Posted by : Alamin Rayyiis Sabtu, 11 April 2009

Seri ngopas :P
===============

Dr. Syamsuddin Arif, salah satu peneliti INSIST, mempunyai kemampuan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, kususnya pemikiran islam. Kecintaanya terhadap ilmu telah membawanya kedalam deretan cendekiawan muslim papan atas di Indonesia. Berikut ulasan yang disampaikan oleh Nuim Hidayat (Peneliti INSIST)

Ditulis Oleh Nuim Hidayat
Saat Dr. Syamsuddin melun curkan bukunya, Orien talis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: GIP, 2008), seorang mantan teman dekatnya semasa kuliah Kuala Lumpur berujar, Saya tidak menyangka dia menjadi seperti ini. Dulu saya sempat khawatir, suatu ketika dia menjadi liberal. Buku itu memang tergolong langka.

Dengan seabrek referensi dari khazanah Islam maupun literatur Barat Syam suddin memberikan kritik-kritik tajam terhadap pelbagai gagasan orientalis. Penguasaannya yang luar biasa terhadap berbagai bahasa (Arab, Inggris, Jer man, Perancis, Latin, Yunani, dan sedi kit Ibrani dan Syriac) menempatkan sosok Syam suddin dalam deretan cendekiawan mus lim papan atas di Indonesia.

Di tengah kesibukan merampungkan disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman, bapak empat anak itu kini aktif mengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM). Di sini, ia juga menjadi rujukan dan tempat bertanya bagi para mahasiswa Indonesia dalam berbagai masalah agama dan pendidikan. Untuk berbagi ilmu, Ia pun mengajarkan bahasa Latin dan logika kepada para mahasiswa secara gratis.

Perjalanan intelektual Dr. Syamsuddin Arif cukup menarik ditelusuri. Pendidikan agama dilaluinya dari aktivitas mengaji di kampung kelahirannya di Pondok Pi nang, Jakarta Selatan. Diantara gurugurunya adalah almarhum Kyai Abbas, Kyai Hasan Murdhi, K.H. Guru Salim, dan Habib Naufal bin Muhammad bin Aqil bin Yahya. Lulus dari Madrasah al-Khai riyah Pondok Pinang (1983), cicit K.H. Namun (dari garis ibu) ini pergi menimba ilmu di pesantren Gontor sam pai tamat 1989.

Selama lima tahun di Kampung Damai itu demikian para santri menyebutnya ia dikenal sebagai salah seorang penekun seni menulis indah alias khattat dan mendirikan AKLAM, akronim dari Asosiasi Kaligrafer Da russalam. Di kemudian hari, Syam begitu panggilan akrab lelaki mungil ini mendapatkan berkah. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) mengirimnya ke Istanbul, Turki selama beberapa bulan demi mempelajari seni khat langsung dari pakarnya, Hasan Celebi, dengan kerjasama IRCICA sebuah lembaga di bawah Organisasi Konferensi Islam. Salah satu buah karyanya adalah logo INSISTS, yang ia reka dalam tempo kurang dari 2 jam.

Syam mengutip ayat Fa Maadza Badal Haqqi Illa ad-Dhalal (Tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan, QS 10:32) sebagai logo INSISTS. Saya berharap, kita mendapat bimbingan Allah un tuk berada pada Kebenaran yang memang datangnya dari Allah, dan tidak tergelincir di jalan yang sesat,ujarnya. Syam juga dikenal dengan keinginannya yang kuat untuk menghafal al-Quran.

Itulah yang kemudian mengantarkannya ke wilayah timur Indonesia. Bertempat di Majlis Qurra wal Huffazh, Tuju-tuju, Kajuara Bone (Sulawesi Selatan). Ia belajar dan menghafal al-Qur'an kepada Petta Lanre Said. Saya sempat menghafal 30 juz, khatam tiga kali, ujarnya. Di samping meraih ilmu, di daerah ini pula ia memperoleh berkah lain: Andi Sri Suriati Amal seorang gadis Bone yang hingga kini masih menjadi istri satu-satunya. Sejak kecil Syamsuddin Arif terbilang kutu buku. Di sekolah, paparnya, Saya me mang bukan yang terpandai, tetapi selalu di atas rata-rata.

Ia meyakini hal itu berkat curahan doa orangtua dan gurugurunya. Semangat menuntut dan men cintai ilmu dipupuk oleh ayahnya, H. Ramli Aminoto. H. Ramli yang berasal dari Aceh, adalah seorang pedagang yang aktif di pengajian dan majlis taklim ula ma. Sebagaimana layaknya anak-anak, saat dikirim ke Gontor oleh ayahnya, hati Syam juga bergejolak. Ia sempat jengkel. Bahkan, sempat terpikir untuk kabur. Tapi, ia tidak berani melawan kehendak ayahnya.Kalau kabur, saya tidak dikasih makan, katanya mengenang. Bahkan, ia pernah dikeluarkan dari kelas gara-gara tidak mengerjakan tugas bahasa Inggris.

Tapi, dinamika itu akhirnya dapat dilalui. Setamat dari pesantren Gontor, Syam sempat melayangkan lamaran bela jar ke universitas Madinah dan nyaris ber angkat ke Iran. Tapi, takdir membawanya kuliah di International Islamic University Malaysia (IIUM) hingga selesai S1 (1996). Meskipun mengambil bidang komunikasi, tetapi kecintaannya kepada ilmu membawanya ke berbagai khazanah keilmuan Islam. Saat mahasiswa, ia aktif sebagai koordinator forum diskusi kampus. Gelar master diraihnya di ISTAC. Di bawah bimbingan Profesor Alparslan Acikgenc ia menyelesaikan tesisnya yang berjudul Ibn Sina Theory of Intuition (1999).

Gelar doktor pemikiran Islam berhasil diraihnya juga di ISTAC (2004) dengan disertasi berjudul Ibn Sina Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam di bawah bimbingan Profesor Paul Lettinck. Terus terang, wawasan keilmuan saya terbangun selama delapan tahun nyantri di ISTAC, akunya. Untuk itu, dia mengaku sangat berterimakasih kepada berbagai pihak, khususnya Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendiri sekaligus rektor ISTAC.

Sebelum ujian doktornya di ISTAC awal Agustus 2003, Syam harus berangkat ke Jerman untuk belajar filologi (ilmu naskah) dan sejarah teologi kepada Pro fesor Hans Daiber, direktur Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Uni versitat Frankfurt. Empat tahun di sana sangat berarti, ujarnya. Dipelajarinya ba hasabahasa Semitik selain Arab (Ibrani dan Suryani), disamping menghadiri ku liah dan menggarap disertasinya tentang pemikiran teologi Sayf ad-Din al-Amidi (w. 631/1233) dalam kitabnya: Abkar al-Afkar.

Kini, kesibukan lelaki kelahiran Jakarta 19 Agustus 1971 ini terbilang luar biasa padat. Semasa tinggal di Jerman, dia sempat mengisi forum-forum pengajian tidak hanya di Jerman, tetapi juga di Belgia, Swiss, Inggris, dan lain-lain. Di Malaysia, aktivitas dakwah juga terus dijalankannya. Ramadhan 1429 Hijriah ta hun lalu, Syam diundang ke Amerika un tuk berceramah di Islamic Cultural Center of New York (ICCNY) dan khutbah Idul Fitri di Masjid al-Hikmah, Queens. Sebagai akademisi, ia terus aktif menghasilkan karya tulis maupun mengikuti berbagai acara temu ilmiah.

Syamsuddin memang memiliki kepakaran yang termasuk langka. Ia bisa dikatakan ilmuwan spesialis Ibnu Sina. Ratusan karya Ibn Sina dan tentang Ibn Sina dalam berbagai bahasa telah dilahapnya. Sejumlah makalah telah dipresentasikannya dalam berbagai konferensi internasional tentang Ibn Sina. Profesor Alparslan Acikgenc memang mendorong Syamsuddin untuk serius mendalami pemikiran Ibn Sina. Katanya pada Syamsuddin, After Fazlur Rahman there is no one in the Muslim world who has done an extensive study on Ibn Sina, you should be the one. Dr. Adian Husaini mengakui, Mungkin, di Indonesia, kini Syamsuddin satu-satunya ilmuwan yang mengkaji pemikir an Ibn Sina dengan sangat serius. Bah kan, Adian memberikan metafor, bisa dika takan, Ibn Sina sudah berada dalam genggamannya.

Meskipun menyukai bidang filsafat, seni, dan berbagai hal yang jelimet lainnya, Syamsuddin mengambil sikap dan posisi yang tegas terhadap kebatilan. Keseriusannya dalam upaya penegakan aqidah dan syariah Islam ditunjukkan, misalnya, dalam keterlibatannya sebagai ketua Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) cabang Malaysia periode 2009-2012.

Menurut Syamsuddin, tidak benar jika il miah itu sama dengan tidak berpihak. Ia menyebut sederetan nama ulama Islam yang sangat tinggi keilmuannya, tetapi kokoh dalam membela aqidah dan syariah Islam. One should be a good Muslim and a good scholar at the same time, ujarnya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -