PERADABAN TKI (1)


(Historical View)

Dalam sejarah Islam kita mengenal Dinasti Mamluk/Mamalik. Mamluk secara bahasa adalah budak. Mereka adalah orang-orang ‘ajam (non arab) berasal dari Kaukasus dan Laut Kaspia yang direkrut menjadi prajurit, asisten rumah tangga dan para pekerja. Mereka merupakan rekrutmen dinasti Ayyubiyah.

Beberapa prestasi sekaligus prasasti yang ditorehkan oleh Mamalik, khususnya di bidang militer, adalah kegagahan benteng Qaitbay yang terletak di pantai Alexandria (Laut Mediterania/Laut Tengah/ al-Bahrul Abyadh al-Mutawasith). Benteng itulah yang menghalau pasukan Tatar saat merengsek ke jazirah Arab (benua Afrika Utara), di waktu yang sama jazirah Arab bagian Syam porak-poranda karena ulah pasukan Mongol tersebut. Ibnu Taimiyah menjadi saksi hidup hancurnya Homs dan kota-kota lain di bumi Syam. Bahkan beliau mencatat keganasan fighting orang-orang mongol, dimana satu prajurit Mongol melibas puluhan prajurit muslim. Mungkin kita bisa membayangkan Doni Yen, Jet Li dan Jackie Chan kala beraksi J.

Kisah Mamalik di atas bisa kita jadikan gambaran bagaimana kemulian Islam bisa menjadi power dan kebangkitan bagi kasta rendah seperti Mamalik. Maka benar bahwa la fadhla li arabiyyin ala a’jamiyyin illa bit taqwa. Takwa adalah infinity stone yang menjadikan siapapun yang bisa menguasainya maka ia bisa menguasai dunia. Salam Avengers :P.

Kemudian mari kita melihat sejarah tentang masuknya agama Islam ke Indonesia. Ada yang mengatakan teori pedagang Gujarat. Dalam teori tersebut dikatakan bahwa para pedagang Gujarat lah yang membawa ajaran Islam ke pesisir-pesisir pantai di tanah Jawa, dipilih pantai karena moda transportasi lintas benua kala itu adalah kapal. Maka, bisa dibilang daerah yang menjadi pusat keramaian adalah daerah-daerah dengan pantai yang menjadi pusat perdagangan internasional.

Teori lainnya ada yang menyebutkan Islam dibawa oleh rombongan pasukan laksamana Cheng Ho dari China. Teori lainnya mengatakan Islam dibawa langsung oleh pelayar Arab era Utsman bin Affan ra. Teori Islam Arab ini dikuatkan oleh diadakannya armada atau angkatan laut sejak Khalifah Utsman bin Affan, beliau mengakomodir ide Muawiyah bin Abi Sufyan yang ketika itu masih mentah di era Khalifah Umar bin Khathab. Salah satu keunikan kedua khalifah tadi adalah cara pandang ‘penempatan’ sahabat di teroterial Makkah-Madinah dan luar teritorial.

Maka agama Islam ini, dibawa oleh siapa, kemana saja ia bisa dibawa, bagaimana membawanya, dan pertanyaan-pertanyaan lain sebagainya bisa kita tadaburi melalui sejarah Islam seperti di atas.

Islam bisa mengangkat derajat individu seorang budak misal Bilal bin Rabah, maka Islam sangat mampu membalikan derajat komunitas budak/prajurit belian menjadi orang-orang yang dimuliakan. Orang-orang Mamalik berubah menjadi raja, panglima, qadhi, cendekiawan lantaran nilai-nilai agama Islam. Para pedagang, pelancong, musafir dan lain sebagainya juga kompatibel (sekaligus harus kapabel) untuk mengenalkan Islam di belahan dunia lain. Khususnya di era sekarang, saat Islam menjadi objek bullying internasional.

Teman-teman kita yang berprediket sebagai Pahlwan Devisa, TKI yang di Korsel, tentu sangat layak mendapat maqam yang sama dengan Mamalik, atau bahkan lebih. TKI kita di Korsel, walaupun mereka rata-rata tamatan SMA sederajat, tapi sebelum ke negara gingseng ini mereka sudah dibekali dengan bahasa korea dan skill terapan tertentu. Bahkan di Indonesia di antara mereka juga pernah nyantri di pondok-pondok tradisional, sebagiannya malah ada yang pondok modern. Ini bila kita berbicara tentang TKI dengan visa E-9. Para pekerja di pabrik-pabrik umum, bukan samsung, Lotte, LG atau pabrik-pabrik papan atas.

Selain TKI dengan spesifikasi di atas ada juga TKI dengan grade yang lebih, mereka bekerja di pabrikan ternama dan mempunyai jabatan strategis. Lebih dari itu ada juga mahasiswa-mahasiswa yang melanjutkan studi mereka di Korsel, misal Hubungan Internasional.

Secara karakteristik dan budaya kedisiplinan Korsel juga mendukung untuk menjadikan TKA sebagai manusia merdeka seutuhnya. Pada bab tersendiri, kita harus berkaca tentang Korsel yang meladeni para TKA-nya dengan lebih baik ketimbang negara-negara timur tengah. Hal ini mempunyai efek positif dan signifikan untuk membentuk pribadi dan etos kerja unggulan bagi TKA. NOTED.

Secara kemampuan finansial jangan tanya. Dengan UMR saja, setelah dikurangi biaya kehidupan, mereka masih bisa save uang 10 juta perbulan. Kesimpulan sementara saya, setelah urusan kerja dan keuangan beres, mereka bisa dibentuk untuk menjadi the new some one or something.

Dan tentu, dengan berkaca pada kisah masuknya Islam ke Nusantara, maka kita tidak perlu underestimate kepada teman-teman TKI kita. Bila Islam tersebut bisa dibawa para pedagang, saudagar, pekerja, prajurit dan lain sebagainya, maka tidak menutup kemungkinan negara dengan mayoritas Ateis-Kristen-Budha tersebut bisa mengenal cahaya Islam.

#razmi-konsep
#peradabanTKI
#tkiKorsel


Jumat, 10 Agustus 2018
Posted by Alamin Rayyiis

Kebebasan; Dari Apa dan Bagaimana?


Darah muda identik dengan letupan-letupan emosional, agresifitas dalam bertindak dan ada kalanya disertai kisah romansa yang membubuinya. Menjadi pemuda biasanya diawali dengan masa-masa pubertas (puberty), dalam dunia psikologi, pubertas merupakan masa peralihan dari anak-anak yang, biasanya dibatasi oleh aturan-aturan tertentu oleh orang tua, menuju awal kedewasaan, dimana masa itu adalah masa ‘bebasnya’ seseorang dari aturan-aturan rigid orang tua. Oleh karena itu tidak heran bila masa pubertas seorang pemuda merupakan masa-masa yang labil dan cenderung berambisi dengan kebebasan.

# Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu mereka melahirkannya dengan merdeka? (Umar ibnu Khathab)

Sobat muda Smarteen sekalian, sebenarnya tidak ada salahnya bila kita terobsesi kepada kebebasan, karena Umar al-Faruq sendiri menyatakan bahwa kita dilahirkan oleh ibu kita dengan kebebasan dan oleh karenanya kita dilarang ‘memperbudak’, menjajah atau memekasakan kesenangan pribadi kita terhadap orang lain. Akan tetapi, yang perlu kita perhatikan adalah hakikat kebebasan itu sendiri. Dari apakah kita ingin membebaskan diri? Bagaimanakah cara kita mengekspresikan kebebasan kita?

Kebebasan manusia bila diartikan dengan sama sekali tidak terikat dengan apapun, maka tidak ada bedanya antara manusia dengan hewan. Keterikatan mendasar dari kebebasan manusia paling tidak tercermin dalam keterikatan antara ‘abid (penyembah) dengan ma’bud (yang disembah), makhluk (yang diciptakan) dengan khaliq (sang pencipta), antara manusia dengan Tuhannya. Dimana manusia mukallaf dengan syari’at dan hudud (batasan) dari Allah swt. Seperti pemenuhan kewajiban kita atas rukun iman dan rukun Islam, taat kepada orang tua, menolong sesama maupun nilai-nilai luhur keagamaan dan kemasyrakatan kita.

# Kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain


Sobat Smarteen yang dirahmati Allah, setelah menunaikan hak-hak kita sebagai hamba Allah maka saat itulah kita bisa berteriak dengan lantang ‘Yes I’m Free’. Bebas untuk memilih cita-cita kita, bebas untuk menentukan langkah hidup kita, hobi, pekerjaan maupun aktivitas lainnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kita bukanlah satu-satunya nyawa di planet bumi ini, ada milyaran manusia dan makhluk lain yang berada di planet ketiga dari tata surya kita, sehingga kita harus memperhatikan bagaimana kita mengekspresikan kebebasan kita. Kita bebas membeli motor apa saja sesuai dengan budget kita, tapi suara knalpot motor tersebut jangan sampai memekakkan telinga orang lain, kita boleh memilih tempat kongkow dimana saja, tapi pastikan bahwa orang lain juga nyaman berada di sekeliling kita.
Jumat, 23 Desember 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Boleh Berbaur, Tapi Jangan Melebur


Manusia diciptakan dengan fitrah untuk bersosial, al insanu madaniyyun bi thab’i. Sejak kecil saja kita sudah terbiasa dengan aktivitas bersama dengan teman, sebut saja mbolang atau dolan, permainan gobaksodor, dan lain sebagainya. Ketika beranjak dewasa, pemuda tentu tidak bisa dipisahkan dari dunia sosialita. Periode remaja (daurul murahaqah) merupakan ajang untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan dunia baru yang lebih luas, tapi juga lebih kompleks dari dunia anak dahulu.

Berbaur dengan orang lain tentu tidak hanya sekedar memburu predikat sosialita, gaul, atau kece semata. Tidak juga sekedar menghindari bullying teman, biar tidak dikatain gaptek, kuper, ndeso atau ungkapan diskrimintif lainnya. Berteman tidak sekedar ketemu sembarang orang kemudian mengikuti semua perilaku dan perkataan. Kalau Humood elKhudher bilang, ataqabbaluhum, annasu lastu uqalliduhum..., aku memang menemui banyak orang, tapi tidak lantas taklid buta atau membebek kepada mereka. Berinteraksi dengan orang lain harus mempunyai misi tertentu, entah mendapat input yang baik, atau sekaligus output berbagi kebaikan kita kepada orang lain.

اَلْمُؤْمِنُ اَلَّذِي يُخَالِطُ اَلنَّاسَ, وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ اَلَّذِي لَا يُخَالِطُ اَلنَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ " أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ
Seorang mukmin yang berinteraksi dengan orang lain, dan sabar dengan masalah yang ditemuinya, itu lebih baik dari seorang mukmin yang tidak berinteraksi dengan orang lain dan tidak sabar dengan masalah yang ditemuinya. (HR. Ibnu Majah)

Dari hadits di atas, Rasulullah pun memberi ruang bagi kita untuk mengenal orang lain, bergabung dengan masyarakat, berinteraksi dengan tetangga, bertemu dengan teman dan lain sebagainya. Sekalipun memang setiap kita bermuamalah dengan orang lain pasti kita akan menemukan permasalahan dan kendala. Bila yang kita temukan adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan prinsip kita, jangan takut untuk mengatakan tidak. Tapi bila yang kita temukan adalah kebaikan bagi kita, maka janganlah enggan untuk mengikutinya.


Senin, 21 November 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Si Shalih dan Si Mushlih





Si Shalih ini khusyuk di masjid memutar biji-biji tasbih, tapi ada juga Si Shalih yang berdzikir memakai ruas-ruas jari tangan, melafalkan nama-nama terbaik Allah, sambil berdzikir. Setelah itu dilanjutkan dengan tilawah al-Qur`an puluhan halaman. Setelah tilawah dilanjutkan dengan shalat dan sebagainya. Di sisi lain, ada Si Mushlih yang juga memutar biji tasbih untuk berdzikir, dilanjutkan dengan tilawah yang hanya belasan halaman saja. Setelah shalat, Si Mushlih tidak hanya berdiam diri di masjid, tapi dia keluar masjid menuju gang samping rumahnya karena ada kerja bakti. Saat kerja bakti Si Mushlih ngobrol-ngobrol dengan tetangganya, sesekali memberi lelucon edukatif dan kadang satire (nyindir). Sesekali dia berceloteh kepada tetangganya yang minum kopi panas pakai tangan kiri, “Pakdhe, itu minum pakai tangan kiri biar setannya kapok kepanasan ya... Hahahaha...”.

Si Shalih ini kalau dibahasakan di fakultas biologi kata mbak saya diistilahkan dengan Si Steril. Kalau Si Mushlih diistilahkan dengan Si Imun. Beda steril dan imun itu apa? Steril itu kondisi di mana organ tubuh kita bersih dari kuman. Kalau mun kondisi organ tubuh yang selain bersih, tapi mampu mengeluarkan antibody bila ada kuman yang menyerang. Simpelnya, steril itu sekedar bersih dari kuman, tapi kalau imun selain bersih dari kuman ia mampu untuk membasmi kuman.

Dalam beragama atau bermasyarakat, dua tipe di atas biasanya mewarnai pola kehidupan kita. Ada yang mencukupkan diri untuk menjadi seorang yang shalih bagi individunya, tapi ada juga orang mushlih yang mencoba berkontribusi memberikan ishlah untuk lingkungannya. Bahwa menjadi individu yang shalih itu sebuah kebaikan, militan dalam beribadah, totalitas dalam bersyariah dll. Tetapi kebaikan itu tidak dibatasi pada masjid dan rumah pribadi saja, kebaikan juga harus didakwahkan, direkayasa, diprogram dan dikampanyekan kepada orang lain.

Harusnya kita tidak memisahkan atau mengkonfrontasikan antara orang yang ingin memperbaiki diri sendiri dan orang yang ingin kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Justru dua sikap baik ini harus diakomodir dan disinkronkan.

Salah TV atau Salah Kita?

Beberapa waktu yang lalu ada obrolan tentang TV. Saya mulai dengan statemen bahwa TV mempunyai andil dalam mewarnai nilai sosial kita; gaya hidup berpakaian, berbahasa, belahan rambut dll. Dan diantara efek yang diberikan TV, sampai saat ini saya nilai masih dominan dengan konten negatif. Ada seorang teman yang mengomentari bahwa ungkapan di atas hanya mengkambinghitamkan tv, padahal yang salah adalah kita. Kalau tidak suka dengan tv ya tidak usah ditonton saja. Bahwa tidak usah melihat TV itu adalah hak masing-masing individu, saya juga bukan maniak televisi. Kalau dikonversikan mungkin saya melihat televisi 0-2 jam sehari. Lebih seringnya 0 jam.

Tapi bila berbicara tentang tema-tema sosial, tentu kurang bijak bila berhenti pada level ‘saya ga nonton tv kok’ atau ‘jangan nonton tv’, level individu. Bersosial adalah bagaimana kita juga punya andil dalam merekayasa konsumsi-konsumsi masyarakat kita. Bahwa kita tidak nonton konten negatif di televisi itu baik, tapi kebaikan tidak hanya berhenti sampai di situ. Termasuk kebaikan adalah bagaimana kita juga berusaha berkontribusi agar konten televisi di negara kita juga baik. Kita ingin mengapresiasi bagaiman ternyata sutradara-sutradara tertentu juga ‘berkelahi’ dengan bos-bos entertaiment, mereka berjuang agar film positiv ini tetap diputar di bioskop, mendapat rating dan akhirnya bisa memberi warna cerah bagi masyarakat kita.


Kita juga salut bagaimana kesadaran sosial di masyarakat kita membuat kesepakatan bersama agar pukul 18.00-20.00 untuk ibadah dan belajar. Lebih dari itu, kita juga bangga beberapa pihak sudah memulai chanel-chanel edukatif dan keagamaan, sehingga dunia pertelevisian kita tidak lagi didominasi dengan gosip, sinetron pacaran, perkelahian atau gaya hidup hedonisme.
Rabu, 24 Agustus 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Ramadhan, Bulan Meng-upgrade Kesucian


Semua manusia tercipta dari materi tanah dan ruh. Tanah mempunyai sifat asli kotor dan bahkan menjijikan. Sebaik apapun makhluk hidup, entah tumbuhan, binatang atau bahkan manusia ketika mata rantai pengurai terakhir akan menjadikan mereka sebagai tanah. Ya, itu semua akan membusuk menjadi tanah.

Tanah akan mempunyai potensi manfaat ketika berpadu dengan unsur air. Entah air itu datangnya dari hujan, embun atau lembap yang diterpa angin. Tapi hal itu bukanlah jaminan untuk benar-benar menjadikannya manfaat.

Ada tanah yang sama sekali tidak bisa menyerap air, sehingga ia menyebabkan banji dan bahkan tidak bisa menumbuhkan tanaman. Ada tanah yang bisa menyerap air sehingga bisa sekedar menghalau banjir, tetapi tetap tidak bisa menumbuhkan tanaman. Dan ada tanah yang bisa menyerap air sekaligus menumbuhkan tanaman. Jenis tanah ketiga inilah yang paling bermanfaat, ia bisa menghalau banjir sekaligus menumbuhkan ragam tumbuhan.

Itu adalah perumpamaan wujud manusia yang terdiri dari jasad dan ruh. Jasad kita dari tanah dan ruh kita dari Allah. Bila hidup hanya bermodal jasad atau penampakan fisik saja, niscaya kita tidak mempunyai nilai di hadapan Allah. Jasad kita harus disempurnakan dengan ruh atau jiwa yang suci.

Oleh karena itu kita harus menjaga kesucian ruh yang telah Allah berikan sejak kita diciptakan olehNya. Allah berfirman falamma sawaituhu wa nafakhtu fiihi min ruhi.. Ketika Allah telah menciptakan kerangka kita, kemudian Allah meniupkan ruh ke dalam jasad kita. Allah menggunakan kata pemilikan Aku dalam ruh, Allah mengatakan ruh-Ku. Hal ini tidak lantas dimaknai dengan al-ittihad atau manunggaling kawulo gusti ala al-Hallaj maupun Siti Jenar.
Penisbatan ruh kepada Allah merupakan karunia dan kemuliaan bagi manusia. Bahwa adanya dirinya bisa bergerak, mendengar, merasa dan berjalan merupakan kuasa Allah yang diberikan kepada manusia. Dan ruh ini sifatnya suci, putih sekaligus bening.

Dalam perjalanannya kedua materi manusia akhirnya tumbuh. Bedanya bila jasad semakin lama semakin menuju kepunahan, adapun ruh semakin lama semakin hidup menuju kedewasaan dan keabadian.

Namun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa semakin lama, ruh atau jiwa kita semakin terkotori oleh hawa nafsu. Ruh yang dulunya suci ditiupkan oleh Allah, perlahan berganti dengan tiupan dan bisikan setan. Maka di momen Ramadhan ini sebenarnya Allah membuka peluang untuk mensucikan kembali fitrah jiwa yang dahulu pernah diberikan Allah.
Ruh yang dari Allah ini akan kembali menjadi suci bila kita memahami hakikat asma dan sifat Allah. Di bulan puasa ini, kita mempunyai peluang untuk memaksimalkan perilaku atau sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah.

Pertama, Allah sebagai Dzat yang tidak makan dan minum. Maka ketika bulan puasa ini, di waktu tertentu kita juga dilarang untuk mengkonsumsi makanan maupun minuman. Kita diminta sejenak berhenti menumbuhkan jasad, tapi Allah meminta untuk menumbuhkan jiwa atau ruh kita.

Kedua, Allah sebagai Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Maka ketika puasa kita juga disunahkan untuk memberi ifthar kepada orang yang berpuasa. Dan ketika itu kita mendapat pahala yang sama dengan orang puasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Kita juga dianjurkan lebih giat lagi bersedekah dan berbagi saat Ramadhan, hal itu untuk menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam jiwa kita.

Ketiga, Allah adalah Dzat yang tidak beristri, tidak bernak dan tidak pula menganakkan. Di bulan puasa ini kita pun dilarang untuk berhubungan layaknya suami istri.

Di antara karakteristik puasa adalah, bila ibadah-ibadah lain merupakan perintah untuk melakukan sesuatu. Maka puasa adalah ibadah yang sifatnya perintah untuk meninggalkan sesuatu. Di sini Allah ingin mengajarkan keseimbangan dalam berperilaku. Ada kalanya kita melakukan sesuatu, ada kalanya kita menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Ada kalanya kita mengalah tapi ada kalanya kita melawan atau membela diri.


Karakteristik lainnya adalah, puasa merupakan perintah untuk meninggalkan sesuatu yang asasi dalam makhluk hidup; makan dan berkembang biak. Di sini Allah ingin mengajarkan bahwa ketika kita bisa meninggalkan sejenak hal-hal yang asasi, seharusnya kita bisa meninggalkan hal-hal yang memang harus ditinggalkan, yaitu sesuatu yang haram maupun makruh.
Rabu, 29 Juni 2016
Posted by Alamin Rayyiis
Tag :

Profil Saya

Foto saya
Pure soul since 181088. Detail | Knowledge | Touring | Possesif | Humble | Intuitif | Emotional -||- ITTC | al-Azhar | Islamic Party | as-Syafi'i | al-Asy'ari

Blog Archive

- Copyright © Amin Rois -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -