Posted by : Alamin Rayyiis Selasa, 12 Mei 2009


Suasana Bookfair

Semilir angin di taman depan hall 6 memang terasa dingin, tapi kebetulan hari itu cerah-cerah saja dan matahari memberanikan muncul berbagi sinar kehangatan, sehingga hawa yang tadinya dingin karena semilir angin menjadi hangat dan sejuk, paling tidak untuk 2 jam di siang itu, karena bila sore beranjak hawa dingin lebih berkuasa.

Taman itu juga penuh dengan orang-orang yang beristirahat, tidak disangsikan memang dengan kriteria book fair yang International itu, banyak warga luar Mesir terlihat disini, mereka lelah dengan banyaknya stand buku di hall International Book-fair di Kairo, atau mereka lebih sering mengistilahkan dengan Ma'radh. Betapa capeknya untuk bisa sekedar berjalan-jalan diseluruh toko buku yang berada di sana. Hitung saja, ada berapa belas hall dengan setiap masing-masing hall diisi dengan puluhan stand.

Blok yang kami tempati di taman itu sejenak menjadi perhatian para hunter buku. Mmereka menganggap aneh, kumpul-kumpul pelajar asing di ma'radh, bukannya belanja buku, eh malah kongkow di taman, mungkin pikir mereka begitu. Namun ada juga yang segan melihat perkumpulan kami, kumpulan pelajar asing seolah-olah terlihat berdiskusi, atau paling tidak mengadakan kegiatan ilmiah ala civitas akademika perkuliahan, dan dengan bangga usai perkumpulan mereka ngobrol dengan kami.

Hari itu adalah hari dimana kami staff PMIK mengadakan kumpul perdana untuk memulai aktivitas baru setelah ujian term I. Sekaligus mengawali perkumpulan, kami juga ingin menginjakkan kaki pertama di book-fair tahun ini, kami katakan pertama, karena memang tidak cukup satu atau dua kali untuk bisa memuaskan nafsu berbelanja buku, itu bagi mereka yang ada kelebihan budget, untuk yang minim budget bisa melihat buku-buku pun bisa menambah wawasan tersendiri.

Kumpul perdana staff PMIK dihadiri oleh teman-teman staff dan dewan pembimbing: Kak Nidhol, Umar, Sulthon, Basyir, Ardi, Versky Mursalin, Riyan, Muwafiq, Hakim, dan Im. Sedangkan akhwatnya ada Kak Affi, Rina, Arma, Khalis, Mazra'ah, Litdya dan Benazir.

Sebagai item pertama yaitu acara ceremonial sederhana, dimoderatori oleh Kak Ardi sebagai kepala perpustakaan, dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Quran oleh Kak Basyir.

Cerita Kami Tentang Buku

Yang menarik dari acara kongkow bareng ini adalah apa yang diidekan oleh Kak Nidhol, senior PMIK yang pengalaman tentang ke-buku-an tidak diragukan lagi. Dari menjadi penanggungjawab perwakilan penerjemahan penerbit Aqwam, sekaligus penerjemah aktif, seabrek pengalaman di PMIK sendiri, dan bahkan di akhir acara ketika bagian dia bercerita tentang ide yang ia kemukakan untuk temen-temen, kita sama-sama mengetahui bahwa ayahnya ternyata juga seorang penulis di Indonesia, kesimpulan al waladu sirru abiihi pun bisa kita perjelas dengan posisinya sebagai anak penulis juga.

Ide yang ia ajukan buat temen-temen tak lain adalah bercerita. Cerita apakah itu? tentunya bukan cerita konyol hari ini yang telah im lakukan, atau cerita tentang kisah kasih di sekolah. Cerita yang baru kali ini im temukan di acara kongkow bareng temen-temen staff perpustakaan: cerita tentang buku yang pertama kita baca, buku yang paling berkesan dan buku yang pertama kali kita beli dengan uang kita sendiri.

Sep, macam-macam memang kesan yang diceritakan oleh temen-temen. Ada yang bercerita tentang buku Tenggelamnya Kapal Vanderwijk dan bahkan beberapa temen akhwat dengan lugunya mengakui majalah Bobo sebagai buku pertama yang mewarnai bacaan mereka.

Tibalah saat itu giliranku. Tentang buku pertama yang dibaca, buku yang pertama kali dibeli dengan uang sendiri dan, buku yang paling berkesan.

Kalau buku pertama yang im baca... so pasti buku yang kalimat-kalimatnya "Ini Ibu Budi.... Pergi Ke Pasar... Menolong Tetangga bla bla bla...". Temen-temen ga bisa nyembunyiin kejengkelan mereka mendengar jawaban ngaco itu. Hhe... habisnya si pemilik ide ga ngejelasin buku pertama yang gimana yang kita baca, yo wis, it's not my problem.

Tapi ok lah, im ngalah.

Kalau membincang buku yang pertama banget im baca adalah sebuah buku sejarah. Bukunya bersampul hijau dengan cover model jadul. Im temukan buku tersebut di matean, sebuah istilah bagi gudang rumah mbah terletak di sebelah etan/ timur, makanya disebut matean. Itu disaat rumah mbah masih periode pertama dan belum direnovasi secara denah dan tembok semen.

Buku itu berjudul "Sejarah Nabi Muhammad". Untuk ukuran SD dan, im kira belum sampai kelas 4, im sudah membaca buku yang begituan. Alasan ilmiahnya hanya satu, kebetulan. Kebetulan saja pagi hari saat itu im tidak sekolah, im buka gudang mbah dan ternyata disono im temukan buku bersampul dengan warna hijau yang menceritakan tentang sejarah Nabi Muhammad.

'Tibalah di Tahun Kesedihan', itulah jawaban bagi orang yang mungkin akan bertanya 'kok bisa ingat Is...?'. Ya... im sendiri ga tau persis, hanya saja, ketika imajinasi im mundur untuk sekian ratusan tahun lamanya dan bertemu goresan sejarah seperti itu, im menangis. Tumben-tumbennya im menangis baca buku, untuk ukuran umur seperti itu dan untuk buku yang im baca. Syukur lah, air mata kekanak-kanakan yang sampai sekarang masih im ingat adalah hal seperti itu, bukan tangisan mengiba karena mainan yang im tidak punya, Tahun Kesedihan.

Item kedua ialah cerita tentang buku yang pertama-tama kita beli dengan uang kita sendiri. Ndak tau juga yang dimaksud sendiri itu yang bagaimana, sampai sekarang pun seluruh kebutuhan im dibeasiswain dari orang tua im sendiri dan, ketika di Kairo ini uang satu-satunya yang im bersandar juga dari minhah WAMY. Ok lah, anggap aja yang dimaui moderator adalah uang yang entah dari mana yang penting ketika di tangan kita menjadi halal karena sudah menjadi milik kita sendiri.

Im berangkat dari ketika di pondok ketika ada lebih uang jajan dan im tabung sehingga sah saja deh kalau im nisbahkan uang tabungan im sebagai uang im sendiri :P. Ketika menginjak kelas 4, marak dan sering diadakan shoping buku, entah dari bazar kecil-kecilan sampai bookfair yang diadakan pondok di GOR Gontor hampir pertahun. Dari bazar dan bookfair itulah dunia im sedikit lebih terbuka tentang wacana keilmuan. Sedikit mengingat judul buku yang pernah im lirik (walaupun sebagian besarnya ga masuk daftar katalog perpus pribadiku ).

Dan im pun memutuskan memilih buku Tafsir Mimpi sebagai buku yang im beli pertama dari uang im, dari sekian buku yang im beli maka yang im ingat adalah buku tersebut. Apa pasal? Mimpi yang mana dikategorikan sebagai alam goib ternyata bisa menjadi gambaran hidup dan kejadian di alam nyata. Dan memang benar, mimpi atau pun alam goib keseluruhan, sedikit demi sedikit, sebagiannya lambat laun akan bisa dipetakan dan diilmukan secara teori nyata. Bahkan im sendiri pernah mencoba kamus mimpi tersebut ketika mendapatkan anggota yang bercerita tentang mimpi anehnya. Duh, gini aja ya, takut kebanyakan ngebahas alam goib nanti :D.

Sampailah pada item terakhir dari cerita buku yang paling berkesan sampai sekarang. Maka ketika itu im memilih untuk bercerita tentang buku yang im dapat ketika di ITQAN (singkatan dari Ilmy Tarbawy Qurani), instansi im ikuti bergerak di bidang perbengkelan tulis menulis, kajian dan diskusi. Buku itu berjudul "Terapi Sholat Tahajud" dan "Misteri Sholat Subuh". Kedua-duanya menarik karena im yakin kontain dan isi yang dibahas dalam kedua buku ini sangat menarik dan im sedikit punya perkiraan ketika itu bahwa, kedua buku itu bakalan best seller. Eh ternyata benar sekian minggu kemudian agen Ulul Albab dari Solo yang mendistribusikan buku tersebut mendatangkan buku itu dengan label baru di kedua covernya "Best Seller". Dari situ ada kepercayaan diri bahwa im udah bisa milih buku >:D<. Eits, tambah lagi ternyata yang menerjemahkan buku Mister Sholat Subuh tidak lain adalah Ustadz Munaji, senior di Gontor yang sekarang juga menjadi senior mahasiswa di Mesir.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -