Posted by : Alamin Rayyiis Jumat, 12 Desember 2008

Bu Chamamah, demikian sapaan akrab beliau. Terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara; kakaknya adalah seorang wanita dan dua adiknya masing-masing laki-laki dan wanita. Dominasi putri di keluarganya tidak lantas menjadikan sosok beliau lemah. Sedari kecil dari darah sang Ayah mempunyai keinginan agar anak-anaknya mempunyai peran dan manfaat untuk masyarakat secara maksimal.

Sebuah pengajaran dari beliau dalam mengalami awal masa anak-anak dahulu adalah pendidikan keluarga yang secara kontinyu dibangun oleh orang tua. Suatu contoh adalah ketika Chamamah kecil memasuki bulan-bulan puasa atau Ramadhan. Masa satu bulan diwaktu sekolah dahulu adalah libur selama satu bulan penuh. Tapi sangat beruntung beliau mempunyai seorang ayah yang produktif dan aktif, ayah Chamamah merelakan dan membiarkan anak-anaknya dalam keadaan kosong, "libur" semata.

Ayah beliau mendirikan sebuah sekolah pribadi di rumah, kegiatan belajar mengajar di rumah tetap menjadi sarana utama dalam mendidikan Chamamah kecil. Pendidikan dan pengajaran yang persis di sekolah dipraktekan di dalam rumah; ayah memakai pakaian guru dan Chamamah kecil beserta saudaranya memakai pakaian sekolah. Dalam rumah tersebut juga diajarkan pelajaran-pelajaran pendukung dan extra kurikuler semisal pelajaran Khot, mengaji, dan membaca kitab-kitab turats. Buku-buku seperti Ihya' Ulumuddin karya Ghazali dan Tafsir Jalalain sudah mulai dikenalkan oleh ayahnya lewat sekolah rumah oleh ayahnya, kehidupan seperti itu secara istiqamah dan konsisten dijalani hinggan tinkat Sekolah Menengah Atas.


Kegiatan belajar mengajar di sekolah rumah yang menurut teman-teman Chamamah cilik adalah aneh tidak lantas membuat mental wanita tersebut down, pernah suatu saat, ketika ayahnya melihat Chmamah cilik memperhatikan kehidupan yang berbeda dengan mayoritas anak-anak sebayanya yang tidak melakukan sekolah rumah beserta ayah-ayah mereka tersebut, sang ayah berujar "Ya sudah, jadi anaknya saja sana…!". Dari hal tersebut, bisa kita petik bahwa istiqamah dan konsistensi perlu terus dipupuk dan perlu ketegasan dalam menjaganya.

Walaupun demikian, bukan berarti masa kecil Chamamah kurang bahagia, sang ayah masih memberikan beliau waktu untuk berlibur, dan bahkan keluar daerah atau provinsi. Namun, hal yang bisa dicontoh disini adalah cara bagaimana Chamamah cilik menghabiskan masa liburan di rumah teman. Tak terlepas dari kebijaksanaan ayah, tetap ada sarat dalam menjalani liburan tersebut, sang ayah menyaratkan untuk anak-anaknya agar hafal sekian surat tertentu ketika kembali ke rumah sekembalinya dari liburan di rumah teman. Hal tersebut secara tidak langsung memberikan kontribusi lebih bagi Chamamah dalam ilmu al-Quran. Bahkan hafalan semacam surat al-Kahfi atau al-Jum'ah dikuasainya sewaktu liburan.

"Jadi kalau liburan di rumah temen tidak sekedar ngalor ngidul, tapi juga dimanfaatkan untuk hal-hal demikian, karena kalau kita tidak bisa menepati janji untuk ayah atau ibu untuk menghafal ayat-ayat suci, kan saya malu, lha zaman sekarang masih ada nggak seorang anak yang malu sama orang tua disebabakan hal seperti itu..?" Ujar Bu Chamamah prihatin dengan kondisi muda-mudi Indonesia masa kini.

Sekelumit cerita dari beliau akhirnya sampai juga hingga masa dimana beliau menginjak remaja dan memasuki jenjang perkuliahan. Tahun 1959 setelah beliau lulus SMA, Chamamah melanjutkan pendidikannya di UGM (Universitas Gajah Mada). Masa kuliah beliau benar-benar dijalani sebagai seorang mahasiswa yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap kegiatan keilmuan. Kuliah hingga sore atau malam, menjalani pengajaran dengan enjoy, dan pengerjaan tugas dari dosen.

Salah satu pribadi menarik dari Chamamah remaja adalah menjalani kegiatan belajar mengajar dengan tanpa beban. Hataa beliau juga sempat menjadi aktivis organisasi Nasyi'atul Aisyiyah, suatu organisasi perempuan dalam ormas Muhammadiyah. Disanalah Chamamah mulai aktif dalam pergerakan dan organisasi. Dan hal tersebut tidak lantas membuatnya kewalahan dengan kegiatan utama kuliah, belajar. Terbukti dari hal tersebut, suatu ketika beliau diminta ujian, dimana ujian klasik kala itu tidak seperti sekarang yang dilakukan dengan waktu tertentu dan bersamaan dengan teman-teman lainnya, melainkan sendiri-sendiri dan waktu yang tidak terjadwal, beliau selalu siap dan mendapat hasil yang memuaskan, semua itu tidak terlepas dari pembiasaan waktu kecil dengan menunaikan tugas sederhana semisal PR (Pekerjaan Rumah) atau tugas-tugas lain dari guru.

Lebih lanjut kita ingin berkenalan dengan sosok ayah Chamamah yang sedemikian rupa sukses dalam mendidik anak-anaknya, Bu Chamamah pun bertutur tentang ayahnya. Ayah Chamamah cilik dulu sekolah di sekolahan Belanda. Dan pernah tinggal di Mekah selama 15 tahun. Dilatar belakangi pengalaman spiritual dan keilmuan agama sedemikian rupa menjadikan buah hati sosok ayah tersebut menjadi seorang sukes seperti sekarang. Sosok ayahnya pun dikenal oleh banyak orang-orang dan pemuka Muhammadiyah. Pak AR. Fakhruddin (Pemimpin Pusat Muhammadiyah tahun 1968-1990-an), Pak Muqaddas dan tokoh organisasi seperti Aisyiyah Hilal dan lain-lain sering berkonsultasi ke ayah beliau. "Kalau ada pertanyaan mengenai hukum atau permasalahan lain, ayah saya tinggal bilang; coba buka lemari sana, buku ini, halaman ini, saking sudah nglotoknya ilmu ayah". Hingga suatu saat sang ayah meninggal.

Dan hal tersebut menjadikan sebuah episode tersendiri bagi Chamamah kecil. Ia sadar bahwa dia tidak akan bisa mewarisi semua ilmu dari ayahnya, dia harus berusaha dengan lebih giat. Suatu contoh yang sangat terenyuh bagi keluarganya saat itu bahwa, memang ada harta benda yang diwariskan ke keluarganya, tapi buku-buku dan sumber keilmuan lainnya tidak diwariskan kepada anak-anaknya melainkan dijadikan waqaf untuk keluarga. Hal itu mencerminkan bahwa sebagai keturunannya haruslah menjaga tradisi keilmuan dan menjunjung tinggi kedudukan ilmu, anak cucunya kelak haruslah bisa mengikuti jejak para pendahulunya dalam berburu dan mengamalkan ilmu.

Tradisi pendidikan yang serius dengan keilmuan dibawa oleh Chamamah hingga jenjang kuliah, meninggalnya ayah bukan berarti hilang sudah semua warisan berharga darinya. Di perkuliahan, ketika remaja Chamamah mengakui menjadi seorang yang "serius". Komunitas yang ramai dan teman-teman yang banyak menghabiskan waktunya untuk tidak belajar bukanlah menjadi komunitas beliau. Perbendaharaan materi bolehlah dikatakan kalah, tapi untuk kemandirian Chamamah menjadi seorang yang dapat dihandalkan.
Sebuah contoh yang terenyuh; suatu ketika Chamamah mempunyai seutas kalung, tapi disisi lain dia harus mempunyai sepeda untuk perjalanan sekolahnya. Sebagai bentuk kemandirian dan prihatinnya, maka kalung tersebut dijual untuk bisa membeli sepeda. Tidak cukup sampai situ, ketika mempunyai sepeda pun juga masih dituntut untuk tetap menjaganya, hingga almarhum ayahnya dulu membelikan seperangkat alat untuk membenarkan sepeda, ya, semua itu dilakukannya dengan sendiri, dan Chamamah adalah seorang perempuan. Sungguh, suatu cerminan dari kehidupan yang indah dari seorang perempuan.

Salah satu kunci yang diwariskan dari ayahnya adalah; keprihatinan. "…Orang kalau masih sekolah harusnya prihatin…". Kalau ada hal yang dikerjakan dan itu halal dan baik maka tidak usah malu untuk mengerjakannya. Prihatin sangat ditekankan dan dipupuk sedari Chamamah kecil. Menurut beliau kita tidak boleh tergelincir dalam hegemoni mode, kehidupannya sekolah dulu yang mungkin kontras dengan mayoritas teman-taman lainnya tidak lantas menjadikannya sebagai orang yang termarginal dari komunitas sosial.

Tahun 1963 Bu Chamamah diminta menjadi asisten dosen di UGM, dan ditahun teresbut beliau langsung mendapat SK dari pihak universitas. Karir dan pergulatannya dengan bahasa Arab, bahasa ayahnya selama di Mekah, dimulainya sejak menjadi asisten dosen tersebut. Banyak penelitian yang ia kerjakan mengenai bahasa Arab, penelitian bahasa Arab bahkan diakui dijadikan sebagai pekerjaan sehari-hari. Semua expresi yang berkenaan dengan bahasa tersebut diteliti. Majalah, buletin, koran, buku dan media elektronik lainnya dijadikan bahan peneletian. Hingga simpul akhir dari peneltian beliau waktu itu menetapkan hipotesa tentang pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa Indonesia. Dicontohkannya kala itu adalah adanya beberapa kalimat Indonesia yang aslinya adalah dari bahasa Arab, seperti kata "'iqal" yang dalam bahasa indonesia berarti "ikatan"/ "ikal". Kata "arti" dari bahasa sanskerta dan dalam indonesianya dibahasakan sebagai "makna", dan makna adalah bahasa Arab yang diindonesiakan. Lebih lanjut bahkan beliau berkesimpulan bahwa, Bahasa Indonesia tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa ada asimilasi dari bahasa lain terutama Bahasa Arab yang mendominasinya.

Mahasiswa UGM harus berterimakasih terhadap sosok Chamamah kala itu, karena keaktifannya dalam meneliti Bahasa Arab, maka ditahun tersebut beliau mendirikan fakultas sastra Arab di UGM. Sejak itu perturakan pengajar dari Arab semakin gencar dilakukan oleh pihak universitas. Tenaga pengajar dari Riyadh, Saudi Arabia, Mesir dan lainnya didatangkan dalam rangka mendukung fakultas baru yang didirikannya. Sosok mahasiswi UGM seperti dia dipandang aneh oleh mahasiswa lainnya ketika dengan lancar Chamamah menguasai ilmu tatanan Bahasa Arab seperti; Shorf, Nahwu Balaghoh dan lainnya. Beliau lulus S1 dari UGM tahun 1967. Masa wisuda beliau waktunya diundur, karena kelulusan yang terlampau awal sedang senior beliau belum lulus, oleh sebaba itu dia harus menunggu senior-seniornya diwisuda.

{ 1 comments... read them below or add one }

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -