Posted by : Alamin Rayyiis Selasa, 12 Mei 2009

Pramodya Ananta Toer, penulis tetralogi novel Pembangun Nsionalisme. Mengkopi tajuk setiap novel yang sedang marak di Indonesia, 'Pembangun Jiwa', 'Pembangun Mental' serta deretan label lain sebagai pewarna novel terebut yang dicoret oleh penulisnya dan, kali ini kita bisa menyebut Bumi Manusia-nya Pramudya dengan gelar di atas, novel Pembangun Nasionalisme.

Seorang novelis seakan menjelma sebagai tuhan bagi novelnya. Dia pencipta segala di dalamnya. Pengarang tersebut mengarang manusia sebagai subjek pengelana dalam bumi yang ia ciptakan sendiri, semuanya. Ia mulai dengan muqadimah, masalah, solusi dan ia akhiri dengan penutup. Meskipun demikian, tidak jarang sebuah bumi dan alam fiksi tersebut ia biarkan mengalir tanpa ujung, tidak pula mengarah pada muara penyelesaian, ia meninggalkan aliran sungai itu mengalir entah kemana, seakan membiarkan kita agar membuat jalan air tersebut dengan sendirinyamenuju muara laut, tanpa ia bimbing, dan hanya kita sendiri.

Yang akan menjadi tuhan di Bumi Manusia kali ini adalah dia, Pramudya Ananta Toer . Hidup di zaman ketika tanah kelahirannya memasuki era kebangkitan dari penjajahan dan belum merdeka, transisi tepatnya. Seperti zaman dimana Negeri Bocoran Surga –mengutip sebutan Emha untuk Indonesia- sedang dimasuki iblis yang sedang mencoba menjerumuskan Adam dan Hawa ke lubang yang nista, pengkhianatan dan hukuman. Turun dari surga menuju bumi, sebagai awal perjalanan yang sangat panjang menuju rahmat Tuhan, kesempurnaan dan kekekalan.

Bumi Manusia, sebuah judul yang cukup mewakili segalanya, bumi dan manusia. Manusia dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya, dan bumi yang mewakili alam ciptaan-Nya sebagai penikmat panggung sandiwara.

Manusia ciptaan Pramodya tersebut antara lain: Minke, Nyai Ontosaroh, Annelise, Bapak, Ibu dan kakak Minke, Orang tua Nyai Ontosaroh, Suami dan anak lelaki Nyai, Robert Surhof temen Minke, Dasram si algojo, Tuan Telinga, Jean Mears dan lain-lain. Dan yang menjadi artis diantara manusia ciptaan tersebut ialah Minkey, Nyai dan Annelis.

Dimensi cerita di Bumi Indonesia sedang mengalami masa transisi dengan sisa-sisa penjajahan dari kolonial Belanda. Hubungan ningrat penguasa-penguasa kecil terlihat ketika para Bupati dan ningrat kepemerintahan lainnya bisa eksis walaupun kekuatan tersebut masih mengekor dari pemerintah boneka Hindia Belanda.

Bumi Manusia pun bercerita tentang belahan bumi lainnya tentang adanya strata darah sosial. Eropa, Indo dan Pribumi. Eropa adalah keluarga kolonial Belanda yang saking enak dan lamanya menjajah Hindia-Belanda mereka berketurunan di Bumi Manusia belahan Hindia-Belanda. Indo digambarkan seperti Annelis yang berorangtuakan ayah berdarah Eropa dan Ibu berdarah Pribumi, campuran. Dan Pribumi, tidak lain adalah Minkey, Nyai dan bagi siapa saja yang berketurunan asli Hindia-Belanda.

Penokohan karakter yang tegas dalam cerita tersebut seolah menggambarkan diri pencipta manusia dalam dunia fiksi Bumi Manusianya Pramudya. Minkey dan Nyai Ontosaroh, mereka berdua yang mewakili karkater keras, tegas dan tidak pernah menyerah. Minkey yang berorangtuakan ningrat, bapaknya seorang gubernur, sangat terhimpit dengan kultur budaya Jawa yang menjadikan bawahan selaiknya hamba sahaya, pun itu anaknya. Kungkungan kultur sosial suku tersebut seolah mengekang dirinya yang ingin bebas.

Penghambaan yang berlebihan dalam mu'amalah membuat diri Minkey berontak seberontak-berontaknya, tidak ada ruang maaf bagi siapa saja yang menjadikannya seperti itu. Keluarga ningrat yang terlalu menutup diri dari sifat kritis dari seorang yang berumur lebih muda, bagi mereka yang muda yang selalu menjadi kalahan, tidak ada dialog serta tanya, dalam keluarga itu hanya dogma. Beruntung Minkey masih mempunyai seorang Ibu yang meyayanginya.

Namun begitu, ketika ia dihadapkan pada sosok Nyai Ontosaroh, seorang wanita, Minkey masih tercengang dengan watak wanita pribumi tersebut. Dendam tak ketulungan ala manusia versi Pramudya begitu kental dibawah karakter seorang Nyai. Nyai yang tempo dulu sebagai lambang strata sosial yang rendah, gundik para kolonial, menikah tanpa keresmian agama, pemerintah dan hingga, tanpa izin dari pihak yang dinikahkan.

Jual beli yang dirasakan oleh Nyai antara Ayahnya yang gila kuasa di sebuah pabrik, Ibu yang tak mempunyai daya dihadapan Ayahnya serta seorang kolonial yang kelak menjadi isitri dari Nyai. Itu semua cukup menjadi pemicu kenapa watak keras Nyai terhadap keluarganya sendiri seolah berhadapan dengan musuh. Tidak ada rasa sesal bagi Nyai memusuhi keluarganya sendiri hingga, orangtuanya mati, sebagaimana orangtuanya juga mengabaikan kebebasan dirinya yang diperlakukan sebagai barang mati dagangan.

Annelis, putri itu…

===============

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -