Posted by : Alamin Rayyiis Senin, 05 Mei 2008



Ketika matahari bersinar di esok pagi, tumbuhan2 mendapatkan cahaya untuk memulai proses tumbuhnya, ayam jago juga berkokok dikampungku, para petani memulai menuntun kerbau untuk ngluku di sawah mereka. Di belahan bumi lain; sepasang pasutri mengeluh karena malam zafaf mereka terusik kokok jago, para glamor yg sering keluyuran juga mengeluh karena waktu mereka tersita oleh mentari yang bercahaya.
Seorang Habiburrahman el-Shirazy [Kang Abik] telah menjadi seorang besar yang membanggakan, semua yang merasakan tempat dan situasinya seolah2 juga mendapatkan kesyukuran bersama. Yang sealmamater, sekekeluargaan atau keseluruhan yang menjadi mahasiswa di Mesir, prestise sebagai mahasiswa seolah mendapat sokongan mental dari mahasiswa luar negeri lainnya, Sarboune, Harvard atau univ2 di Europe dan Amrik.

Terlepas dengan yang ditas, banyak juga lhoo manusia2 yang tidak setuju hingga mengecam sadis sosok beliau. Ada yang tidak setuju karena ideologis, ada juga yang kontra karena ga sejalan dengan ilmu sastra yang mereka pegang. Wajar saja seh, boro fiksi-nonfiksi atau filmAAC-novelAAC, hal2 yang udah terang tidak ada pertentangan aja masih banyak kok orang yang resek mempertentangkannya, contoh konkrit adalah hal2 yang terdekat dengan kita saja, keabsahan Quran keontetikan sanad dan matan hadits dll, apalagi ide2 manusia yang penuh dengan kesombongan dan kekurangan.

Diantara banyak orang yang menghujat Kang Abik adalah:
1. Dalam NAAC [NOVEL bukan film] tokoh Fahri digambarkan sebagai seorang yang terlalu bombastis dan jauh dari manusia secara keseluruhan.
2. Gaya bahasa NAAC jauh dari bahasa sastrawan dan tergolong dengan genre novel Pop, jalan cerita novel juga sangat klise.

Gimana Kang Abik menjawab semua ituw.....:

Isu pertama:
Emang negeri kita udah kebanjiran dengan tokoh2 yang antagonis, hedonis, matreEE, penjahat dan seolah2 mayoritas manusia di bumi Indonesia bermental buruX. Hingga kalau ada gambaran seorang yang soleh, pintar, santun dan agamis adalah hal yang utopis dan jauh dari realita. Ini dia neh misi liberalisme dalam sastra udah agak masuk ke pikiran pribumi. Gimana nggk, la wong di pelem2 terus senetron2 Indo yang ada hanya gituw melulu seeeh, maleZZZ tau ga. Dengan adanya kisah Fahri di, sekali lagi NOVEL AAC, semoga ada pencerahan dan gambaran baru bahwa manusia di bumi Indoensia sebenarnya bia juga bersifat baik seperti tokoh diatas.

Isu kedua:
Gaya bahasa NAAC gak nyastra dan terkesan biasa.....?
Kalau dibilang ga nyastra sebenarnya ga terlalu juga seh, tergantung bagaimana para ulama yang ngaku sastra memaknai *satra* itu sendiri. Adegan2 c Fahri dalam jalan ceritanya cukup menyentuh kok. Tapi emang ada benernya kalau dibandingkan dengan gaya penulisan atau bahasa di KCB [Ketika Cinta Bertasbih].
Disisi lain sebenarnya Kang Abik ingin mempersembahkan karya sastra untuk semua golongan, hingga tukang becak yang ga pernah belajar pelajaran Bahasa Indonesia bisa mengeluarkan air mata, atau para manusia2 desa yang lugu dalam berbahasa indonesia pun bisa ikut merasakan keindahan sastra. Jadi intinya Kang Abik ingin mengajak ulama sastra yang mempunyai pandangan bahwa kenikmatan sastra hanya bisa dirasakan oleh kalangan yang menamakan dirinya *sastrawan atau *puitis atau sebagainya. Keindahan, kenikmatan, ketenangan berpikir dan mencerna *bahasa dalam suatu tulisan atau cerita adalah hak semua orang. Janganlah kita merasa bangga kalau ada ungkapan yang secara tertulisa kemudian orang lain tidak paham membacanya. [Oe antum pade paham ga seh maksud ane...klw ga paham nanya yak...!]

NB:
point2 diatas diambil dari, ketika kumpul sama Kang Abik di Griya Jateng, KSW, Egypt

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -