Posted by : Alamin Rayyiis Senin, 05 Mei 2008

Saking serunya, judul coretan ini pun ana kasih tanda seru. Ada sekitar 3 kali kami berjumpa dengan beliau di latihan kepenulisan, sarasehan film atau bedah buku AAC-nya. Kesemptan kali ini adalah tentang coretan2 dan pengambilan kesimpulan sebagai bentuk oleh2 dari kumpul latihan kepenulisan di Griya Jateng, tempat kekeluargaan Jawa Tengah di Egypt.
Kang Abik adalah pribadi baik, sekolah ditempat yang baik [Mesir], berkampung halaman baik [Jateng gitu looh], beralmamater baik [MAN PK Solo jek, banyak temen disono karena Mbakku ngajar mereka hhehehe....] dan, berkarya baik.
Kang Abik dinobatkan sebagai pembaharu dalam sastra Indonesia, banyak lahir karya2 baru yang terilhami dari karya beliau, AAC khususnya. Dari AAC banyak muncul study2 sastra baru, sering kali Kang Abik diundang ke universitas hanya sekedar untuk memberi pencerahan sastra yang banyak orang berkata mencerahkan. Pernah beliau menghadiri kegiatan mahasiswa dari suatu universitas, dan saat itu ada suatu istilah dalam sastra yang mahasiswa bilang terilhami dari AAC , padahal sebagai penulis novel super-best seller, istilah ngilmiyah tersebut belum pernah terbayang dalam teory sastra beliau, karena memang belajar beliau adalah sering dengan praktek meulis langsung, dan tidak melulu mebahas teory2.

Kebanggan lain mengenal [jarak jauh] beliau adalah *Nahnu du'aatun qabla kulli syai'*. Kita adalah para da'i sebelum menjadi sesuatu. Istilah yang juga sering kami dengar di pondok dulu. Bahwa sebelum menjalani segala sesuatu maka kita adalah harus lebih dahulu menjadi da'i, bukan harus menjadi Aa Gym, Zainuddin MZ, Jefry Buchori, Yusuf de el el. Da'i disini mempunyai kerangka dan cakupan luas yang mempunyai nilai *amr ma'ruf nahi munkar*, scoop apa pun itu maka nilai tersebut tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Kalau istilah yang populer di sekolah dulu adalah; *nahnu kasyafi walakinna muslim/ nahnu muharrik walakinna muslim/ nahnu pengusaha walakinna muslim de el el*.
Bolehlah kita menjalani segala profesi namun, sebagai kader2 keluarga-masyarakat-bangsa-umat maka hal tersebut tidaklah kosong dari nilai keislaman.

Lebih dari itu Kang Abik cerita:
"Sebagai contoh adalah ketika saya kemarin ada undangan ke Medan, memang acara tidak utamanya adalah bedah novel AAC, namun acara yang utama setelah itu, saya mengisi pengajian ba'da Isya, subuhnya juga harus ngasih kuliah subuh........."

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -