dari bapaknya yang Gubernur itu. Unggah-ungguh yang berlebihan terhadap ayahnya, selalu mengalah dari kakaknya dan seabrek kejawen yang berlebihan lainnya membuatnya tidak nyaman berada di tengah keluarga tersebut, hijrahlah dia di tempat lain, Wonokromo. Untunglah seorang Ibu masih diingatnya dalam keluarga itu, sebagai satu-satunya wanita yang mewakili kasih sayang dalam hidup di keluarga.

……….
…………….
…………………
Lambat laun, Minkey yang menjelma menjadi seorang intelek dan disegani oleh pembesar-pembesar pemerintah membuat amarah ayahnya yang selalu menganggap Minkey sebagai anak durhaka terhapus. Karena kepiawainnya dengan bahasa Belanda, tamu ayahnya merasa terpuaskan dan bangga akan adanya pribumi yang berbahasa Belanda lancar, tentunya dibarengi dengan keintelektualan Minkey sebagai koresponden warta harian.

Yang menarik dari ending cerita tersebut adalah kembalinya permisalan dari karakter masing-masing tokoh yang saya sebutkan dengan pengalaman serupa, yaitu kekecewaan dan kekalahan.

Nyai Ontosaroh dan Minkey masing-masing dari mereka mempunyai kekecewaan tak terhingga kepada orang tua. Orang tua Nyai menjual dirinya kepada orang Eropa, orang tua Minkey terlalu menjadikannya sebagai anak bawang dalam keluarga. Kedua-duanya merasa kebebasan mereka tergadai entah kemana.

Kemurkaan mereka kepada orang tua mungkin yang menjadikan ending dari cerita ini menjadi sedih, karena seorang idola dalam cerita naluri kasih sayang dan keindahan yang ia miliki terampas dengan sangat menyakitkan, Annelis harus meninggalkan mereka berdua, meninggalkan kekasihnya, Minkey dan juga harus meninggalkan ibunya, si Nyai.

Annelis akhirnya harus meninggalkan mereka dan meninggalkan kampung halaman tercinta Indonesia, dengan keterpaksaan dan akhirnya dengan kerelaan.

Kok bisa…?

Keluarga dari pihak Ayah yang masih hidup di Belanda mempunyai rencana busuk untuk menghancurkan keluarga Nyai, Indonesia yang masih dalam masa penjajahan dalam hukum negara yang sangat teramat lemah tidak bisa mempertahankan kepemilikan aset yang selama ini dibangun oleh Nyai dan bahkan anak kandungnya sendiri tidak bisa dimilikinya secara sah karena label ke-Nyaiannya dan kemanusiaanya tidak mempunyai nilai sepeser pun di depan hukum Belanda.

Gimana sikap Annelis…?

Berawal dari karakter Annelis yang sangat lembut, berbeda dengan dua orang yang disayanginya yang memiliki ketahanan mental luar biasa. Rasa sayang yang berlebihan dibarengi dengan ketidak siapan untuk kehilangan membuat Annelis menjadi seorang yang kehilangan segalanya, segalanya, raganya pun sudah sedari dulu ketika kecelakaan yang tidak lain oleh abangnya sendiri. Dan hatinya pun sekarang harus tercabik karena harus meninggalkan kedua orang yang disayangnya.

Bukan tanpa usaha bagi mereka yang kehilangan, namun ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi struktur hukum penjajah adalah suatu hal yang tidak terelakkan pun ketika mereka tidak melawan atau melawan, hasilnya tetap kekalahan. Dan sebaik-baik perlawanan memang sudah diusahakan, ya sebaik-baik perlawanan seperti kalimat-kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nyai Ontosaroh, dan lagi, sebaik-baik perlawanan untuk sebuah kekalahan.

Annelis memboyong semua pakaiannya, karena beberapa orang yang ditugaskan untuk menjemputnya sudah menunggu. Kelemahan untuk berpisah, sebuah awal kebencian setelah kehilangan rasa sayang dari yang dicintainya. Dia mengekspresikan kekecewaan terhadap mereka yang tidak sanggup menyelamatkannya dengan keangkuhan yang ia lukiskan dengan benih-benih keegoisan. Tak perduli seberapa jauh Minkey dan Nyai Ontosaroh melawan hukum yang hina, Annelis berniat untuk tidak kembali ke Indonesia, sekaligus untuk tidak bertemu dengan keduanya. Tas yang dibawa oleh Mamanya ketika berjanji untuk tidak kembali lagi ke rumah orangtuanya, dia bawa sebagai lambang untuk tidak kembalinya sebagaimana Mamanya melakukannya terhadap orangtuanya.

Dan, selamat tinggal Indonesia, negeri dimana aku tidak mendapatkan kekuatan untuk mencintai mereka, negeri dimana aku tidak mendapatkan keamanan sekedar untuk menikmati jerih payahnya, Annelis membatin nelangsa. Tanpa membalikkan muka putri itu menaiki kapal Belanda, layar pun segera berkembang dan kapal yang mengangkutnya bertolak menuju ke negeri penjajah ibunya.

{ 4 comments... read them below or Comment }

  1. Anak Semua Bangsa...??? bener gak...??? :)

    Salam kenal...

    BalasHapus
  2. Hwehehe.......... mungkin nada si Pram emang gitu dalam setiap novelnya, sad ending agar nuansa kritiknya terus terasa, tapi kebetulan yang ini judulnya BUmi MAnusia :P, malahan kedua novel yang anti sebutin belum baca lantaran di perpustakaan kami di sini terbatas:D dan koleksi untuk dua bukunya belum ada. salam kenal juga

    BalasHapus
  3. Waduh, salah yah, afwan, soalnya ana juga lum baca. :) anak FLP juga yah?

    BalasHapus
  4. petikan novel ke 2 tetralogi Buru yang cukup bagus untuk kita renungkan
    "Dengan rendah hati aku mengakui, aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat" lacaisant

    BalasHapus

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -