Posted by : Alamin Rayyiis Sabtu, 05 Juli 2008


Polemik Antara “Pewahyuan” dan “Wahyu”
Oleh: Muhammad Amin R.*

Muqaddimah
Wahyu merupakan bentuk komunikasi antara penghuni alam al-ulya dengan alam al-sufla lebih implisit lagi adalah antara Tuhan dan Rasulnya, khaliq ke makhluqnya. Hal seperti ini sebelumnya disangksikan justru oleh mereka yang mengaku mempunyai pandangan/ keilmuan yang maju. Bukan suatu hal yang aneh lagi kalau ada seorang orientlis barat berasumsi bahwa wahyu al-Quran dan as-Sunnah dalam Islam tidak lain hanyalah produk Muhammad sendiri dan nihil didalamnya esensi dan subtansi ketuhanan [devine subtantion].
Tapi di era yang sama ketika negeri-negeri orientalis itu mengalami proses Renaissance, ketika itu hal-hal yang dianggap abstrak dan tidak terdeteksi oleh pengindra logis [panca indra dan kemampuan akal manusia] justru semakin terbuka, juga adanya hubungan metafisika, tafsir mimpi, proses-proses intuisi dan hubungan-hubungan sosiologi atau psikologi manusia. Lebih dari itu, yang menguatkan tentang kemungkinan suatu komunikasi kasat mata juga dikuatkan dengan adanya hal-hal yang menyinggung tentang energi dan gelombang ke-elektromagnetan. Orang bisa saling berkomunikasi dengan “perantara” yang kasat mata. Maka sekali lagi hal-hal diatas menunjukan bahwa komunikasi supranatural antara Tuhan dan Rasulnya memanglah ada celah kemungkinannya. Dan hal itu sudah terbukti ketika Allah mewahyukan kalamnya kepada Utusan-Nya sekaligus menjadi penutup dan pelengkap wahyu-wahyu sebelumnya.
Setelah mempelajari kemungkinan adanya wahyu maka kita akan melangkah lebih, yaitu tentang wahyu itu sendiri, definisnya secara etimologi dan epistemologi. Secara etimologi atau bahasa wahyu berasal dari kata; wakha; wahyan atau aukhaa; iikhaan, yang mempunyai arti arsala; mengutus dan alhama; mengilhamkan [ Mu’jam al-Wajiz cet. 2003]. Dari kata dasar tersebut bisa diartikulasikan selanjutnya sebagai; pembicaraan/ komunikasi antara dua pihak yang tersembunyi dari selainnya, suatu isyarat yang cepat dengan perkataan atau tanda-tanda lainnya dari suar ghoib dan bahkan penjelmaan secara fisik. “Wahyu” adalah masdar dan derivasi dari asli kalimatnya sebenarnya mempunyai dua point inti yaitu, ketersembunyian [al-khofaa’] dan kecepatan [as-sur’ah].
Dalam buku Mabahits Fii ‘Uluum al-Quran karangan Manna’ al-Qaththan, disebutkan bahwa kata dasar wahyu secara bahasa bila diderivasikan akan mempunyai makna sebagai berikut:
1. Ilham fithry untuk manusia, seperti wahyu Allah untuk ibu Musa “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para rasul.” [al-Qashash: 7]
2. Ilham instink bagi hewan seperti firman Allah untuk lebah “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia” [an-Nahl: 68]
3. Isyarat cepat yang berupa symbol atau tanda-tanda, seperti wahyu Allah untuk Nabi Zakariya “Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda." Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat - Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang” [Maryam: 10-11]
4. Bisikan-bisikan dari setan yang merupakan gangguan bagi manusia “……..Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” [al-An’aam: 121]
5. Perintah-perintah dari Allah untuk malaikat sebagai taklif untuk mereka “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka (anggota tangan dan kaki)” [al-Anfaal: 12]
Sedangkan wahyu Allah untuk para nabi dan rasulnya mempunyai definisi sebagai berikut:
1. Kalam ilahi yang diturunkan atas nabi dan rasulnya [bilamana dimaknai wahyu sebagai ism maf’ul].
2. Suatu ‘irfan dan ma’rifat yang ditemukan oleh seseorang dalam dirinya dengan keyakinan penuh bahwa ia adalah bersumber dari Allah, dengan perantaraan atau tanpa perantaraan [oleh Syaikh Muhammad Abduh dalam bukunya Risalah at-Tauhid bilamana dimaknai wahyu sebagai masdar].
Terlihat jelas bahwa dalam pemahaman konsep wahyu disana ada dua sumber, secara bahasa dan syar’i. Rujukan pertama yaitu secara bahasa memungkinkan bagi siapa saja dengan bentuk dan sudut pandang mana saja untuk bisa menalarkan wahyu sesuai dengan kecenderungan pribadi -subjektif-, tapi ketika kita sudah mengenal apa itu wahyu secara syar’i maka tidak ada celah lagi bagi kita untuk secara bebas dan liberal dalam mengemukakan pendapat yang subjektif tersebut. Wahyu yang sudah ditetapkan sebagai kalam ilahi yang diturunkan ke hati/ fuad nabi Muhammad. Wahyu juga layak disebut sebagai makrifat/ irfan/ ilham sekalipun bila disebut secara mufrad masing-masing mempunyai perbedaan dan kekhususan. Wahyu nabi dan rasul berbeda dengan yang lainnya secara sumber dan cara penyampaian. Sumber wahyu adalah mutlak langsung dari Allah Swt dan cara penyampaian ilmu/ wahyu tersebut dengan metode hudhuri bukan hushuli, dalam artian, ketika mulaqqi[yang memberikan wahyu] menurunkan wahyu tersebut maka mutalaqqi[yang diberi wahyu] mempunyai sikap ketundukan dan menerima apa adanya, tanpa tambahan atau pengurangan.
Antara “Pewahyuan” dan “Wahyu”
Pewahyuan, bila kita ambil kata kunci masdar tersebut adalah dari iikhaa. Pewahyuan al-Quran adalah ketika kalam ilahi tersebut dirinci secara kronologis dari sumber wahyu, pengantar wahyu, penerima wahyu hingga proses yang mereka anggap sebagai humanisasi dari devine revelation. Proses pewahyuan adalah kolektif atau kerja sama dari banyak pihak, bisa dimaklumi dari istilah dasar yang mereka ajukan, proses. Proses pewahyuan tersebut mereka rinci dari sumber pemberi wahyu, pengantar wahyu, penerima wahyu dan sejumlah kondisi lain yang mereka anggap termasuk pula yang mencampuri urusan wahyu.
Mereka memulai dari pihak pemberi wahyu –sumber wahyu-, Allah Swt. Dalam al-Quran lafadz awhaitu [aku mewahyukan] dalam Mu’jam al-Mufahrash li-Alfaadhi al-Quran terrsebut hanya 8 kali, sedangkan lafadz auwhayna tersebut lebih dari 30 kali. Dhamir na seperti yang kita ketahui adalah bentuk plural atau jamak dari banyak pihak, lebih lanjut mereka mengkaji hal tersebut dari sini. Bahwa “kami” sangatlah tidak relevan kalau dimaksud sebagai ta’dhim, kalau yang dimaksud dengan ta’dhim disini adalah mengagungkan si pembicara maka disinilah letak kesalahan tersebut, menurut mereka bila kita mengucapkan kata-kata “kita” untuk mewakili satu pembicara maka sebenarnya yang diagungkan oleh pembicara adalah pihak kedua tersebut, mukhathab dan mustahil bila Allah mengagungkan manusia sebagai mukhathab dengan menyebut dirinya yang Tunggal dengan kata pengganti plural.
Proses pewahyuan yang bersumberkan oleh pihak plural [banyak pihak] juga mereka kuatkan dengan asumsi mengenai siapa saja yang bersinggungan dengan turunya wahyu al-Quran tersebut. Jibril malaikat penyampai wahyu, nabi Muhammad sebagai manusia yang meng-humanized-kan keilahiahan wahyu serta komponen lain ketika al-Quran turun di negeri Arab termasuk ketika bahasa redaksi yang digunakan Allah dalam wahyunya, yaitu bahasa Arab.
Menurut pandangan mereka Jibril juga mempunyai peran dalam proses penurunan wahyu, hal ini mungkin bisa menjadi MOU untuk semua pihak pengkaji al-Quran mengingat tugas malaikat Jibril adalah menurunkan wahyu. Yang menjadi karangan amibigu para orientalis adalah ketika peran tersebut tidak secara jelas mereka jabarkan. Bukan suatu masalah bila dikatakan “Jibril berperan dalam proses pewahyuan”, yang tidak bisa diterima adalah anggapan bahwa Jibril menjadi tangan kesekian [campur tangan] dalam subtansi wahyu itu sendiri. Dan dalam keadaan seperti itu maka bukan suatu masalah bila dhomir na dalam pewahyuan [iikhaa’/tanzil] memiliki arti plural.
Produk lain yang diusung adalah ketika wahyu al-Quran menggunkan redaksi berbahasa Arab, qishas al-Quran pun tak luput dari hujatan. Bahasa Arab digunakan sebagai redaksi wahyu menunjukan bahwa keilahiaan wahyu sudah sedemikian rupa terhumaniorakan karena factor bahasa yang digunakan menggunakan bahasa manusia hingga disimpulkan dari hal tersebut bahwa al-Quran hanya khusus bagi kalangan Arab saja, mereka menguatkan dengan kisah-kisah al-Quran yang hanya memuat cerita tentang negeri yang berdekatan dimana wahyu diturunkan, sedangkan peradaban-peradaban diluarnya; peradaban India, China dan lainnya tidak disebutkan. Kalau mereka jujur tentang dakwaan tersebut maka seharusnya mereka juga mengkritisi semua kitab samawi sebelum Quran; Taurat, Zabur dan Injil. Karena semua kitab tersebut juga menggunakan bahasa manusia. Dan mengenai kisah-kisah dalam Quran karena negeri-negeri tersebutlah yang menjadi saksi sejarah yang menjadi medan perjuangan para nabi-nabi terdahulu yang memperjuangkan tauhid. Sangat berlebihan bila mereka menghujat hal tersbut dan berharap untuk dimasukkannya kisah-kisah lain yang menceritakan tentang negeri-negeri yang mereka harapkan.
Yang menjadi point kunci bagi kita adalah subjek tunggal sumber wahyu bukan berapa pihak yang bersinggungan dalam proses pewahyuan. Mari kita merujuk kembali penjelasan al-Quran dalam menyikapi tantangan tersebut, biarlah “wahyu” itu sendiri memberikan I’jaznya di surat az-Zumar ayat 1 dan 2: [1] Kitab (Al Qur'an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [2] Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tidak ada yang salah keterangan wahyu di atas, sesuatu keputusan final yang dijelaskan oleh al-Quran sendiri. Kit perhatikan ayat pertama yang mengandung pengertian bahwa sumber wahyu adalah Allah itu sendiri, tidak ada campur tangan dalam orisinalitas wahyu ilahi. Semuanya adalah produk mutlak dari Allah.
Disela-sela banyak kajian orientalis yang mendiskritkan dengan kajian-kajian keilmuan tentang quran dalam pihak muslim sendiri juga terjadi rekontruksi-rekontruksi keilmuan klasik yang sudah menjadi prodk paten dalam ijma’ ulama’. Dr. Nashr Abu Zaid dan M. Shahrur bin Daib Tahir. Yang pertama adalah seorang pemikir Mesir yang divonis murtad oleh ulama’ Azhar Mesir karena kelancangannya dalam menyikapi dan mengkaji al-Quran secara kontra-produktif dengan apa yang telah menjadi kajian orisinil para ulama’ muslim lainnya. Sedangkan M. Shahrur adalah seorang sarjana tehnik sipil berkewarganegaraan Syuriah. Karangan Shahrur yang menjadi titik tolak pemikir liberal Indonesia adalah bukunya berjudul al-Qira’aah al-Mu’ashirah, buku tersebut telah dikounter oleh ulama’ Syuriah sendiri sebanyak tidak kurang dari dua lusinan judul buku. Lengkap sudah kritikan yang ditujukan al-Quran sebagai bentuk pengujian mu'jiat itu benar-benar harus diuji sebgai syarat mutlak adanya mu'jizat [Yusuf Qardhawi; Kaifa Nata'amal bi al-Quran]. Dr. Nashr Abu Zaid sebagai wakil dalam naqd al-khariji yang mengkritisi Quran dari segi proses pewahyuan dan Ir. M. Shahrur mewakili naqd ad-dakhliy yang getol dalam meluncurkan kajian-kajian yang jauh dari literature keislaman secara intensive dalam mengkritisi matan Quran itu sendiri.
Terlepas dari hal di atas, sesungguhnya Nabi Muhammad hanyalah pengemban amanat pewahyuan seperti para nabi dan rasul sebelum beliau. Mari kita kembali ke sejarah pewahyuan itu sendiri, sejak kali pertama Allah menurunkan wahyu kepada utusannya keseuanya mengandung satu perintah ilahiyyah; untuk hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya. Dalam hal aqidah semuanya mepunyai satu hadf tapi dalam hal syari'ah setiap nabi atau rasul mempunyai kekhususan masing sesuai dengan kepada siapa nabi tersebut diutus, kaerna tidak ada seorang nabi atau rasul yang diutus untuk seluruh umat kecuali hanya nabi Muhammad. Seperti apa yang diterangkan al-Quran; walaqad arsalnaa Nuukhan ilaa qaumihi [al-'ankabut: 14], wa ilaa 'Aadin akhaahum Huuda [al-a'raaf: 65], wa ilaa Madyana akhaahum Syu'aiban [al-'ankabut: 73], wa ilaa Tsamuuda akhaahum Shaalihan [al-a'raaf]. Dari ayat tersebut bis kita konklusikan bahwa kesemua rasul dan nabi selain nabi Muhammad mempunyai peran wahyu yang terbatas dengan kaumnya, sedangkan wahyu nabi Muhammad adalah untuk seluruh kaum, dan adanya wahyu tersebut juga sebagai wahyu pamungkas yang menutup celah untuk adanya penafsiran-penafsiran baru yang jauh dari teks atau konteks al-Quran; Dan tidaklah kami utus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Kalau saja mereka beranggapan bahwa Muhammad itu sendiri lah yang menciptakan wahyu maka kesemua itu adalah analisa yang sangat tidak ilmiah. Sangat berbeda antara Sang Pencipta dan Rasulnya. Allah mempunyai kesempuranaan tapi Muhammad justru pihak yang dibersihan dari khilaf. Bahwa sesekali pernah rasul merasa gundah ketika sekian bulan setelah turunnya wahyu pertama hingga diriwayatkan dari 'Aishah bahwa hampir-hampir beliau pernah ingin melompat dari ketinggian gunung karena beban berat yang diemban selama masa pengutusan dan penurunan wahyu seketika mengalami masa fatrah selama 3 tahun, hingga Jibril datang kepada beliau untuk menguatkan mentalnya bahwa dia memang benar seorang Rasul yang diberikan kepadanya wahyu ilahi [Shohih Muslim, Kitab Ta'bir].
Data lain yang menguatkan bahwa wahyu adalah sumber preoregatif mutlak dari Allah adalah kemustahilan wahyu yang juga menegur nabi. Dalam surat al-Anfaal, 'Abas dan redaksinal lain yang mengisyaratkan bahwa mustahil bila wahyu itu adalah buatan nabi Muhammad. Kisah Hadiits al-Ifki dimana 'Aishah dan bahkan Rasul harus menunggu sedemikian lama turunnya wahyu yang ditunggu untuk sekedar menyelesaikan fitnah besar kepada Ummul Mu'miniin, kenapa tidak seketika itu saja Rasul membuat ayat-ayat palsu yang membersihkan nama isitrinya. Sungguh konflik-konkflik diatas tidak lain karene inngin memberikan hikah kepada para penentang-penentang mu'jizat yang sudah final ini. Wallhu a'lam bishowaab.
*Mahasiswa Ushuludin kru Sinar Muhammadiyah

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -