Posted by : Alamin Rayyiis Selasa, 04 Maret 2008

Coretan Tentang Fenomena Tulang Rusuk dan Kehilangannya

Sudah lebih dari sepekan sebenarnya temen im dapat sms dari temen ceweknya. Sms cewek sedikit bercerita tentang keberadaan dan posisi tulang rusuk dalam hubungannya dengan anggota tubuh manusia (baca: cowok atau ikhwan kaleee), selanjutnya im terinspirasi ketika membuka Bulughul Maram di Bab Nikah (kebetulan aja kok..:D:D:D) yaitu tentang sifat tulang rusuk itu sendiri, dan yang terakhir adalah tentang keturunan Adam yang ditakdirkan untuk kehilangan salah satu tulang rusuknya.

First:
Si cewek temennya temenku ngasih sms dan bilang kalau "tulang rusuk itu tempatnya di pertengahan", tempat tulang rusuk bukan di bawah untuk jadi bawahan, bukan selalu dijadikan budak, menjadi robot dan orang suruhan, "tulang rusuk" itu bukanlah sebagai kaum jajahan seperti zaman dulu pra-Islam dimana kaum wanita jauh dari makhluk yang disebut manusia, zaman Yunani, Romawi, Hindu, Yahudi, Nashrani dan Arab Jahiliyyah. Dimana wanita adalah budak, dianggap sebagai hewan, sebagai manusia tanpa ruh hingga bebas dilukai perasaannya, dianggap juga sebagai jalan dan pintu menuju jalan iblis dan neraka, dimana dia juga tidak pernah bisa menggapai hak warisnya, diperdagangkan, dan bahkan bila seorang ayah meninggal maka istrinya dijadikan warisan untuk anaknya, dalam taradisi Hindu hak hidupnya hanyalah sebatas kehidupan suaminya, bila suami mati maka istri juga harus ikut terbakar hidup-hidup, bayi wanita juga di kubur hidup-hidup karena mereka malu untuk mendapatkannya. Dan banyak lagi contoh2 real dalam sejarah kehidupan manusia, sejarah nyata dan bukan sekedar karangan utopia, ketertindasan dan watak kebinatangan memang ada sejak dahulu kala. Dan, terlepas dari perbandingan skala dan nominal angkanya hal itu adalah keniscayaan untuk terulang lagi.
Tulang yang diklaim oleh kaum Adam adalah bagian dirinya yang hilang juga bukan terletak di bagian atas, tidaklah etis seorang wanita menjadi atasan seorang lelaki (haibah man...!), tidaklah salah bila dikatakan "Arrijaalu qawwaamuuna 'alan nisaa'" bahwa lelaki itu selalu diatas derajat perempuan (dalam kepemimpinan lho yah..), terlepas dari sabda Rasul bahwa surga dibawah telapak kaki ibu atau dalam penghormatan anak kepada orang tua seorang Ibu harus diutamakan.

Second:
Sabda Rasul: "Barang siapa yang beriman dengan Allah dan hari akhir hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya dan berwasiatkanlah wanita dengan kebaikan dia (wanita, perempuan, bidadari, akhwat, cewek) diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sungguh bagian yang paling bengkok adalah bagian teratas tulang rusuk tersebut, kalau kamu ingin meluruskan maka kau telah mematahkannya, dan bila kau biarkan niscaya ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah yang baik kepada wanita" (Muttafaqun 'alaih dengan lafadh Bukhori).
Hal diatas menunjukan sifat wanita yang diibaratkan dengan tulang rusuk, bila kita terlalu keras dalam membina makhluk yang satu ini maka ibarat Rasul kita sudah mematahkannya, hati mereka terlalu lemah untuk mendapat peringatan atau nasihat2 yang keras, perasaan mereka terlalu mudah luluh ketika mendapat gemblengan2 pedas, tapi bila kita tetap biarkan mereka dalam kemanjaan dan 'kebengkongan' maka dia senantiasa tetap bengkok. Karena sesungguhnya wanita adalah makhluk pertengahan, makhluk yang "khoirul umuuri ausathuhaa", kita wasiatkan mereka dengan hal2 baik dan penuh kemesraan (idih amin masih 19 taon lho, ati-ati.....!:D:D:D ), jadikan perasaan mereka selalu dalam kelemah-lembutan, usahakan dengan hatimu untuk menjadikan rona pipinya merah selalu, tapi tetap wasiatkanlah dia dalam kebaikan, dan tetap berwasiat dalam kebaikan.

Third:
Hehehe, bagian terakhir cenderung sebagai tempat pelarian dari kenakalan remaja, tapi nakal disini bukanlah perilaku busuk lelaki busuk yang terus membusuk dengan hal2 busuk. Kenakalan disini lebih untuk menggambarkan tentang umuran kami yang penuh dengan lika-liku, idealisme yang masih rapuh, kejiwaan yang masih labil, atau kenakalan lainnya (yang sudah tua pun pasti paham kan..:-?).

Kami yang ditakdirkan dibumi sedari dulu sudah menjadi orang yang kehilangan, kami kehilangan sesuatu yang urgent dalam hidup ini, salah satu bagian yang tanpanya akan selalu miris kami rasakan, yang tanpa bagian itu selalu kami rasakan kepedihan. Kami ditakdirkan untuk kehilangan bagian itu.

Hanya hal sederhana yang ingin disampaikan di bagian ketiga ini, bahwa kami yang kehilangan sudah sewajarnya untuk mencari, bukan salah kami ketika kami kehilangan sesuatu maka kami pergi mencari, kami pilah kami pilih tentang siapa yang layak kami cari dan temui. Namun lagi-lagi, hal ambigu ini datang lagi, seolah-olah labilnya jiwa ini kembali menguasai diri, lagi-lagi kami ingat tentang Rukun Iman yang enam, tentang hal yang ghoib namun pasti ia datang, im percaya bahwa suatu saat nanti bagian itu pasti akan dikembalikan oleh-Nya. Ada temen Negro asal Jerman, di SIC (Sekolah Indonesia Cairo) dia mengajar bahasa Jerman, tapi dia sudah fasih dalam berbahasa Indonesia, kami sempet jumpa di jalan dan kami dengar pernyataan lucu dalam berbahasa tapi tegas maknanya, "Yang ditunggu tidak ada namun yang menunggu pasti ada", kami tak merasa perlu untuk menunggu kembalinya bagian itu namun kami yakin seseorang disana pasti sedang menunggu, semua sebenarnya hanya soal waktu.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -