Posted by : Alamin Rayyiis Selasa, 17 Maret 2009


Al-Risalah adalah kajian im dan teman-teman PCIM Kairo yang khusus mengkaji Usul Fikih, dari sekian banyak kajian yang ada di PCIM im memilih bidang ini sebagai penyempurna fakultas im yang Ushuludin yang notabene kagak bakal ada pelajaran Syariah semacam ini. Al-Risalah mempunyai anggota terbatas dengan semangat disiplin tinggi, sebuah usaha untuk mencerminkan tatanan mahasiswa yang tepat waktu dalam pergerakan.

Kajian tersebut ditargetkan menguasai outline tema dalam pembahasan Usul Fikih secara keseluruhan, waktu yang dijadwalkan adalah dua tahun, dengan masing-masing anggota yang saat ini hanya 9 orang mendapat bagian presentasi 2 judul yang telah disepakati. Setelah selesai 2 tahun pembahasan tema tersebut kami diwajibkan untuk membuat semacam riset dalam Usul Fikih.

Sebuah studi kasus muncul ketika kami anggota kajian al-Risalah melakukan kegiatan rutin mingguan diskusi hari selasa di Hadîqah Athfâl tanggal 10 Maret kemarin. Dengan judul asli al-Mahkûm Fîh dipresentasikan oleh teman kita dari daerah, Tahfana, Muhammad Nasir. Study kasus apaan siih…?

Yang mengutarakan pertanyaan adalah As'ad Fuadi, study kasus yang ia maksud adalah ketika ada fenomena real di masyarakat kita bahwa seorang anak kecil yang secara umur belum mencapai umur baligh -seperti yang dipaparkan dalam makalah bahwa umur baligh adalah 7 tahun- ternyata melakukan tindakan asusila dengan pemerkosaan atau onani, dalam hal ini apakah anak tersebut bisa dihakimi sebagai orang yang harus mendapat uqûbah?.

Pertanyaan tersebut kami kembalikan dulu kepada pemakalah, uraian singkat darinya adalah si anak tersebut ditetapkan sebagai mukallaf, dan ketika ditanya tentang alasan kenapa anak kecil yang belum mencapai 7 tahun sudah dikenakan sebagai mukallaf. Konskwensi dari pernyataan ini tentunya akan melebar ke setiap bagian dari taklif seorang mukallaf itu sendiri, sholat, puasa, haji bila mampu dan hukum-hukum cabang lainnya.

Selebihnya permasalahan diserahkan ke anggota kajian. Dari kesimpulan im dan teman-teman bisa dikatakan bahwa penentuan baligh seseorang dengan kategori umur bukanlah hal yang menjadi patokan absolut. Bisa jadi seorang yang berumur kurang dari 7 tahun sudah mimpi basah, hal ini disebabkan faktor lingkungan yang menggiringnya ke pendewasaan yang tidak alamiah, karena sekalipun dia mengeluarkan mani dengan mimpi namun, secara pandangan psikologi, kedewasaan, dan komponen fisiologi lainnya belum mengimbangi.

Kategori seorang mukallaf yang lain juga tidak hanya diukur dari balighnya seseorang dengan mimpi atau keluarnya mani, akal dalam Islam juga dipertimbangkan sebagai ukuran seseorang menjadi mukallaf atau bukan, kita perhatikan orang gila, sekalipun dia mimpi basah dan mencapai umur lebih dari belasan tahun, namun takif syariat baginya gugur karena dia tidak berakal.

Dan kategori terakhir dalam studi kasusu hal ini juga ditentukan karena syahwat, ketentuan tersebut berlaku sebagai mafhûm mukhâlafah dari adanya kebolehan melihat aurat wanita bagi anak kecil yang tidak mempunyai syahwat, dalam artian belum mencapai umur dimana dia lazim untuk mimpi basah. Oleh karena perbuatannya memperkosa atau onani bisa diyakinkan bahwa anak ini sudah mempunyai syahwat dimana dia tidak lagi diperkenankan melihat aurat orang dewasa.

-> Kesimpulan dari uraian dalam studi kasus diatas adalah, anak tersebut ditetapkan mendapat uqûqubah namun secara taklif dia belum dikenakan. Kata lain dalam kaidah ini, seseorang bisa dikenakan sebagai muâqab sekalipun dia belum menjadi seorang mukallaf. Wallâhu a'lam bishawâb.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -