Posted by : Alamin Rayyiis Selasa, 07 April 2009


Prolog

Seseorang yang jalan-jalan di sebuah toko perhiasan biasanya akan jeli meneliti 'bahan' apa yang dibuat oleh pengrajin suatu perhiasan tersebut. Kalau dia melihat di toko emas maka dia pun akan menanyakan berapa karat kah kandungan emas dalam cincin atau kalung yang akan dia beli, dia taku kalau yang ia terima nanti justru imitasi dan bukan asli seperti yang diharapkan. Bila seseorang berjalan di toko sepatu maka dia pun akan menanyakan bahan apa yang dibuat, asli dari kulit atau imitasi dari karet. Hal seperti diatas adalah wajar sebagai pembeli, dia akan memantapkan bahan pembuatan sebelum dia membelinya, karena bahan akan erat kaitannya dengan kualitas yang akan dia terima. Rupa-rupanya, si pembeli tidak lantas berhenti setelah menanyakan bahan cikal-bakal sepatu dibuat, karena setelah itu si pembeli menanyakan siapa pembuat atau 'made in' manakah sepatu yang dia incar?

Penciptaan dan Kesalahan Steorotip

Sudah maklum bahwa adanya sebuah penciptaan akan diperhitungkan pula bahan dan yang membuat suatu 'cipta' tersebut, tentunya selama yang mencipta cipta tersebut
adalah manusia yang notabenenya terbatas dengan kemampuan dan selalu terikat dengan ketergantungan-ketergantungan lainnya. Namun begitu, akan berbeda bila yang menciptakan cipta tersebut sebuah kekuatan yang kemampuannya tidak terbatas dantidak pula terikat dengan ketergantungan, karena Dia adalah Maha Pencipta.

Mempertimbangkan penciptaan atas dasar bahan materi dan pencipta adalah wajar bila konteks yang dibicarakan adalah wilayah sosial kemasyarakatan seperti yang dicontohkan dalam prolog di atas. Tetapi bila kita membincang masalah penciptaan sakral keagamaan, maka cara berpikir desakralisasi laiknya kita peritimbangkan lagi. Ajaran langit dalam agama tentu bukan berarti tidak memungkinkannya dijamah pemikiran bumi, namun sejauh mana otoritas berpikir itu mewakili etensitas nash-nash yang sedari awal sudah tertata dengan penjagaan kuat laiknya isnad. Mempersoalkan bias gender yang sementara ini lagi ngetrend, sekelompok orang mengaitkannya dengan awal penciptaan manusia, Adam dan Hawa.

Kami katakan sekelompok orang karena steorotip yang digambarkan nanti memang dipandang sebagai sebuah pencitraan subordinasi yang tidak bersumber jelas. Dampaknya adalah keputusan yang terburu dengan outline pembahasan yang bias visi. Dikatakan dalam ulasan mereka, bahwa adanya subordinasi pemahaman masyarkat yang menomorduakan perempuan dalam posisi mereka sebagai makhluk yang seharusnya 'sederajat' dengan kaum lelaki rupa-rupanya tidak terlepas dari pemahaman masyarakat yang salah terhadap nash agama dalam penciptaan.

Namun sayang, dalam hal ini, kemunculan sumber yang mengatakan hal tersebut tidak jelas. Hingga suatu saat nanti bangunan yang ada dalam kaidah berpikir/worldview Islam akan dengan leluasa goyah dikarenakan methode berpikir yang selalu mengikuti fenomena kemasyarakatan. Apalagi bila hal yang dijamah adalah hal-hal irratio/suprarational dalam agama. Karena perlu kita ketahui bahwa kehidupan berpikir dalam agama disana ada wilayah-wilayah akal yang tidak semuanya bisa ia capai. Dalam hal ini Quraish Shihab membagi wilayah akal dalam agama; Rational, Irrational dan Suprarational.

Pendapat sementara yang dimaksud adalah, kaitan penciptaan Hawa yang menjadi icon perempuan dengan, adanya subordinasi steorotip masyarakat dalam memposisikan wanita secara derajat sosial dan fungsional sebagai second person. Pengulasan tersebut beranjak dari kritik nash yang diback-up dengan kritik penafsiran dari ayat al-Quran dan Hadits Shohih.

Materi Penciptaan dan Posisi Kemanusiaan

Bila yang mereka maksud adalah demikian, maka bagaimana posisi mereka -penyetara gender- dalam menghadapi fenomena penciptaan manusia pasca Adam dan Hawa yang tidak lain diciptakan dari setetes mani yang hina. Apakah lantas manusia bumi yang diciptakan dari setetes mani hina ini dikategorikan dengan posisi second-creation-Nya Allah, atau lantas derajat kita juga dinisbahkan dengan bahan materi penciptaan tersebut.

Secara derajat kenabian memang tidak disangsikan lagi bahwa Adam akan lebih mulia dari manusia biasa yang dicipta dengan mani, tetapi bila membincang imam para Nabi, Muhammad Saw. maka tidak disangsikan lagi bahwa derajat Nabi Muhammad -yang juga dicipta dari mani- menjadi beda dengan derajat Nabi Adam. Dan lagi, bila posisi dan kualitas manusia hanya diukur dengan penciptaan/ kelahiran, maka bagaimana dengan mereka yang terlahir non-Islam dan kemudian menjadi seorang muallaf, apakah tertutup kemungkinan muallaf tersebut mempunyai derajat keimanan yang lebih kurang dari orang yang terlahir sebagai muslim?

Dengan analogi real diatas maka, bagaimana penyetara gender tersebut mamahami dan menafsirkan nash agama yang menyebut secara manthuq 'dan mafhum' "lelaki adalah qawwâmûna 'ala al-rijâl". Siasat bagaimana lagi ketika mereka menemukan bahwa pembagian asas dalam hak waris anak lelaki dan perempuan adalah 2:1. Dan masih banyak lagi ketentuan agama yang secara dhohir terlihat membedakan antara lelaki dan perempuan. Tetapi apakah kaum lelaki akan juga berpikiran demikian –menyamaratakan perbedaan hak perjenis- , ketika wilayah-wilayah keagamaan dan kemasyarakatan hanya berpihak bagi perempuan dan ruang bagi lelaki terbatas baginya. Seyogyanya kita paham bahwa disana ada bagian-bagian yang selazimnya hanya berpihak pada lelaki atau sebaliknya, dimana hak tersebut hanya berpihak pada perempuan tentunya dengan tidak dirugikannya kedua belah pihak, hirâsatu al-fadhîlah.

*Bagian pertama dari tulisan ini membahas tentang perspektif yang dilontarkan dalam journal tersebut dari segi subordinasi pemahaman masyarakat seperti yang mereka dakwakan. Sedangkan bagian II nanti insyaAllah lebih menekankan tentang membincang dalil perseteruan di al-Quran dan Sunnah serta pemahaman ulama klasik dan kontemporer, semoga.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -