Posted by : Alamin Rayyiis Kamis, 06 Maret 2008














"Sungguh, ketika kami duduk dihadapan teman-teman mahasiswa baru rasa-rasanya semangat kami kembali menyala-nyala, kesemangatan yang kami rasakan tidak kalah dengan kesemangatan nenek moyang kita dulu ketika meraih kemerdekaan, seolah-olah tiap menit yang kami jalani adalah cuaca musim semi dipagi hari, suatu gambaran semangat dari seorang penuntut ilmu layaknya bayi yang berhasil berjalan walaupun ia tertatih, yup semangat 45 lah yang kami rasakan ketika kami kembali bertatap muka dengan teman-teman mahasiswa baru...."
Ungkapan kebahagiaan dan khidmat syukur diatas berulang-ulang kali kami dengar di setiap orientasi, maklumlah, kami sebagai mahasiswa baru banyak orientasi yang harus diikuti, dari orientasi wjib bagi keseluruhan maba atau pengenalan-pengenalan organisasi afiliatif, almamater atau juga kekeluargaan.
Ternyata banyak presentator-presentator dari kakak kelas dan senior kami yang mengakui bahwa ketika mereka mengisi forum-forum kajian yang melibatkan mahasiswa baru mereka juga merasakan setruman yang berasal dari kami. Secara tidak langsung memang diakui ternyata disana ada keterkaitan batin yang sama-sama merasakan hal serupa sebagai duta bangsa, sebagai mahasiswa baru kami merasakan kebahagiaan sekaligus syukur karena, harapan dan cita-cita kami selangkah sudah terwujud dengan berpijaknya kaki di tanah gersang yang mereka panggil dengan "Negeri Seribu Menara". Hal tersebut sangatlah wajar karena ketika hajat dan rasa coriusity seorang manusia sudah tersampaikan. Klimaks dari rasa tersebut bagi teman-teman yang tahu dan ingat akan tujuan pertama maka akan berbuah kesemangatan. Nah disinilah ternyata letak hubungan keberadaan kami dengan kakak-kakak senior itu, ibarat dekat dengan pedagang minyak wangi yang akan ketularan wanginya maka ketika mereka berinteraksi dengan maba yang masih mempunyai kesemangatan tinggi mereka juga mendapat dampak positif dari maba tersebut.
Mahasiswa baru atau biasa mereka singkat dengan maba. Baru, ya kalimat itu memang sering kita dengar, ada hal yang membahagiakan ketika kita mendengar frase kalimat itu, coba kita ingat memoar kita zaman dahulu ketika ada bisikan-bisikan tahun baru, kelas baru, buku baru, sepatu baru dan hal lain yang baru.Tapi yang akan kita bicarakan disini tidak lain dan tidak bukan adalah tentang kita sebagai mahasiswa baru.
Banyak hal-hal baru yang kalau kita mendengarnya maka secara jujur dan spontanitas kita merasakan kegembiraan dan kebahagiaan, seperti dicontohkan diatas.
Kegembiraan dan keriangan tersebutlah yang menjadi korealasi kesemangatan, dimana ekspresi dari individu ternyata mempunyai dampak posiitf juga untuk komunitas lain, seakan-akan disana ada sesuatu yang kalau di pelajaran biologi dulu kita kenal dengan "simbiosisi mutualisme" dimana, suatu individu dengan individu lain saling menguntungkan. Kebersamaan rasa inilah sebenarnya kunci dari berhasilnya interaksi, dan konkteksnya kali ini adalah berkaitan dengan keberadaan mahasiswa lama dan baru. Mahasiswa lama benar-benar akan mendapat interaksi baru dengan kami mahasiswa baru. Adakalanya interaksi itu berupa partisipan langsung dalam acara atau juga non partisipan. Dikatakan partisipan karena memang dalam segala urusan yang berkaitan dengan kemahasiswaan baru maka banyak panitia acara diselenggarakan seperti booming salju.
Sebagaimana episode-episode yang telah kita lalui, banyak orientasi-orientasi yang telah disiapkan oleh senior-senior kita yang tidak lain tujuan mereka adalah menjaga orisinilitas niat dan tujuan semula dari maba. Memang benar apa yang dikatakan pepatah bahwa, menajaga itu lebih sulit daripada mendapatkan. Ya, kita telah mendapatkan langkah awal dari apa yang kita citakan namun, untuk menjaga jalan dan cita-cita tersebut ternyata butuh istiqamah: Konskwen, komitmen dan konsisten. Ternyata dalam pelaksaan hal-hal yang bersifat konseptual tersebut tidaklah semudah yang kita bayangkan.
Kegiatan-kegiatan yang dimaksud diatas syarat dengan penggemblengan dan pembekalan massif secara keseluruhan, pembekalan dari organisasi induk mahasiswa, afiliatif, almamater, kekeluargaan dan instansi independen lainnya. Genre tema yang disampaikan pun bermacam-macam dan variatif, sepertinya tidak terlalu berlebihan bila kegiatan-kegiatan tersebut diistilahkan sebagai miniatur aktifitas dalam menjalani dunia perkuliahan dan pendidikan di Cairo. Kekayaan ide tersebut kiranya tidaklah kita heran karena, Cairo sendiri sudah cukup mengajarkan banyak hal dalam study literatur maupun kultur. Cairo yang diumpamakan sebagai Ummu Dunya sangatlah wajar bilamana para pngunjungnya mendapatkan prestise dan ketularan hal serupa.
Kegiatan-kegiatan kemarin terasa penting dan sebuah sambutan yang sangat bijak mengingat beberapa hal yang memang perlu diketahui oleh mahasiswa-mahasiswa yang notabenenya baru. Baru menginjakan kaki di negeri idaman hati, baru dalam mengenal peradaban dan juga baru dalam wawasan pandang sebagai mahasiswa lanjutan study pasca kelulusan 'aliyah. Setelah melihat konteks keadaan tersebut tidak salah kalau kita sebenarnya masih blank-out dari worldview kemahasiswaan. Maka kegiatan-kegiatan diatas memang dipandang sangat perlu untuk memberikan wacana-wacana baru. Secara garis besar tujuan dan manfaat tersebut terangkum dalam point-point dibawah:
1. Telah disebutkan diatas bahwa salah satu tujuan dan fokus yang dibidik dalam penyelenggaraan orientasi adalah, menjaga orisinalitas niat dan tujuan maba. Urgensi niat yang menghubungkan dengan terminal akhir jalan yang dituju, memang sudah sangat sering kita dengar dan maklum adanya, dalam pendidikan akademis di pelajaran hadits seruan ini memang menjadi hal yang paling utama didahulukan, bahkan kalau kita ingat tentang masa sekolah kita dulu hadits yang berbunyi...................dinomor urutkan sebagai hadits yang paling awal untuk dipelajari. Pentingnya niat disini banyak mayoritas yang tahu namun, sayangnya orang yang tahu itu ternyata tidak selamanya ingat, ada kalanya pengetahuan mereka tertutup dengan khilaf dan lalai dari tujuan utama. Suatu gambaran yang jelas dan penuh kebijakan dari uraian "summiyal inssanu insaanan linisyaanihi" bahwa dinamakan manusia itu "manusia" sebab "nisyaannya" [kelalainnya] dan satu kata bijak yang bahkan malah dijadikan alat bantu dan beralasan ketika kita terjebak dalam khilaf bersebab malas "al-insaanu mhallul khoto' wannisyaan" yah karena memang sudah ditetapkan bahwa manusia adalah tempat salah dan khilaf seolah-olah sudah wajar dan santai saja kala kita terjebak dosa.
Sebenarnya uraian diatas akan menjadi serius tatkala kita benar-benar bisa mengkaji maqashid dari lafadh bijak tersebut. Kalau kita ingin berbenah maka janganlah kita memaknai hal diatas sebagai ketetapan nilai dan jati diri manusia, marilah kita maknai dengan hal positif yang membangun semisal untuk memotivasi dan mengantisipasi, ya memang tepat kalau hal diatas sebagai uraian yang memotivasi kita untuk terus berbuat dengan hati-hati "dalam kehati-hatian ada keselamatan", sehingga kita tidak selalu terjerumus dengan kesalahan dan kealpaan. Satu point penting terakhir agar kita tidak terjerumus dalam fahmun saqiim ketika memahami untaian-untaian bijak lainnya, hendaklah kita jadikan hal tersebut sebagai antisipasi. Ya, suatu antisipasi dalam bertindak untuk tidak menyeleweng dari real dan jalur utama kita dalam melangkah.
Dan, semoga saja dengan banyaknya kegiatan yang telah kita lalui benar-benar banyak faedah yang kita petik, laksana pohon yang tumbuh semoga saja kelak ia berbuah, banyak usaha kepanitiaan orientasi maba yang ditempuh semoga saja niat dan tujuan kita tidak pernah luluh.
2. Fokus lain yang diusung oleh pantia orientasi antara lain juga ingin memberikan arahan-arahan jalanyang akan dilewati maba. Tersebut juga diatas bahwa selayaknya maba, mahasiswa baru yang baru saja tiba ditanah prantauan banyak hal yang sejatinya belum kami ketahui, blank-oriented. Dengan adanya acara dan kegiatan yang diselenggarakan mayoritasnya untuk maba maka ada gambaran-gambaran bagi mereka untuk kemana langkah mereka tetapkan. Apakah jarak Indo-Mesir yang telah ditempuh hanya untuk Organisation-oriented, Study-oriented atau, mengambang diantara manzilatain atau malah bisa unggul dengan kedua bekal pendidikan dan pengajaran tersebut...? Suatu pertanyaan besar dimana hakikat sesungguhnya adalah tantangan. Berkaitan dengan tantangan ini seorang teman mempunyai motto sebagai berikut: "Belajar Tidak Setengah-Setengah, Main Bukan Main-Main, Berkarya Sepanjang Masa". Ya, motto hidup itulah ternyata yang menjembatani Ustadzah Aprina dalam mengampu amanat dalam organisasi WIHDAH. Dan yang menarik lagi adalah jargon yang menjadi obor dalam pergerakan organisasi independent akhwat ini "as-Sanah Jiddiyyah" atau Tahun Kesungguhan, suatu derivasi kata yang bila dilacak akar katanya maka tidaklah jauh bila dikaitkan dengan jadiid atau tajdiid. Yang baru maka dialah yang lebih mempunyai kesungguhan, dimana semangat kepemudaan masih menyala-nyala, miliu untuk maju pun semakin membara namun, perlulah diingat point-point diatas agar kita tidak seperti kata kasar seorang bijak "anget-agnet tai ayam" ibarat semangat dan kesungguhan biola tak dijaga dan diarahkan maka cepatlah dia akan padam.
Dan, untuk akhir kata ini, sekedar untuk mengingatkan bahwa jalan yang telah kita lalui sudah terlampau jauh untuk kita kembali. Rihlah fisik dari Indo-Cairo hingga tantangan-tantangan yang bersifat ujian mentalitas lainnya sudah kita lewatkan. Masa-masa penungguan yang membosankan, berbagai seleksi ujian yang menegangkan dan rasa was-was yang mengharuskan menghela nafas. Alhamdulillah semua itu sudah bersama kita usahakan dan kita sukseskan, maka janganlah kita lupa hari-hari melelahkan itu, ingatlah selalu tentang sejarah sebelum kita melangkah, kesukseasn awal yang kita reguk itu moga tidak ternodai dengan kealpaan kita untuk kedepannya. Wa' alayya wa'alayka wa'alallahu a'lam. [Alamin Rayyiis]
Catatan Kaki:
Tulisan ini ditulis dan dipublikasikan pertama kali di Buletin Ckrawala edisi pertama kepengerusuan NZ Generation dalam rubrik Fikroh [Belum diedit].

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -