Posted by : Alamin Rayyiis Sabtu, 29 Maret 2008

Kiasan Indah Sabda Menikah

Sepekan lalu im ikut Format V [forum Muhammadiyah], semacam orientasi tahunan yang diadakan untuk briefing anak2 baru di ormas tersebut. Sesi ketiga di hari kedua panitia mendatangkan DR. Najad, seorang duktuurah hadits di Kulliyyah Banaat. Dalam kesempatan itu sesi yang diangkat bertemakan "Menikah Di Tengah2 Study", sesi yang sebenarnya ditujukan khusus untuk temen2 'aisyah, tmen2 putri di PCIM.

Disela2 pembicaraan beliau, ada hadits yang selama ini aku jadikan topik disetiap kali berpikir tentang cinta, cewek dan menikah. "Tunkahul mar'ah li'arba": limaalihaa-walihasabiha-walijamaliha-walidiinihaa, fadhfar lidzaatiddin taribat yadaaka". Sejenak aku putar kembali gesekan2 ketika aku ingat hadits ini tentang, kenapa kedudukan agama disini tidak dinomorpertamakan. Aku pun bertanya kepada duktur tersebut bahwa kenapa hal pertama yang disebut Rasul dalam hadits beliau bukan *lidiinhaa*....?

Duktur menjawab: Apa yang disabdakan Rasul bukanlah suatu hadits yang bermaksud amr atau perintah, tapi yang disampaikan Rasul adalah gambaran uum manusia, yang disampaikan Rasul adalah gambaran dimana sebagai manusia maka fitrah kebanyakan mereka adalah menikahi seseorang perempuan [gambaran standart dari wanita arab] yang; berharta, bermartabat, berparas cantik dan yang beragama. Kalau mungkin boleh menambahkan sedikit maka aku beropini, sejak dari awal Rasul bersabda dengan frase kata *tunkahul mar'ah*, pemakaian kalimatnya adalah kata kerja pasif, bukan aktif yang mengandung maksud perintah melainkan kata kerja pasif yang mengandung gambaran atau pemaparan sebuah wacana. Hal lain yang menjadi catatan, walaupun *lidiinihaa* dinomor terakhirkan tapi disini Rasul menegaskannya dengan *fadhfar bidzaatiddiin, taribat yadaaka* suatu ungkapan yang berisi penekanan tentang keuntungan seseorang yang memiliki kategori beragama yang baik.

Wahh lumayan berat yang disampaikan duktur yang kemudian im ikut nambah2in point gitu.
Diluar catatan diatas, im sebagai jiwa muda ternyata punya gambaran lain yang lebih agresif dan terkesan ngebanyol utowo sinak mudik tapi sebenarnya punya point sebagai prinsip.

Ceritanya gini jekk;
Kalau ada orang yang bertanya sama aku tentang bagaimana seh karakter yang aku bidik ketika nyariu jodoh nanti [jodoh jekk bukan pacar]...........?
Maka dengan bijak dan mantap aku akan menjawab;
Hm........ketika aku mencari belahan tulang rusuk yang sempat dihilangkan oleh Alloh, dan sebagai orang yang kehilangan maka harus mencari, maka aku akan memilih wanita yang berparas cantik.....
Yup, paras cantiklah yang aku dahulukan, karena dia adalah ukuran paten fisik yang tidak bisa dirubah2 lagi, sejak pertama kita memilih kecantikan mereka maka itulah sebhuah nilai tawar yang sebenarnya tidak bisa berubah2 lagi, sekalipun berubah maka adalah sunnatullah yang berjalan, tua, sakit atau fitrah lainnya. Cantik adalah motif utamaku untuk mencari belahan hatiku, so yang merasa ga cantik.....out of my mind....!!! [:-p]. Dia tidak bisa berubah2 lagi, sekalipun cantik adalah relatifitas, justru itulah yang harus menjadi perhatian, kerelatifannya harus dijadikan tolok ukur yang pertama, berbeda dengan 3 kategori lainnya yg sudah mempunyai nilai tawar yang tidak relatif lagi, agama bisa diukur, martabat/nasab juga bisa diketahui, harta..... wah apalagi.....!.

Kenapa aku harus bingung menimbang martabat calon kekasihku nanti, tidak ada kaitannya antara bapaknya orang melarat, wong ndeso atau apalah, toh juga "asyarafu bil adabi laa binnasabi", kemuliaan itu dengan adab bukan dengan nasab.

Ngapain juga aku harus mendahulukan hartanaya lawong aku nanti kan bakalan jadi pemimpin rumah tangga, semua bentuk nafaqah ada ditanganku dan itu malah menjadi tanggunganku sebagai suami [ciee elah, 19 taon jekk ati2 klw ngomong.....:-p].

Nah yang agama nih......aku kan insyaalloh LC Azhar [amiiin], masalah keintelektualan agama istriku nanti maka akulah yang mengajari, bukan berarti aku akan menjalin kemesraan dengan wanita yang nggak berjilbab atau yang ga tau agama sama sekali lho yaa........

Dus....inget yah yang kita omongin disini adalah masalah prioritas antara keempat kategori, jadi bukan berarti ketika kita bicara tentang kategori pertama kemudian kita melupakan dan menafikan sama sekali kategori2 lainnya dalam penimbangan istri2 kita nanti.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -