Posted by : Alamin Rayyiis Kamis, 04 Desember 2008

Agustus setahun lalu.
Masa pengabdian memang masa yang sangat sulit untuk dilupakan, banyak kenangan yang selazimnya menjadikan kita semakin tahu akan banyak kekurangan. Mengenang tidur pagi yang terlampau pulas hingga tidak mempersiapkan i'dad mengajar, atau bahkan ada juga guru yang mempunyai predikat "Guru Telatan", predikat fatal ketika seharunya gelar tersebut berbunyi "Guru Teladan". Kenangan itu ternyata harus berakhir bagi kita yang ingin melanjutkan study akademik di luar pondok tercinta. Masa pengabdian pun harus tuntas ketika kita memilih jenjang perkuliahan bukan lagi di kampus Azhar, kampus idaman sebelah belakang Indonesia Satu, atau sering mereka kenal dengan "RIS Taht" dan "Islandia", lantaran kampus Azhar yang mereka maksud adalah al-Azhar Kairo, negeri seribu menara, negeri Kinanah dan negeri para nabiyullah.

Bermula dari niat menuntut ilmu -semoga kita masih ingat tujuan awal itu-.
Sebuah kebijakan baru untuk kami angkatan pengabdian 2007 bahwa, bagi siapa saja yang ingin melanjutkan study di luar negeri, Timur Tengah khususnya, diadakan ujian seleksi yang direkomendasikan dari pihak direktur KMI. Mengingat banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang memang selayaknya diadakan ujian seleksi seperti ini. Pertimbangan tersebut antara lain, pihak pondok menginginkan kader-kader umat tersebut (baca: kita) agar tingkat keseriusan study diluar negeri tidak hanya ditunjang dengan bekal materil saja, dengan bahasa lain, agar mereka yang berkeinginan menuntut ilmu diluar negeri tidak hanya mereka yang hanya berduit melainkan juga mempunyai bekal keilmuan. Tidak dipungkiri juga bahwa ujian seleksi tersebut ingin membatasi dan menyeleksi tingkat keseriusan para guru yang ingin keluar dari pondok untuk sekedar mengambil cuti tidak mengajar.



Dan, seleksi pertama pun dimulai, dikatakan pertama karena ke depan nanti bakal ada ujian seleksi yang kedua. Materi di seleksi pertama meliputi; Hifdhu al-Quran, 'Ulum al-Quran, Ilmu Kalam, Lughoh Arabiyyah (Nahwu-Shorf-Balaghoh) dan Dirasah Islamiyah (Fiqh-Usul Fikih-Tarikh Islam). Ujian tersebut disajikan secara lisan dan tulisan. Seleksi pertama diadakan, dan, setelah menunggu sekian minggu hasil yang ditunggu-tunggu tidak ada kepastian. Ya, hasil dari ujian seleksi pertama terkesan tidak di-follow up secara serius dari pihak panitia penyeleksian. Lika pertama sudah cukup membuat mental kita down seketika, liku selanjutnya pun tak jauh beda. Kendati demikian, sebagai manusia kita dituntut bijaksana dalam menyikapi hal tersebut, paling tidak persiapan untuk menuju ujian selanjutnya bisa selangkah sudah kita mulai lebih awal dan akan memudahkan untuk ke depan.

Dan alhamdulillah untuk ujian seleksi kedua dari pihak pondok mendapat tindak lanjut pasti. Bagi teman-teman yang lulus mendapatkan duplikat ijazah sebagai persyaratan mendaftar di perguruan tinggi yang mewakili pendaftaran ujian masuk al-Azhar. Setelah secara resmi mendapatkan surat dari pondok, bagai kran air yang terbuka, masing-masing dari kami berburu tempat ujian depag sebagai seleksi ketiga dan terakhir. Dari IAIN Surabaya, Malang, Semarang, Jakarta dan bahkan luar jawa menjadi tempat dimana pemburu ilmu tersebut berusaha meraih batu loncatan pertama dalam jenjang perguruan tinggi.

Berbagai persiapan diupayakan oleh segenap teman-teman, tahu bahwa yang akan diujikan adalah materi-materi yang "pernah" dipelajari, buru-buru kita kembali menjadi santri, kembali membuka buku-buku; Khulasotu Nuuru al-Yaqiin, an-Nahwu al-Wadhih, al-Balaghoh dan buku lain yang menunjang kesuksesan menjawab soal. Adanya image bahwa ujian ke mesir lebih mudah dari ujian shofu sadis tidak lantas menjadikan semangat belajar teman tambah loyo. Dan ternyata mitos tersebut sangat fatal mengingat ketika kita menghadapi ujian ternyta format ujian lebih sulit dibandingkan dengan ujian seleksi depag tahun-tahun kemarin.

Menunggu, kalau yang ditunggu adalah suatu masa waktu kepastian maka enjoy aja, tapi, kala yang ditunggu adalah masa waktu yang tidak pasti, yang ada hanya bosan, dan, membosankan. Rentang waktu sekian bulan yang lampau, ketika segala yang berhubungan dengan ujian telah usai. Ketika masa pengabdian pun juga demikian. Masing-masing dari kami menjadi orang yang dalam penantian, bimbang, dan rasa ragu tak menentu. Yang bergelayut di otak adalah; meneruskan pengabdian atau memutuskan mengambil ijazah dan meneruskan pendidikan tinggi diluar? Luar pondok atau luar negeri?


Tidak lama untuk mengetahui siapa saja yang dinyatakan lulus oleh depag, karena selang beberapa minggu nilai ujian seleksi dan pengumuman kelulusan sudah bisa dilihat di webisite resmi dipertais, dalam pernyataannya pun kelulusan kami dibagi menjadi dua; lulus dengan beasiswa atau non-beasiswa. Dan selanjutnya bisa teman tebak sendiri teknis pemberangkatannya yang lumayan njlimet, walaupun ada juga teman yang notabenenya lulus dengan beasiswa tapi karena ingin mendahulukan menuntut ilmu, haknya pun ia relakan untuk tidak diambil dan langsung berangkat dengan teman-teman yang non-beasiswa.

Tahu bahwa kelulusan sudah diumumkan, bak jamur di musim hujan, banyak pihak mediator yang mulai menggaet banyak peserta, slogan dan iklan resmi atau non-resmi pun banyak beredar diantara teman-teman yang sudah memantapkan niat untuk study di Mesir. Bahkan untuk mengefisienkan kinerja bersama antar mediator pihak KBRI Kairo menetapkan standar bersama terkait jumlah uang yang dikenakan, dan biaya tersebut adalah tidak boleh lebih dari 15 juta. Dan sebagai warga IKPM, kami sebagian besar memilih mediator dari IKPM sendiri yang biayanya juga relatif termurah yaitu 8 juta.

Untuk kesekian kalinya, waktu efektif kami tersita lantaran visa yang seharusnya keluar bulan November telat hingga Desember. Bukan lantaran mediator kami mematok harga murah kemudian visa kami terhambat sebulan, karena memang mediator lain pun mengalami kendala yang sama walaupun mereka mematok tarif pemberangkatan lebih. Alasan yang cukup krusial dan bisa dimafhumi oleh kami kepada pihak mediator, senantiasa mereka sudah berkali-kali untuk mengusahakan visa tersebut, namun apa daya, karena akar permasalahan ternyata bersumber lebih dari itu, permasalahan regional Indo-Kairo lah yang menjadi problem kenapa waktu sebulan tersebut bisa menjadi waktu nihil tanpa kepastian.

Dan, tepat 3 Desember 2007, setelah sekian hari sebelum itu visa kami keluar, sekelompok mahasantri Gontor yang nantinya menjelma menjadi generasi ber-laqab "Nozha" berkumpul di bandara internasional Soekarna-Hatta. Tercatat sebanyak
-kurang lebih- 35 orang dibawah mediator keberangkatan IKPM. Pukul 22.00 WIB take off pesawat, selang beberapa puluh menit transit pertama di negeri yang diisukan menjadi basis utama Yahudi di Asia Tenggara; Singapura. Tidak lama setelah itu Emirate Fly -pesawat andalan Dubai sekaligus menjadi sponsor utama kesebelasan Arsenal- kembali terbang dengan tujuan kandang Emirate sendiri, Dubai.

Masih teringat, suasana subuh kala itu di Dubai Airport. Sejenak menunggu waktu sholat tiba, obrolan ringan antar teman kembali meramaikan bandara tersebut. Karena, untuk sekian belas bulan lamanya teman seangkatan dan kakak kelas terpisah di tempat pengabdian masing-masing, moment yang tepat untuk menyatukan kenangan sebagai awal pemupukan persahabatan, karena kedepan kami menjadi sebuah kekuatan yang diharapkan mampu untuk menjadi duta bangsa sekaligus sebagai duta pondok tercinta.

Entah apa saja yang dilakukan teman-teman kala itu, selang waktu fajar hingga pukul 09.00 pagi waktu Dubai kami hanya kongkow di aula besar bandara, tidak ada acara jalan-jalan keluar airport, sekalipun itu menginjakan tanah telanjang negara yang mempunyai pulau unggulan pariwisata bernama "Palm Island", pulau buatan di pinggiran laut Dubai yang dibentuk persis menyerupai pohon palm, pohon khas negara tersebut. Kami hanya berkutat di dalam, sesekali memandangi bule-bule yang berjalan disekeliling aula, walaupun sebenarnya kita lebih pantas untuk memandang derajat kita sendiri, mengingat, sejak kita keluar dari daerah teritorial udara Indonesia kita juga mempunyai status yang sama; Turis.

Emirate Fly sudah kembali ke kandangnya; Dubai Airport. Perjalanan selanjutnya adalah Dubai-Alexandria, burung besi yang kita tumpangi tidak lagi seluas tadi, karena yang mengantar tujuan kita ke Alexandria kali ini hanyalah pesawat Air-Bus yang notabenenya lebih sempit dari pesawat berjenis Boeing.

4 Desember 2007, sore hari.
Akhirnya rombongan kami yang ditemani beberapa teman pemberangkatan almamater dari Padang dan lainnya, tiba di bandara Alexandria, bandara kecil yang kepemilikan resminya adalah milik perusahaan penerbangan Emirate. Jauh dari yang kita bayangkan ketika mendengar Alex, Alexa dan Alexandria di layar lebar. Gambaran yang terlintas adalah suatu kemegahan, keindahan dan hal-hal yang berbau elit, namun tidak demikian dengan bandara ini, kecil, biasa, dan hanya biasa-biasa saja. Mengingat bandara dimana pesawat kami mendarat bukanlah bandara internasional Alexandria atau Kairo, melainkan bandara perwakilan dari pesawat Emirate sendiri.

Bus yang seharusnya dijanjikan gratis sebagai pelayanan Emirate pun tidak jadi kami tumpangi untuk menuju ke Kairo, alias menuju kesekretariatan IKPM yang akhirnya kami tahu terletak di Hay 'Ashir, kalimat yang cukup menyita daun telinga kala itu. Hingga sebelum mentari tenggelam diufuk barat, dan mungkin di negeri kami sehari lalu, jam Waktu Indonesia sudah menunjukan pukul 11 malam, pihak mediator yang sudah susah payah mencari Bus di kota berhasil tiba di penghujung senja. Dan dengan bus itu kami melaju ke kota Kairo.

"Ahlan wa sahlan….." sambutan sederhana teman-teman yang mendahului kami di pinggiran jalan raya menuju kesekretariatan IKPM. Kakak-kakak senior kami yang menyambut di halaman depan kesekretariatan, seolah-olah mendapat angin baru ditengah malam musim dingin. Wajah-wajah lama yang mengingatkan hal-hal baru, tegur sapa, ramah tamah sederhana diselenggarakan singkat sebagai acara seremonial penyambutan kami, sebagai anak baru, mahasiswa baru dan anggota baru bagi keluarga pondok yang di Mesir.

Dan saat itu, hingga kini, dan untuk masa ke depan nanti, kami senantiasa melangkahkan kanan sembari kiri mengikuti, membuka lembaran baru di bumi Musa, pun juga bumi dimana sosok Fir'aun diabadikan, dua sisi mata uang yang selalu mempunyai andil dalam perjalanan hidup mendatang. Tercatat hingga sekarang…………. [ SILAHKAN DIISI DENGAN PERINCIAN TEMEN2 NOZHA PERFAKULTAS]

Tanah Mesir memang selalu menjanjikan bagi mereka yang mempunyai nilai tinggi dalam berangan. Dikatakan untuk "yang berangan" karena memang banyak diskripsi yang dalam angan-angan tersebut setelah dibuktikan dengan mata kepala sendiri, maka terbukti, diskripsi tersebut hanyalah angan-angan belaka dan tidak se-real yang kita citakan. Berharap kita mempnyai lembaran kertas berwarna biru, ternyata yang kita dapati kertas berwarna abu-abu. Sekalipun demikian, bukan suatu kesalahan bila kita bermimpi demikian, karena semua hal itu beranjak dari mimpi, cita-cita, angan-angan dan harapan, tapi yang membuat beda dari yang lain adalah kita bisa menerjemahkan sejuta mimpi tersebut dengan terus berusaha nyata dan tetap selalu berdoa. Dan, semoga sukses Nozha…! Salam hangat dan jabat erat selalu kebersamaan.

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. Hello, I like the blog.
    It is beautiful.
    Sorry not write more, but my English is bad writing.
    A hug from Portugal

    BalasHapus

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -