Posted by : Alamin Rayyiis Selasa, 04 Maret 2008


Teringat ketika habis mandi im ambil sisir dan mulai menyisir rambut im, sekilas aku memandang cermin di depan, biasa saja!, lanjut kemudian ada hal yang aku lupa ucapkan, eh itu ternyata doa bercermin, "Ya Allah, sebagaimana Engkau elokkan rupa ini, maka perbaiki jugalah akhlaq ini".
Ternyata neuron yg di otakku tidak cukup berhenti disitu, ada hal lain yang masih mengganjal dalam pikiran, tentang doa tersebut dan bahkan hal lain yang berkaitan dengan bercermin (baca:introspeksi).
Hal pertama yang di judul blog ini, Sang Imam dalam sebuah manuskripnya (im lupa) pernah bertutur bijak tentang cerita seorang manusia yang ingin bercermin atau berintrospeksi, manusia tersebut merasa perlu mempunyai cermin tentang dirinya karena, memang "banyak hal yang sulit dalam diri, eh ternyata mudah dibalik cermin". Lebih jelasnya antum bisa perhatikan kenapa mobil amubulan tertulis terbalik di bagian depannya? kenapa juga ibu kita kalau ingin berdandan menggunakan cermin? kenapa juga mata kita sendiri yang fungsinya untuk melihar, ternyata terlampau sulit untuk bisa melihat secara langsung mata itu sendiri? (bisa jawab kan? kalau ga bisa im ga marah kok, ini sebenarnya bukan untuk dijawab melainkan menjadi renungan!) itu salah satu ilustrasi yang menjadi alasan kenapa keluar kata mutiara tersebut.
lanjut ke pokok masalah, manusia tersebut di atas merasa perlu karena ya memang merasa perlu aja, tidak begitu mengherankan bila seseorang ingin tahu tentang dirinya sendiri melalui orang lain, karena kita memang tercipta untuk saling melengkapi, yang namanya orang mukmin itu cermin bagi mukmin yang lain, berawal dari sini dia punya unek2 untuk mengkoreksi dirinya dengan:
Usaha pertama yang ia lakukan adalah, dengan memperkejakan orang yang setiap kali dia mempunyai catatan tentang dirinya maka, si Tuan tadi memberi pengoreksi tersebut beberapa dirham uang, waktu pun berjalan.....lama kelamaan Tuan tersebut mersakan hal ganjil dalam usahanya itu, dia memperkejakan orang untuk memberi catatan2 yang berupa koreksian tentang dirinya hingga, sampailah ia pada kesimpulan, ternyata orang suruhannya tersebut tidaklah secara murni mengoreksinya karena, memang sejak awal dia menjadikan hal tersebut sebatas pekerjaan dan bukan amal soleh, banyak hal2 yang hakikatnya adalah A ternyata dia haturkan kepada Tuannya sebagai B, yang hitam ia putihkan dan putih ia hitamkan........usaha Tuan ternyata belum menuju kesempurnaan dalam mencar jati dirinya.
Sampailah Tuan tadi pada keputusan untuk, menjadikan teman karibnya sebagai cermin untuk mengoreksi kesalahan yang mungkin ia lakukan. Dasar teman karib!, sebagai karib dari Tuan tersebut, ternyata dia tidaklah cukup jujur untuk menjadi orang kepercayaan sebagai pengungkap kesalahan, banyak hal yang sebenarnya Tuan tersebut menyalahinya ternyata dibenarkan oleh temannya tadi, perasaan pekewuh bin sungkan mungkinlah yang menjadi penyebab akan hal tersebut, usaha kedua pun belum mencapai klimaks dari harapan.
si Tuan berpikir lagi, kalau temanku tadi merasa sungkan untuk memberi tahu kepadaku tentang salah2ku, aku yakin kalau seandainya yang aku jadikan cermin adalah musuhku pasti dia akan jujur dan terbuka untuk mengungkapkan khilaf yang kuperbuat. Sungguh kasihan Tuan ini karena, ternyata banyak sekali hal2 yang sebenarnya benar oleh musuhnya disalahkan, hal yang baik oleh musuhnya diburukkan, yang putih pun sangat ia hitamkan, bukan abu2.......
Setelah sekian ratus kilo jauhnya neuron otak tersebut berkelana, ia pulang ke Hatinya. Pulang ke Diri Sendiri................darinya ia melangkahkan kaki pertama. Satu dua langkah ia mulai dengan bismillah......
Dan...semoga berhasil Tuan!

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -