Posted by : Alamin Rayyiis Senin, 10 Maret 2008

Wahai Penuntut Ilmu Fi Sabiilillah.....!

Tempat kita menuntut ilmu memang tidak hanya mengajarkan bagaimana kita belajar keakademisan, lebih dari itu ternyata tidak salah kalau kita diperkenalkan dengan jawaban "mencari pendidikan dan pengajaran" ketika melihat tulisan besar "Ke Gontor Apa Yang Kau Cari...?". Dalam kehidupan kita dipondok kita juga diajarkan bagaimana menjalani kehidupan, bahkan tata cara kita melihat atau bahkan hanya sekedar berjalan. Dalam melihat kita diajarkan untuk tidak seperti orang buta meraba gajah, dalam berjalan kita diajarkan untuk dengan ketegapan an kesigapan. Bahkan dalam keseharian pun kita juga di latih untuk tidak menyeret sandal.

Semua itu tidak terlepas dari gambaran seorang manusia yang diciptakan mempunyai raga dan jiwa. Raga pondok seperti yang kita lewatkan sehari-hari, fasilitas2 yang kita gunakan dari gedung belajar, kamar mandi. tempat olahraga, dapur dan juga masjid sebgai sarana utama dalam kounitas . Sedangkan jiwa pondok sebenarnya adalah sangat jelas dan gamblang bagi mereka yang benar2 berprinsip "apa yang kamu lihat dengar dan rasa adalah pendiikan", namun bagi mereka yang matanya melek walang akan terasa biasa saja dan cuek dengan keadaan sekitar. Pengajaran jiwa2 itu bahkan bisa lebih gamblang dari rentetan gedung2 tinggi yang terhampar dari Jami' hingga garis lurus jalan ke Sudan. Terangnya pancara pelajaran jiwa tersebut bahkan lebih terang dari mentari di esok pagi.

Wahai Penuntut Ilmu Fi Sabiilillah.....!


Nilai dari jiwa itu sendirilah yang mengantar para pendahulu menjadi seorang yang sukses dengan usaha yang berbuah hasil dengan peletakan batu pertama suatu bangunan pendidikan. Trimurti menjadi Tiga Serangkai yang menguatkan tiang timur dan barat, membangun pondasi kokoh bagian utara dan selatannya. Panca Jiwa tersebut teringkas dalam 5 point pokok sebgai obor dalam berjalan, sebagai dayung kala menembus arus, sebagai payung kala terik dan hujan.

1. KEIKHLASAN
Keikhlasan yang terkandung dalam panca-jiwa pondok bisa diartikan sebagai "sepi ing pamrih rame ing gawe". Ikhlas dalam bertindak dan berpikir adalah totalitas dari niat suci yang dalam perjalanan pekerjaan itu si pekerja tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk mendapat imbalan atau santunan dalam pekerjaannya itu. Dalam kesendirian dia tetap berbuat dalam keramaian dia akan tetap beramal. Suasana ikhlas dalam berbuat akan membawa iklim kondusif ketika kita melangkah, suasana harmonis antara sosok kiayai yang pneuh kharismatik dan disegani para asatidz yang tak pernah bosa untuk membimbing dan santri yang penuh cinta dengan mereka. Keikhlasan ini yang sebenarnya menjadi tumpuan penilaian bagi mereka yang sadar.
Keikhlasan memang hal yang sulit untuk didefinisikan secara real, hampir2 sifat kebaikan yang abstrak dianggap suatu hal yang mustahil untuk dicapai. Seperti keikhlasan, kesabaran atau hal lainnya. Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa: ikhlas adalah suatu anugrah yang dititipkan ke seorang hamba yang mana hanya Allah sendirilah yang mengetahui keikhlasan tersebut. Dengan keikhlasan jualah seorang abuud diterima amal ibadahnya, dengan ikhlas jugalah seorang Isma'il rela disembelih oleh Ayah yang juga ta'at, dengan keikhlasan jualah seorang guru tanpa pamrih untuk tidak digaji.

2. KESEDERHANAAN
Sederhana....suatu hal yang ketika kita dengar maka yang terbersit dalam pandangan kita hanyalah gambaran seorang yang compang-camping, kusut, tak terurus dan semrawut. Sungguh sederhana yang dicontohkan Rasul bukanlah hal demikian. Sederhana bukanlah berarti kemelaratan dan kemiskinan menerima segala sesuatu secara pasif dan tanpa usaha, bukan.....bukan lah demikian yang dimaksud sederhana...! Justru dalam kesederhanaan itu kita dididik untuk berjiwa besar, suatu pendidikan untuk terus melangkah dalam situasi terjepit, ketabahan dalam beramal dan juga sebagai landasan manusia dalam meniti kehidupan yang penuh dengan persaingan dan keganasan.

Wahai Penuntutu Ilmu Fi Sabiilillah....!
Urutan ketiga dalam lima tatanan jiwa adalah..............:

3. BERDIKARI
Berdikari bukanlah hidup dalam kesendirian, sifat kemandirian bukanlah hidup dalam keegoisan, hidup mandiri juga bukan mempunyai arti pasif dengan lingkungan atau tidak perhatian dengan sesama. Berdikari yang secara harfiahnya mempunyai retorika bijak yang berarti: "berdiri diatas kaki sendiri" mempunyai gambaran nilai yang mulia dalam pribadi manusia, karena kemandirian adalah suatu cerminan seorang manusia yang perwira, tidak mudah mengeluh atau merepotkan orang lain. Bagaimana kita akan menjadi hamba yang paling mulia yg berotabene "manfaat bagi orang lain" kalau seandainya dalam menopang kehidupan pribadi saja masih tertatih dan bersandar pasif dengan pihak lain. Dalam kemandirian juga kita diajarkan suatu sifat suci ilahiyyah -al-Qayyumu Binafsihi-, sungguh suatu kebanggaan dalam diri jikalau sifat perwira dan kemandirian ini menjadi bagian ampuh dalam diri kita.

4. UKHUWAH IsLAMIYAH
Ikhwan yang dirahmati Allah.......
Panja jiwa yang keempat ini mempunyai keterkaitan penting dengan hal diatas, disamping kita dididik untuk mempuyai jiwa keperwiraan kita juga dilatih dan dituntut unuk selalu menjunjung tinggi kebersamaan jalinan yang berasas keimanan, ukhuwah islamiyyah.
Sungguh sejatinya komunitas inilah yang selayaknya kita perhatikan dalam persahabatan di sekolah kita tercinta. Bukan khusus teman-teman daerah, klub-klub, marhalah atau komunitas lain yang menyeleksi 'illahnya bukan dengan ukhuwah islamiyyah.

5. KEBEBASAN
Ikhwan fillah dalam lindungan Allah...
Dalam kehidupan Jiwa kita juga diberi kelonggaran waktu untuk menghirup udara bebas, untuksejenak kita memandang luas dengan bebas, jiwa kita dibiarkan tidak terkekang dengan tali-tali penyempit pergerakan. Di dalam kampung damai ini juga kita diberi cakrawala luas untuk memilih langkah.
Bebas disini juga harus dipahami lebih luas lagi karena bebas itu juga mengandung hal yang terlepas dari pengaruh pihak luar, kita tidak boleh hanya sekedar taklid kepada orang-orang yang tidak kita ketahui. Namun bebas juga bukanlah kebebasan liberalisme dalam bertindak dalam masyarakt pondok atau masyarakat luas nantinya bebas haruslah mempunyai batasan-batasan sosial yang mengatur kita dalam hidup berdisiplin, janganlah bebasnya kita mengganggu kebebasan orang lain. Janganlah untuk memenuhi hak kita maka hak orang lain kita anggap tidak penting untuk diperhatikan.

{ 1 comments... read them below or add one }

  1. Tulisan ini adalah salah satu bagian dari penulisanproyek buku pidato yang diprakarsai ole hikpm cairo, rencana selanjutnya naskah indonesia dari 10 judul akan diterjemahkan ke bahasa indonesia dan inggris untuk selanjutnya dikirimkan ke pondok kam itercinta....!

    BalasHapus

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -